Surat Cinta untuk Sang Pengantin

Hayatun Nisa Fahmiyati
Karya Hayatun Nisa Fahmiyati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Surat Cinta untuk Sang Pengantin

Wujud lain dari kasih sayang-Nya adalah ditetapkannya pernikahan sebagai hubungan yang menyempurnakan separuh agama, melanggengkan kisah romantis sepanjang hidup sebagai suami-istri dan mendorong setiap kebersamaan yang terjadi sebagai ibadah saat dijalankan dengan penuh ketaatan kepada-Nya. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

 

Indah?

Alhamdulillah senang mendengarmu akan menikah, terlebih Kamu mengabariku sebulan sebelumnya—sebelum teman-teman lainnya tau. Kamu tau Ndah, kalau di dunia ini ada dua jenis rindu. Rindu yang pertama akan membikin kita menginginkan kembali sesuatu yang pernah kita miliki, merasakan kembali hal yang pernah kita lalui, bersua kembali dengan orang-orang yang kita sayangi.

Sedangkan jenis rindu yang kedua, ia akan membikin kita merindukan sesuatu yang belum pernah kita miliki, merindukan hal-hal yang belum pernah kita lalui, dan dalam suatu waktu membikin kita merindukan seseorang yang entah siapa dan di mana dia sekarang, tapi rasa rindu jenis kedua itu awet sekali—bertahan sampai bertahun-tahun malah. Dan entah bagaimana kita mau menunggu penuh keluguan.

Apa Kamu juga merasakan jenis rindu yang kedua itu, Indah? Ah, tentu saja! Sebentar lagi rindu yang seperti dahaga itu akan terbayar, saat lelaki pilihanmu itu menggenggam tangan penghulu, mengucapkan janji atas namamu dan nama ayahmu, menggelarkan sebuah perjanjian besar dengan Allah SWT. Maka detik itu pula, Kamu akan menjadi miliknya sepenuhnya—lelaki yang bersumpah memberimu kasih sayang terbaik, pendidikan terbaik, perlindungan terbaik, dan nafkah terbaik.

Dan hari berikutnya, setiap pagi mungkin Kamu akan jatuh cinta—haha aku sok tahu ya?!. Tapi memang begitu seharusnya sepasang kekasih. Jatuh cinta di pagi hari! Menurutku pecinta paling tulus adalah orang-orang yang bisa jatuh cinta di pagi hari. Ketika manusia dengan rambut belum disisir, mulut masih bermentega, dan pipi yang cukup kusut untuk disebut ‘muka bantal’, bisa tersenyum tanpa pretensi sambil mengucap selamat pagi pada kekasihnya. Bahwa cinta bukan cuma soal ranjang dan pengantar tidur malam, bahwa cinta bukan cuma soal debar yang mengejar atau desah panjang.

Di pagi hari, matahari barangkali bisa menggantikan peran cinta untuk menghangatkan. Tapi ketentraman adalah soal lain. Maka kita pun ingat bahwa Allah telah berfirman “ Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir,” (QS. Ar-Ruum:21).      

Indah, aku sutuju sekali dengan apa yang dikatakan ustadz sekaligus penulis favoritku—Salim A Fillah. Bahwa pernikahan adalah proses saling mengenal tanpa akhir. Dalam proses saling mengenal itu, tentu ada hal yang menyenangkan ada yang tidak. Ada yang membanggakan ada yang tidak. Sehingga proses saling mengenal tanpa didahului oleh kesiapan untuk menerima hanya akan melahirkan perasaan kecewa, yang jika akan ditumpuk lama-lama maka akan sangat berbahaya.

Tapi, takwa mengusir rasa sakit di dada yang kita tunjuk dengan jari. Dan bagi orang-orang yang bertakwa maka mudah sekali hatinya menerima apa yang sudah Allah gariskan untuknya. Padamu juga Indah, semoga keberkahan itu Kamu teguk tanpa sisa, menjadi istri shalihah untuk seorang suami yang shalil. Aamiin.

Selamat menempuh hidup baru, Indah. Menjadi pasangan yang penuh kasih sepanjang hayat.

Menjalani kisah cinta seperti di dunia dongeng, ketika Kamu berujar pada suamimu “Aku mencintaimu sejak ‘pada suatu hari’ hingga ‘kita hidup bahagia selama-lamanya.”

Selamat berbuka, semoga segera dikaruniai anak yang shalih dan shalihah. Aamiin.

We do not see for those who love one another anything like marriage.

 

Sahabatmu,

Hayatun Nisa Fahmiyati

 

      

  • view 232