Jejak

ningrum ning
Karya ningrum ning Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 07 Mei 2016
Jejak

Kita masih meninggalkan jejak di sudut kota. Pada setiap ruang semesta dan di antara bangunan-bangunan tua. Kita menapaki setiap lorong waktu untuk menjadikan kenangan yang membisu. Kita, dua manusia yang berjalan menyusuri setiap masa dalam lingkaran bernama waktu. Bertemu, bersama hingga berpisah. Semua menjadi episode tentang perjalanan. Hati, rasa dan keputusan. Langkah itu terkadang terjal, bahkan kaki terkadang berdarah. Banyak duri tajam mengiringi setiap langkah kita. Hingga adakalanya air mata menjadi pelampiasan rasa.

Kita, dua manusia yang di pertemukan dalam ruang yang penuh hempasan. Ceracau-ceracau manusia hingga tindakan yang membabi buta. Lantas kita menjadi manusia bebal, namun bukan karena tuli melainkan kita terlalu muak dengan idealisme yang tak bisa memanusiakan manusia. Tapi semua tak ada yang sia-sia, jejak kita terlancur tercipta. Bahkan hujan tak sanggup menghapus segala rasa dan kenangan yang telah ada.

Bangunan tua masih menunggu kita kembali ke sana. Menikmati hidangan senja hingga malam berkawan rembulan yang menjadi mahkota. Di kolong langit kita bercerita tentang dunia dan segala rencana. Meyakini tentang kekuatan sang Maha Pencipta. Jika waktu menghendaki kita berhenti, ingatlah satu yang tak pernah terganti yaitu perihal kenangan dan jejak ini. Bahwa kita, pernah di sini.

  • view 98