Catatan Seorang Pustakawan

ningrum ning
Karya ningrum ning Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Agustus 2017
Catatan Seorang Pustakawan

Pustakawan adalah satu profesi yang tidak semua orang pilih untuk menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Saya sendiri tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menjadi pustakawan, hingga Allah menjadikan saya pustakawan sekolah. Belajar dari nol ilmu perpustakaan, klasifikasi, katalog dan pernak perniknya hanya dari bertanya, browsing, baca buku. Sedikitpun tidak memiliki ilmu perihal perpustakaan. Yang saya pegang saat awal belajar adalah saya punya mulut untuk bertanya dan tidak hanya pada satu orang namun beberapa orang. Lebih baik bertanya daripada sesat di jalan kan?hahaha...
Ngotak atik DDC (Dewey Decimal Clasification) dan membiasakan menggunakan rumusnya. Ah itu momen yang seru bagi saya. Belajar satu per satu ilmu yang sama sekali baru. Bahkan hafal beberapa kode juga setelah jalan beberapa tahun.
Namun terlepas dari segala tugas seorang pustakawan pada umumnya. Hal yang paling mendasar bahwa seorang pustakawan itu guru, bahkan pusat informasi. Tak sekedar ngurusin buku saja namun lebih dari itu. Mendidik dan mengajar juga menjadi bagian dari tugas seorang pustakawan. Dan lebih jauh lagi, bahwa semua itu di lakukan dari hati.
Terlebih lagi pustakawan sekolah. Berinteraksi dengan murid tak hanya sekedar murid meminjam buku dan sudah itu saja. Namun mendidik kedisiplinan murid untuk menghargai buku, menjaga, dan memanfaatkan buku sebaik-baiknya sebagai salah satu pusat ilmu. Bahkan seorang pustakawan harus bisa menjadi guru, orang tua, kawan bahkan sahabat. Terkadang murid curhat, dan pada situasi seperti itulah bagaimana kita di tuntut untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Sedang adakalanya mendengar itu lebih sulit daripada berbicara.
Adakalanya kita harus menerapkan kedisiplinan dengan hukuman. Namun sejauh pengalaman saya, usaha untuk menerapkan hukuman karena ketidak disiplinan itu harus mendidik bukan membuat anak takut bahkan jadi enggan ke perpustakaan. Mengajak mereka berdialog, berdiskusi dan membangun komunikasi yang sehat serta enak menjadikan anak-anak faham akan tanggung jawab dan kewajibannya.
Beberapa anak yang istimewa terkadang kelakuannya membuat kita menarik nafas panjang (duuh maaf nak, itu ternyata masuk katagori bullying yak ....). Di butuhkan kesabaran lebih untuk menanganinya. Ketika mereka membuat berantakan buku dan enggan mengembalikan ke tempat semula, saya memilih bahasa yang lebih bisa mereka terima. Contohnya saja "A sholeh, anak bageur bukunya di rapikan seperti tadi atuh, hayuk ibu bantu. Kan A sholeh... yuk... biar nanti kalau mau baca lagi, kita bisa nemuin bukunya dengan mudah...okay?" . Jangan lupa tersenyum ya. Ketika si anak sudah mengerjakan solusi yang kita berikan, jangan lupa ucapkan terimakasih dan puji dia. Insya Allah dengan keikhalasan dan kesabaran yang kita miliki, pada lain hari anak-anak akan mengerti dengan sendirinya apa yang menjadi kewajibannya dan bagaimana dia bertanghung jawab dengan buku yang dia baca.
Menjadi pustakawan itu penuh perjuangan dan tantangan. Namun terlepas dari semua itu, bahagia rasanya bisa menjadi bagian terpenting untuk jantung sekolahan ataupun bagian terpenting untuk banyak ilmu yang bermanfaat. Semua di dapat dari buku.
Tetap semangat untuk para pustakawan, walau di negri ini profesi pustakawan masih di pandang sebelah mata. Terus semangat untuk generasi yang cerdas dan berilmu secara tepat.
Mari menebar manfaat....

  • view 20