Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Januari 2018   22:35 WIB
Kabut di Lelenbala

Kabut di Lelenbala

Oleh Ningsih BL

 

Pagi ini terasa dingin, lembab, dan berangin. Rasa dingin menusuk sampai ketulang, meskipun aku sedang berada didepan tungku. Kukupas pisang rebus dan kupotong-potong. Teh manis, sepiring pisang rebus,dan sepiring jagung titi, itulah menu sarapan kami sekeluarga pagi itu.

Saat aku terbangun tadi pagi, kulihat Ema sementara titi jagung di dapur. Matanya bengkak, dan aku yakin bukan karena asap api dari jangung yang disangrai. Bukan pula karena baru bangun tidur. Hal itu pasti lebih karena pembicaraan kami berdua, tadi malam. Atau apapun yang dipikirkannya.

Lisbeth : Sudahlah Ema, biar kuteruskan saja titi jagungnya

Ema : Sudah selesai nak,” katanya singkat, sambil membersihkan wato ina dan wato anan yang tadi dipakainya untuk membuat jagung titi.

Dino : Ema., Kalau Ema belum ada uang, biar aku tidak usah sambut baru dulu..

Lisbeth : Ema, minumlah teh itu sebelum dingin. Alve dan Dino habiskan sarapanmu dan pergi angkat air. “Ema, aku sudah mempertimbangkan pembicaraan kita semalam. Aku belum bisa memutuskannya, maafkan aku Ema. Aku mohon, Ema bisa mengerti,” Ema menghapus air matanya dan memelukku.

Ema : “ iya nak, semua yang terjadi bukan semata tanggungjawabmu.

Lisbeth : Perutku mendadak terasa mual. Cepat-cepat kuambil pisau dan baskom dari dapur, menyambar sehelai kain lap besar dan bergegas ke kebun. “Bapak..” ratapku. “kalau kau masih ada tentu tidak seperti ini keadaannya,” bisikku lagi. Saat memetik sayur daun ubi, daun pepaya, dan labu jepang, air mataku tumpah.

Tadi malam Ema memanggilku. Iya mengatakan bahwa tak ada cukup uang lagi untuk sekedar makan minum sehari-hari. Gagal panen yang terjadi di pulau adonara kali ini membuat kami benar-benar runtuh sebelum waktunya, dan kemiri tidak mau berbuah. Entah penyakit apa yang menyerang pohon-pohon kami itu. Ha l itu membuat kehidupan di kampung kami benar-benar porak-poranda.

Ema : Aku mau merantau ke malaysia. Kau, Lisbeth tinggalkan sementara sekolahmu, dan jaga adik-adik Ema sudah meminjam uang untuk ongkos kapal ke malaysia.

Lisbeth : Ema, untuk hal sepenting, mengapa kau mengambil keputusan sendiri. Biar aku berhenti sekolah dan merantau. Ema yang jaga adik-adik dirumah. Atau tidak adakah jalan lain ?

Ema : “Ina...kau sudah besar. Sejak bapakmu meninggal empat tahun yang lalu,kau sendiri bisa melihat betapa berat kehidupan kita. Untuk makan sehari-hari saja Ema harus berhutang, gali lubang tutup lubang. Satu kebun sudah tergadai apalagi yang bisa kita kerahkan ?”

Lisbeth : “Lalu, bagaimana hidupku dan adik-adik sepeninggal ema ? apa yang bisa kulakukan untuk menghidupkan mereka ?”.“Ema, tetaplah disini,susah senang kita hadapi bersama.

Aku lahir dan dibesarkan di pulau adonara, tujuh belas tahun yang lalu. Pulau yang indah dengan bukit-bukitnya yang teramat subur dengan hasil bumi berlimpah seperti kelapa, kopi, coklat, kemiri dan cengkeh. Udara yang nyaman dan bersih, makanan alami yang nikmat, Ile Boleng gunung berapi yang terletak di Adonara Timur, terlihat cemerlang puncaknya dari kampungku, Lite Lelenbala.

Tetapi itu dulu tepatnya setahun yang lalu entah kenapa, tuhan menjatuhkan murkahnya ke pulau ini. Bunga coklat mengering, yang sempat menjadi buah kala di belah bijinya sudah menghitam. Kemiri tidak mau berbuah, juga kopi dan cengkeh hasilnya menurun derastis.

Listrik belum mencapai desaku,juga sinyal telekomunikasi. Untuk penerangan, kami menggunakan lampu pelita, ada juga yang menggunakan generator, namun hanya pada keluaraga yang mampu.

Ranting berderak. Kulihat Kopong, tetanggaku. Dia seorang lelaki Adonara yang kuat dan rajin bekerja. Umurnya mungkin mendekati empat puluh tahun, seorang duda dengan satu anak. Isrtinya meninggal ketika melahirkan anaknya dulu.

Samuel Igo : “Apa yang kau lakukan disini Lisbeth ?”. “ Apa masalahmu?”.

Lisbeth : “ Aku mungkin akan meninggalkan sekolahku. Merantau atau mengurus adik-adikku disini. Ema sudah memutuskan akan merantau ke malaysia.”

Samuel Igo : “ Kalau begitu tak ada masalah bukan?”. “ Larilah denganku. Kita bisa berdua bersama Lisbeth.

Lisbeth : Lama aku tertegun, bergidik. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk dilamar dalam kondisi seperti ini. Dilamar ? Saat umurku seperti ini ? Oleh seorang duda ? Dengan umur dua kali lipat dari umurku ? Pada saat aku masih seorang siswa SMA ? Bapak, dimana kau ?.

Aku bersekolah SMAN 1 Adonara Timur, yang terletak di desa Riang Bunga kecamatan Adonara Timur yang beribukota di Waiwerang. Aku tinggal menumpang pada sepupu jauh bapakku, sehingga tidak ada biaya kontrak rumah. Sepupu bapak seorang nelayan yang rumahnya unik ditepian pantai. Pantai itu memiliki namanya yang romantis, Pantai Asmara, di Wilayah Waiwerang bagian timur. Pantai berbatu yang indah, berpasir putih, dengan lambaian pohon kelapa yang mendayu-dayu, ditambah lagi dengan kerindangn pohon asam dan menteh. Sesuia namanya, suasananya memudahkan lidah-lidah yang keluh mengungkapkan perasan dari lubuk hati yang terdalam.

Samuel Igo Ama Tokan. Pantai Asmara. Dua hal yang tidak terpisahkan dan akan sangat sulit untuk aku lupakan. Kami sering berbagi tentang cita-cita dan impian untuk masa yang akan datang. Bersama, kami memikirkan hal yang akan kami lakukan setelah menyelesaikan sekolah nanti. “ Banyak program beasiswa yang akan membantu kuliah kita. Kakak sepupuku berhasil mendapatkan beasiswa penuh di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Atmajaya, Jokyakarta. Kita bisa mendapatkan informasi itu melalui internet,” kata Igo pada suatu waktu.” Kita hanya mesti berprestai di kelas dan di kegiatan di luar sekolah,” sambungnya.

Lisbeth : “ bagaimana dengan biaya dengan bulanan kita nanti?” . Tangan Igo menggenggam tanganku.

Samuel Igo : ” Lisbeth,”? ” Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Tapi aku punya impian. Kita kuliah bersama, menghadapi kesulitan bersama, mencapai sukses bersama, dan bersama untuk selamanya.”

Lisbeth : ”Aku hanya tersenyum. Aku hanya mengeratkan genggaman tanganku. Demikianpun Igo. Mimpinya. Mimpiku. Mimpi kami bersama.

Sesampai tempat tinggalku di Waiwerang, Ida teman sekamarku menyodorku sehelai amplop. Dari sekolah kepada sdr. Elisabeth Nini Laga. Isinya, bersama temanku Samuel Igo Ama Tokan, kami terpilih mewakili NTT untuk mengikuti olimpiade kimia tingkat nasional tahun 2011 di Manado, Sulawesi Utara.

Semangatku bangkit. Apapun hasilnya ditingkat nasional nanti, aku harus berusaha keras, belajar giat dalam mempersiapkan semuanya.

Bersama Igo yang datang kerumah sekitar jam tujuh, kami belajar menyelesaikan soal-soal setingkat olimpiade kimia. Juga mengidentifikasi materi-materi kimia yang masih kami rasakan lemah. Empat hari persiapan di sekolah, latihan-latihan soal, sebagian Igo mengunduhnya dari soal olimpiade kimia internasional, telah berhasil kami selesaikan.baju-bajuku sudah masuk kedalam tas. Kumasukan tiket pesawat Larantuka- Kupang kesaku celana panjang yang akan kupakai besok.

Kabar itu datang saat aku baru menaruh barang bawaanku yang sudah siap angkut di tempat tidur. Ida dan ayahnya, sepupu ayahku yang menyatakan kepadaku bahwa Ema sudah pergi dari rumah, bersama dengan kepergianku dari kampung ke Waiwerang. Ada yang mengatakan, Ema sudah pergi ke Larantuka dan naik kapal laut menuju Kenunukan. Ada yang mengatakan, Ema kawin lari dengan laki-laki dari Maumere. Ada pula yang mengatakan, Ema pergi tanpa berpesan apa pun termasuk pada adik-adikku yang sepeninggal Ema sekarang sakit di kampung.

Malam itu juga aku kembali ke kampung. Kucium adik-adikku. Kukatakan kepada mereka, semua akan baik-baik saja. Setelah mereka tertidur, Aku berjalan kaki ke rumah kopong, sekelilingku gelap gulita. Seperti hatiku. Aku mengetuk pintu rumahnya. Dia sendiri yang membuka pintu.

Lisbeth : “ Aku telah memikirkan ucapanmu. Dan sekarang ini aku datang. Apa yang aku lakukan?”.

Samuel Igo : “ Tinggallah disini jadilah istriku, ibu anaku. Nanti baru aku atur untuk mengantar witi bala pullo ke rumah.”

Jadi, beginilah aku sekarang. Tiket pesawat Larantuka-Kupang masih ada di saku celanaku. Besok pagi, pasti Igo akan menunggu di bandara Watowiti- Larantuka. Dan dia akan ke kupang tanpaku. Tidak ada olimpiade kimia. Tidak ada lagi sekolah. Tidak ada lagi impian itu. Tetapi aku tidak boleh menangis. Tinggal aku, wanita yang mencoba dewasa mengurus suami, anak tiri dan dua orang adikku. Lelenbala terasa senyap, dingin, dengan kabutnya yang serasa mulai merambati relung-relung dadaku.

Karya : Ningsih BL