Titipan Sore

Nisa Haerunisa
Karya Nisa Haerunisa Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Januari 2017
Titipan Sore

Ada yang tak biasa ketika asyik mempertemukan sepasang mata ini dengan rangkaian abjad yang membentuk kata untuk kemudian menjadi sebuah kalimat diantara paragraf yang bermakna itu. Mata minus yang seolah tak ingin berpisah dengan silindris ini, tak memakai alat pembantunya. Mungkin baginya, ia tak hanya sekedar “alat pembantu”, tapi lebih dari teman hidup yang selalu ada ketika mata tak bisa lagi dengan jernih melihat indahnya dunia. Ya, tak ubahnya seperti sepasang merpati yang tak rela ditinggal kekasihnya pergi. Baginya, ia adalah separuh jiwa. Pelengkap hidup untuk bersama menyongsong pelangi yang berwarna.

Ada yang berbeda dari penglihatan ini ketika tak memakai kaca mata. Seindah-indahnya objek tetap tak bisa dikatakan indah jika tak ditambah alat yang langsung menyampaikan cahaya ke retina itu. Terkadang jika terus dipaksakan, kepala ini akan ikut menahan sakit. Sakit yang berat pada seantro mata berujung berat memuncak pada kepala.

Ketika salah satu alat indera ini sudah tak lagi maksimal dalam menjalankan fungsi dan perannya, apakah sebelumnya ia mau seperti itu? Apakah ketika ia menyadari kondisinya yang tak lagi “lebih”, ia mundur atau ia berhenti melihat indahnya dunia?

Meski dalam meraba ia tak menemukan titik cahaya itu, tapi ia tetap bekerja sebagaimana mestinya. Ia tak menyerah meski kehilangan separuh jiwanya.

Lalu, kemanakah separuh jiwa itu?

Separuh jiwanya sudah beberapa kali mengalami ujian. Pertama, ia terjatuh sampai harus diperbaiki. Ia adalah barang berharga hingga orang pun ingin memilikinya. Suatu siang ia tak kembali. Ia pergi tanpa tahu dengan siapa. Ia sudah menjadi milik orang lain yang tak bisa kembali lagi. Dan kini, sepertinya ia ingin kembali memenarikkan diri. Penyangganya patah. Seluruh badannya tak sempurna lagi.

Meski separuh jiwanya itu sedang tak ada, tak bisa menemani, Sang Retina itu tetap menanti. Tetap membutuhkan. Walau kondisi itu tak lagi baik, bahkan hilang tak tau rimbanya, tapi tetap itu semua tak kan mengubah arti pentingnya ia di mata Sang Retina. Ia tetap akan dimaknai “Sang Penolong”, melebih “Sang Malaikat” yang dapat memperjalankan ia pada cahaya. Menuju kegemilangan sebagai tonggak awalnya indera lain bekerja. Tubuh adalah satu kesatuan yang turut merasakan efek dahsyat indera-indera itu.

Walaupun ia kembali dengan lain bentuk, Sang Retina akan tetap menerima. Tersebab, yang ia butuhkan bukan bentuk atau rupa. Tetapi, peran dan fungsinya sebagai alat pembantu penglihatan yang sangat ia butuhkan sampai kapanpun. Sampai ia menutup mata.

Jika sepasang bola mata yang tahu kekurangannya itu menyadari arti pentingnya “Sang Malaikat”, apakah kita sebagai manusia sudah tahu, kemudian menyadari betapa pentingnya cahaya Tuhan? Meski datang dengan bentuk apapun, ujian sekalipun. Semua itu tetap tak akan mengubah sadarnya kita akan butuhnya lentera itu. Sinar yang dapat menerangi sudut tergelap manusia. Pancaran yang akan membawa pada kejayaan. Mengaliri hawa-hawa sejuk pada padang pasir yang tandus. Menggerakkan nadi-nadi yang tak berdenyut. Dan mengilhami pada hati yang terlena duniawi. Cahaya diatas cahaya yang dapat memperjalankan kegelapan menuju terang benderang.

 

  • view 98