Sastra Tak Bisa Dibungkam

Hayatun Nisa Fahmiyati
Karya Hayatun Nisa Fahmiyati Kategori Buku
dipublikasikan 03 Februari 2016
Resensi

Resensi


Kategori Acak

409 Hak Cipta Terlindungi
Sastra Tak Bisa Dibungkam

Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan.?

Rentang waktu sejarah republik kembali dibuka pada tahun 1991. Peristiwa yang kemudian dinamai Insiden Dili 1991 itu tak pelak membawa nama Timor Timur mencuat dalam jagat konstalasi politik internasional. Konflik tak berkesudahan itu membuat situasi tak nyaman berlangsung hingga tahun 1999.

Lewat buku Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, Seno Gumira Adjidarma menceritakan asal muasal terjadinya Insiden Dili itu. Ia mencoba menjelaskan dengan detil peristiwa Dili. Bukunya ini menghadirkan pikiran dan keheranannya akan adanya penindasan masyarakat Dili yang dilakukan oleh oknum dan pembunuhan Gali oleh penembak misterius.

Kumpulan esai yang disajikan dalam buku ini sepertinya merupakan kekesalan Seno terhadap ketidakberdayaan jurnalisme dalam mengungkap fakta kekejaman bangsa ini. Seno yang juga pernah menjadi wartawan sempat merasakan sulitnya melawan periuk kekuasaan yang mendominasi kontrol pers saat itu. Bak sebuah memoar, buku ini menunjukkan banyak kejadian yang dialaminya dalam usahanya membeberkan fakta-fakta tentang peristiwa tersebut.

Sebagai korban kebijakan media tempatnya bernaung kala itu, Seno tak kemudian tiarap dengan kondisinya, melalui jalur sastra ia pun menampilkan fakta-fakta itu. Dari situlah kemudian dikenal cerpen-cerpen berjudul Jazz, Parfum, dan Insiden yang isinya menyoal peristiwa Dili itu. Seno dengan gigih menggugat peran sastra di tengah masyarakat Indonesia yang diumpamakanny ?masyarakat yang tidak membaca?. Tak sekadar mengisahkan susahnya menyatakan kebenaran di era represi pers masa orde baru dalam kasus Timor Timur, Seno juga memberi solusi bagaimana berita dapat disamarkan lewat karya sastra.

Laporan harfiah, kebenaran lapangan, kerap tak dapat diutarakan dengan semestinya dengan berbagai alasana. Mulai atas nama keselamatan, keamanan, dan stabilitas negara, hingga alasan demi kepentingan umum yang ?dangkal? otaknya. Hal-hal seperti itu bahkan masih berlaku di era keterbukaan informasi yang sering dielukan serba kebablasan seperti sekarang, hanya dengan cara yang sedikit berbeda.

Keteguhan atas prinsip yang menjadi napas utama yang menyemangati penulisnya, perlu diapresiasi dalam menghadapai zaman sekarang yang penuh kepalsusan. Semangat interasi yang menjadi nilai utama merupakan pelajaran yang bisa dipetik dalam menghadapi gelombang sejarah bangsa di masa depan.

?

?

  • view 200