Bensin 31

Nisa Haerunisa
Karya Nisa Haerunisa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2017
Bensin 31

Seringkali kebingungan melanda ... menyapa sebuah nalar yang tak bertepi. Bukan tentang sebuah pertanyaan yang berbobot atau ilmiah, tetapi tentang mirip sebuah keanehan yang sebetulnya tak sengaja mencari jawabannya.

Setiap kali mengendarai “Si Cantik” dengan nomor polisi Z xxxx KI, entah mengapa bensinnya selalu cepat habis. Mungkin karena merk-nya yang memang disinyalir boros, bisa jadi juga karena kondisi mesinnya yang sudah tidak bagus. Awalnya, tak mempermasalahkan semua ini. Tetapi, lama-kelamaan menjadi hal yang greget juga.

Akhir-akhir bulan di tahun lalu, saya menyempatkan pergi ke sebuah SPBU di daerah Gede Bage, pas sebelum stopan sebelah kiri. Jika sedang ‘nyantei’ bisa membeli dengan stok yang full. Dulu sempat membaca sebuah artikel yang menerangkan perbedaan bensin 31 dan 34, tetapi tak pernah dihiraukan. Lalu ada seorang teman yang memberi informasi bahwa memang ada perbedaan di antara keduanya. Bensin dengan kode SPBU xxxx31 ternyata memang lebih hemat dibandingkan dengan bensin yang dibeli dengan kode SPBU xxxx34. Ada beberapa penjelasan tentang hal ini. Tetapi, bukan menjadi sebuah hal yang perlu dibahas hemat saya.

Kemarin, entah ke berapa kalinya saya melewati pom bensin-pom bensin yang berjajar sebelum tiba di SPBU Gede Bage. Saya mengeluarkan uang sebesar Rp15.000,00 untuk membeli pertalite. Tetiba, Sang Karyawan kaget, argo yang tertera di box bensin itu sudah melebihi angka Rp15.000,00. Saya hanya tersenyum sambil berkata, “Kelebihan ya, A?” Ia segera menempelkan gagang bensing ke tempatnya semula. Ketika ingin menanyakan berapa kelebihannya kepada karyawan tersebut, ia langsung berucap, “Udah ga apa-apa, Bu?” , “Ga apa-apa”, lanjutnya meyakinkan sambal menyilakan untuk maju.

Ketika ingin menyampaikan terima kasih, saya ragu. Apakah ini keuntungan buat saya sehingga saya harus berterima kasih ataukah ini seperti simbiosis parasitisme. Dalam perjalanan ke kantor, saya terus memikirkannya.

Jika memang ini rezeki untuk saya, pasti Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua bekerja atas perintah-Nya. Bisa jadi, Allah yang membuatnya lupa, agar dalam lupa itu kita semakin tahu bahwa Allah memiliki segala cara untuk memberikan rezeki kepada siapapun. “Terjadi … maka terjadilah ia.”

Lupa bisa menjadi sesuatu yang dibenci apabila kita tak bisa menerimanya. Jika sudah seperti ini, seakan kita tak tahu bahwa manusia diciptakan dengan segala kekurangan, satu diantara kekurangan itu adalah lupa.

Belajar dari karyawan tadi, ia telah mencoba menerima akibat “lupa-nya” itu. Saya tahu, ia setengah kaget, bisa jadi ia berpikir merasa dirugikan. Tapi, ia telah berdamai, berusaha menerima kekurangannya sebagai tanda ketidaksempurnaannya. Ia tak meminta kelebihan uang dari konsumennya, meskipun wajar saja jika ia meminta.

Saya semakin tersadar akan hal ini. Allah tidak pernah lelah memberi. Ia akan selalu membersamai hamba yang meyakini-Nya. Ia sama persis dengan apa yang diprasangkai hamba-Nya. Ia, Allah, akan menyiapkan episode yang tak pernah kita tebak sebelumnya. Dengan segala kemahabesaran-Nya, kita akan lebih tunduk tanpa menyeringai apa yang ditakdirkan-Nya untuk kita.

  • view 71