MC yang Menikah

Nisa Haerunisa
Karya Nisa Haerunisa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2017
MC yang Menikah

“Lalu, menurut Teteh, bagaimana rumah tangga itu?”

Berat nafasku saat mata mulai terhenti di kalimat tanya itu. Pikiranku langsung memutar keras untuk menangkisnya. Menurutku tanya itu adalah jebakan dari sebuah pernyataan yang kuungkap sebelumnya.

Ia bercerita bahwa dirinya diminta untuk menjadi seorang MC di sebuah acara esok hari. Kata ‘panik’ yang terbaca disebuah personal chatt WhatsApp mengakhiri repsesentatif atas kegalauannya menghadapi sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya; menjadi MC di acara Mentari Kehidupan yang bertemakan “Pernikahan Harmonis”.

Aku mengusap tombol kembali di ponsel putihku.

Pernikahan haruslah selayaknya Nabi Muhammad Saw. dengan Khadijah Al-Kubra. Tak usah sibuk mencari sosok untuk diilhami, padahal Allah telah  hadirkan kisah teladan yang ceritanya tak habis dilekang zaman.  

Sosok yang telah selesai dengan segala perasaannya hingga ia hanya mengikhlaskan diri untuk berjibaku dalam nafas perjuangan panjang RasulNya. Tak ada perempuan yang menandingi kedudukannya. Perempuan terbaik sepanjang zaman. Ia yang mendapat salam terkasih dari Tuhannya. Khadijah binti Khuwailid.

Tak ada yang sebaik dirinya memperlakukan seorang perempuan. Menyayangi piatu bak anak kandungnya sendiri. Ia yang rela bersimbah darah dengan cacian yang tak kunjung usai hanya untuk menjalankan risalah mulia dari Tuhannya. Ia yang tabah menemani seorang buta-tua yang duduk di ujung pasar tanpa melabeli siapa dirinya. Muhammad Rasulullah Saw.

Mereka sama-sama menjadi hamba yang menyungkurkan sujud pada Tuhannya. Jiwa dan raganya sudah menumpah ruah untuk membangun peradaban umat. Khadijah tahu posisi ketika ia harus menjadi partner terhebat di samping suaminya. Ia piawai mengatur skenario ketika ia menjadi seorang pengikut RasulNya. Bahkan katanya, tak mungkin saat itu Fathimah Az-Zahra, putri kecilnya,  tahu karena mendengar rencana kafir Quraisy untuk membunuh Ayahnya, melainkan Khadijah yang menyuruhnya untuk memata-matai musuh. Perempuan yang sangat cerdik.

Menjadi seorang MC bagiku, bukan hanya sekadar membaca kata, lebih dari itu. MC adalah pertaruhan kehormatan dari seorang yang memercayainya untuk menyukseskan sebuah acara. Maka, bagi seorang MC, proses ketika ia memandu acara adalah proses “mitsaqan ghaliza” (perjanjian yang berat).

Ia harus menangkis semua ketidakmampuan dirinya untuk berdiri menjadi orang “nomor satu” saat itu. Hal-hal yang tak diinginkan sudah menghantui ia sebelumnya. Ia harus tampil prima dan maksimal untuk memberikan yang terbaik hari itu. Hari yang harus menjadi moment terindah yang tak pernah dilupakan oleh audiensnya. Ia harus mahir membahasakan tubuh agar “nyatu” dengan hadirin yang bahkan bisa jadi miss---berbeda sasaran---dengan audiens yang sebelumnya ia persiapkan sapaan dan ‘joke’nya.

Apabila dalam sebuah pernikahan seorang suami harus benar-benar menjadi imam yang menakhodai perjalanan rumah tangganya hingga ia harus siap menanggung dosa-dosa istrinya apabila ia tak berhasil mendidiknya, begitu pun dengan seorang MC, ia harus benar-benar menanggung kehormatan lembaga, instansi, sekolah, dsb. untuk sebuah tujuan yang bermuara pada kesuksesan. Ia mengharumkan nama baik mereka atau justru sebaliknya. 

“Seorang MC harus tahu akan banyak hal, walaupun ia belum pernah masuk ke dalam tema untuk kemudian memapah alur itu. Ia harus terlihat smart, eye catching, dan mempunyai ‘hati’ untuk diberikan cintanya pada audiens”.

Itulah pernyataan yang membuatku terjebak hingga harus menjawab kalimat tanya di awal. Setelah tombol kembali itu diusap, aku buka kembali membuka personal chatt wanita berkacamata minus itu. Walaupun tema pernikahan masih menjadi sketsa yang fatamorgana, tak mengapa jika sebuah retorika mengalir sebagai pengejawantahan pemahamannya yang minim akan sudut pandang hal tersebut.  

Rasanya berpelangi … berbagi pengalaman dengan orang-orang tersayang. Kedepan, akan ada wanita yang senantiasa berdiri dengan elok di setiap panggung kehormatan, yang menjadi titik kebahagiaan bersama, yang canda-tawanya mengalirkan bulir-bulir kehangatan, yang dengan senyumnya mengingatkan kita akan kemurahan Tuhan yang selalu menyelubungi karunia pada setiap yang bernyawa.                          

“Jika seseorang mengerti sebabmu melakukan sesuatu, ia akan mengarahkan untuk kemudian mendidikmu hingga kau tak pernah merasa salah akan apapun, tersebab itulah caranya untuk lebih mencintaimu”, ucapku dalam hati.

Thanks to Junior Master of Ceremony Ikatan Curhat Muslimah
_____Mega Marisa Effendy_______

 

Dilihat 86