Ketika Hati Bertahan

ningrum ning
Karya ningrum ning Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2016
Ketika Hati Bertahan

Perempuan paruh baya itu terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Matanya menerawang, pikirannya entah ke mana. Ada luka yang ia simpan sepeninggal suaminya. Seolah hidupnya tak bermakna lagi. Perempuan itu begitu mencintai suaminya yang meninggal beberapa waktu lalu karena penyakit jantung. Di pangkuannya dia menghembuskan nafas terakhir, bukan pada pelukan perempuan muda yang menjadi madunya. Walau luka hatinya begitu dalam, namun ia memilih untuk tetap berada di samping suaminya, belahan jiwa dan syurganya. Mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai perempuan bodoh, melamarkan suaminya untuk perempuan lain.

"Jika itu menjadi keinginanmu, maka aku menerimanya dengan ikhlas asalkan anak-anakku tetap kau nafkahi dan tidak kau abaikan", pinta perempuan itu kepada suaminya.

Malam itu hujan turun dengan derasnya, suaranya riuh hingga mengaburkan isak dari balik bilik. Dia tumpah, menahan sesak yang teramat karena cintanya. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya, dia akan menjadi perempuan yang membagi cintanya untuk perempuan lain. Semenjak kejadian itu, kondisi kesehatannya menurun. Mungkin begitu banyak yang ia pendam dan tak mampu ia ungkapkan. Namun ia memilih bertahan demi anak-anaknya. Waktu terus berjalan, seadil-adilnya lelaki tetap saja keadilan itu tak mampu dilakukan. Masih ada hati yang tersakiti, masih ada air mata yang berderai pada malam yang sunyi. Tak sering, pukulan mendarat di tubuhknya hanya karena kecemburuan atau kesalahan kecil. Lelaki itu, tak hanya melukai hatinya yang lembut namun terkadang secara fisik juga dia lakukan. Sifat temperamennya mengalahkan segala kenangan tentang bagaimana ia memulai dengan perempuan itu. Dulu, mereka di pertemukan dalam sebuah kesempatan yang sudah menjadi sekenario Tuhan. Rasa itu hadir dan menyatukan mereka dalam ikatan yang suci di hadapan Tuhan. Walau tertatih mereka berjalan untuk memperbaiki perekonomian, namun kasih sayang dan selalu bersama menjadi penguat mereka untuk bertahan.

Tuhan mempunyai cara sendiri dalam menyayangi hambaNya. Semua sudah sesuai dengan kemampuannya, sesuai dengan kapasitasnya. Mungkin episode pahit itupun cara Tuhan mencintai perempuan itu. Kini, usianya mulai senja, hanya bersama gadis bungsunya ia menghabiskan sisa hidupnya. Terbaring tak berdaya dan hilanglah semangat hidup yang nampak dari sorot matanya. Ia tumbang, seperti tanpa harap dan hanya sedikit asa yang tersisa untuk putri kesayangannya.

"Nak, kalau Ibu meninggal, kau dengan siapa?". Ucap perempuan itu hingga membuat gadis kesayangannya tumpah.

"Ibu akan sehat, jadi Ibu jangan berpikir yang macam-macam", pinta gadis itu kepada Ibunya.

Hingga tiba hari itu. Pada siang yang terik, tak ada angin dan kicauan burung yang biasa berkicau bersahut-sahutan. Alam menjadi sepi, seolah semesta mengantarkan sebuah episode akhir seorang perempuan tegar. Ia telah pulang bersama bisikan gadis kesayangannya "Ibu aku ikhlas".

Tuhan memintanya kembali, bertemu cinta sejatinya. Meninggalkan segala kepedihan dunia dan harap yang terkadang menjadi sia-sia. Melepaskan segala pernak pernik dunia yang membuatnya jatuh bangun untuk bertahan. Dan pusara itu basah akan air hujan semalam. Gadis itu masih termangu di depan pusara, rindunya membuancah. Perjuangannya melepas gelar dan kesempatannya, hanya untuk syurganya. Semua akan baik-baik saja, karena Tuhan tak pernah lupa tentang anak yatim piatu yang selalu Dia cintai dan akan selalu membersamai.

 

  • view 69