Sama-sama Berjuang

Hayatun Nisa Fahmiyati
Karya Hayatun Nisa Fahmiyati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 April 2016
Sama-sama Berjuang

“Jadi laki-laki itu enggak gampang,” kata mamasku suatu hari. “Enggak bisa sembarangan, enggak bisa main-main,” lanjutnya. Waktu itu, aku yang masih SMA belum mengerti maksudnya, di situ aku pun mengacuhkan pernyataannya.

Beberapa kali di dua bulan terakhir ini, banyak temanku yang menikah—teman-teman perempuanku. Hampir semuanya menikah dengan laki-laki yang umurnya terpaut jauh lebih tua dari mereka. Sebagian kita pasti masih berpikir, laki-laki itu harus mengayomi perempuannya maka jika si laki-laki lebih tua akan jauh lebih dewasa. Pun jika si laki-lakinya lebih muda, maka si perempuan berada di usia yang sudah sangat matang.

Pernyataan tersebut tidak salah, tapi pernyataan mamasku mungkin lebih bisa dijadikan alasan. Bahwa menjadi laki-laki memang tidak gampang, tidak bisa sembarangan, bukan seperti sebuah game online yang kebanyakan laki-laki suka mainkan. Mungkin itu yang setiap laki-laki rasakan, bahwa ternyata menjadi laki-laki membuatnya menyadari dan memahami memang ada pertarungan besar antara laki-laki dengan dirinya sendiri.

Semacam pertarungan harga diri mungkin. Pertarungan untuk membuatnya selalu lebih tangguh untuk berjuang. Perihal perjuangan untuk melindungi, menaungi, menyayangi, menafkahi, dan mengimami menjadi perkara yang tidak ada habisnya yang harus diperjuangkan, sampai suatu hari laki-laki menyimpulkan bahwa dirinya telah siap untuk itu semua.

Namun bagi perempuan—menyadari bahwa aku juga perempuan—kami juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Dilahirkan sebagai perempuan membuat kami dihadapkan pada dua pilihan besar—menjadi seindah-indah perhiasan atau menjadi seburuk-buruknya fitnah. Meski sebagian dari kami belum sadar akan dua pilihan besar yang dihadapkan pada kami sejak dilahirkan. Sebagian lagi malah sudah melabeli diri dalam gerakan feminis yang katanya “emansipasi wanita”.

Sejak berhijab dengan benar (inshaa Allah), aku mulai beranggapan bahwa dunia ini tidak pernah aman bagi semua perempuan yang belum menikah. Sulit sekali rasanya menjadi perempuan yang terjaga, menjadi perempuan yang merdeka di tengah hiruk pikuk dunia mode yang menyilaukan mata kami. Kata “cantik” menjadi formula paling ampuh untuk merayu perempuan memilih pilihan kedua—menjadi seburuk-buruknya fitnah.

Tak ada yang salah dengan kata cantik, karena setiap perempuan terlahir cantik. Hanya saja kata cantik yang digunakan sebagai kata kerja tanpa disadari menuntut perempuan untuk memamerkan kecantiknya. Wajah ayu menawan, bibir merah yang sensual, rambut berkilau nan indah, kulit putih mulus dan lembut, dan kecantikan fisik lainnya harus perempuan pamerkan pada dunia. Mempersilahkan mata-mata yang lemah iman menelusuri kecantikan itu.

Lalu kata “merdeka” pun disalah-artikan, merdeka masa kini diartikan “semau-mau”—lepas dari aturan Tuhan. Maka saat itulah perempuan membutuhkan pertolongan segera. Untuk menjadi merdeka—lepas dari jeratan mode, lepas dari mata-mata yang siap menerkam tanpa ampun. Dan laki-laki, di situlah dia dibutuhkan, untuk memerdekakan perempuan. Menjadikannya perhiasan paling indah di sisinya—dalam hubungan yang halal. Di situlah perjuangannya selama ini digunakan.

Dalam sebuah obrolan kecil dengan temanku yang sudah setahun menikah, ia mengatakan bahwa perempuan bisa tiba-tiba siap menikah bila ada laki-laki yang mendatanginya dalam keadaan yakin. Namun sayangnya, hal ini hampir tidak terjadi pada sebaliknya. Laki-laki tidak bisa begitu saja siap ketika mengetahui ada perempuan yang siap. Ruwetnya pertimbangan laki-laki membuatnya bimbang untuk segera memutuskan.

Bisa dibilang bahwa laki-laki itu adalah manusia yang sedang berkembang, berkembang dalam banyak sisi. Maka, laki-laki memang lebih telat menjadi dewasa daripada perempuan. Tapi hal itu tak lantas bisa menjadi alasan bagi laki-laki untuk menunda menikah. Tidakkah kita ingat bahwa Rasullulah menyeru pada umatnya untuk menyegerakan menikah. Bahwa Allah menjanjikan banyak pintu rezeki yang akan dibuka untuk mereka yang menikah.

Maka, apalagi yang ditunggu? Jadilah pahlawan yang tepat waktu, jangan jadi pahlawan kesiangan. Dan kelak, jadilah laki-laki yang pencemburu, cemburu jika kecantikan perempuanmu dilihat oleh laki-laki lain, karena cantiknya hanya milikimu seorang.

*catatan di Sabtu pagi yang mendung. Siap-siap pergi ke walimahan teman, barakallahulaka*       

 

  • view 210