Menemuimu

Nisa Haerunisa
Karya Nisa Haerunisa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 April 2017
Menemuimu

Aku menemuimu. Melewati jalan berbatu. Ditemani angin yang merambah dingin ke sekujur tubuh. Kau sudah berdiri di depan pintu. Melambaikan tangan tanda sebuah harap. Sedang hujan, ia setia menitikkan rinainya hingga di penghujung waktu. Ia seolah ingin menjadi saksi akan kedatangan seseorang. Ia semakin meminta. Menyampaikan isyarat yang tersirat hingga masuk ke dalam tulang punggungku.

Kita bertemu. Di sebuah tempat yang menyimpan seribu kenangan bagimu. Kursi klasik, buku-buku berdebu yang entah kapan kau larut membacanya, dan secangkir teh manis yang kau tuangkan di meja bulat berbunga itu menjadi sketsa rahasiamu. Kau tersenyum ramah, menyapa kabarku yang selalu kau tanyai untuk ke sekian kalinya. Aku membacai binar itu. Kau sangat berharap akan kedatanganku. Kedatangan yang entah kau harap lagi atau tidak untuk selanjutnya.

Kita bercengkrama penuh tawa, memasung hati utuk benar-benar saling menyapa. Sorot matamu menajam. Aku tahu kau menyimpan beribu cerita. Kau menyimpan tangis yang entah kepada siapa kau menumpahkannya. Aku tak akan bertanya. Biar engkau saja yang memulai.

“Aku bahagia,” katamu, “… Namun, hampa ….”, dengan sedikit terbata kau melanjutkan, pelan.

Sudah kuduga sebelumnya. Aku tahu itu terjadi padamu. Desahan nafas, wajahmu yang menyemburat tawa namun nyatanya duka, cara jalanmu yang gontai, sudah kubacai semuanya. Aku nyalakan semacam terang di ruang hatiku. Aku coba simpan untukmu di sudut terang itu.

Kau tak usah mengembalikan kenanganmu menjadi lebih baik. Cukup hanya laron-laron terbang, cicak-cicak yang setia menunggui santapannya yang menemanimu sambil kau menatap langit-langit kala itu. Jika perih yang dirasaimu, biarkanlah hatimu benar-benar merasakannya. Biarkanlah emosi itu memuncak, hingga dirimu benar-benar ada di bawah. Tak berdaya. Rapuh.

Jika telah begitu, kau akan mampu mengakui bahwa dirimu makhluk-Nya yang lemah. Tanpa daya. Tak punya apa-apa. Disanalah kita tahu akan ‘harga’ kita yang sesungguhnya. Ruh yang tak ada artinya jika yang mengisinya bukan (si)apa-apa. Pada saat itu lah kau akan memahami, betapa butuhnya sesuatu yang kuat, lebih dari segalanya.

Pada akhirnya, kau akan mencari dengan sebenar-benar pencarian. Kau mulai meyadari, makhluk mana pun akan bersandar kepada kecintaan yang sama. Yang bisa menenangkan. Yang akan membuatkan hati baru untukmu. Yang kau butuhkan saat ini dan selamanya.

Jika jawabanmu bukan Allah, maka dirimu sudah dipastikan belum selesai dengan segala kecamukmu. Jika bukan Ia yang kau temui. Kau harus lebih benar mencarinya. 

Ia akan kau temui di setiap bahagiamu, tangisan dosamu, dan perjalanan hijrahmu. Selama dalam keaadan menghimpit kau belum ridha, lalu usahamu, kembalimu, dan yang dicarimu bukan Allah, maka dirimu belum sampai pada keyakinanmu. Dirimu sendiri yang pada akhirnya bisa mengukur kadar keyakinan itu.

Hanya dengan-Nya kau akan lebih bernilai. Hanya dengan mencintai-Nya kau akan lebih tenang dari sebelumnya. Kau akan hilang. Entah kapan. Semua hal yang berkaitan dengan kiprahmu di dunia akan percuma jika jalan hidupmu tak sesuai dengan kehendak-Nya.

Selesaikan dulu urusanmu dengan-Nya. Urusan atas segala rasa yang bertengger di jiwamu. Ia selalu tahu, manusia yang ingin kembali dekat dengan-Nya.

Berbaik hatilah pada-Nya. Rayulah Ia agar selalu melindungimu dari apapun yang akan menjauhkan dari-Nya. Temui Ia. Larilah.

Kau memelukku …

  • view 98