Cerpen Perempuan Berwajah Sendu

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2017
Cerpen Perempuan Berwajah Sendu

Karya: Atika Cahya N.

            Entah mengapa aku lebih suka melihat perempuan berwajah sendu itu. Sorot matanya menyimpan banyak keluh kesah. Langkahnya selalu terburu-buru. Perempuan itu jarang memerhatikan sekitar jika ia sedang berjalan. Ia kadang melangkah dengan menunduk, kadang menatap kosong ke depan. Hanya jika ada seorang menyapa, baru ia akan peduli. Itupun hanya membalas dengan senyum.

            Perempuan itu meski berwajah sendu, namun masih terihat muda. Bahkan awet muda. Mungkin seusia kakak perempuanku yang sudah menikah dan punya anak. Aku selalu memerhatikan jika melihatnya di kampus. Ia berbeda dengan perempuan lain yang sudah menikah dan mempunyai dua anak. Tubuhnya masih ramping meski tidak terlalu tinggi. Gaya berpakainnya selalu modis tetapi tidak norak.

            Ketika sedang mengajar, perempuan itu sangat cakap menyampaikan materi kuliah. Retorikanya berkualitas. Pantas saja program studiku mengangkatnya menjadi ketua. Namun setelah ia diberi pangkat, waktu untuk mengajar mahasiswa jadi berkurang. Perempuan itu jarang masuk. Ia pasti sedang sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai ketua program studi.

            Meski begitu aku tetap suka. Perempuan seperti itu tentu bukan perempuan yang manja dan suka menghambur-hamburkan waktu dan uang. Ia pasti sibuk menyusun jadwal agar tidak jadi berantakan. Meski lebih banyak waktu mengajar yang menjadi korban. Perempuan seperti itu kurasa adalah perempuan yang mandiri, tangguh, pekerja keras, dan terlebih lagi ia awet muda.

            Aku sering dipanggil ke ruangannya. Dimintai bantuan untuk menyerahkan file materi kuliah kepada teman-teman jika ia tidak bisa mengajar dan bantuan untuk memperbaiki komputer jinjingnya jika sedang bermasalah. Tidak repot bagiku jika dimintai bantuan seperti itu. Jujur saja, aku kagum pada perempuan berwajah sendu itu.

            Sebulan terakhir, tersiar kabar buruk mengenai perempuan berwajah sendu itu. Mungkinkah kabar ini adalah alasan mengapa perempuan itu berwajah sendu? Aku menduga seperti itu. Tapi ini jelas masih kabar simpang siur. Belum pasti. Aku juga tidak mudah percaya sebelum aku mendengar sendiri dari mulut perempuan berwajah sendu itu.

            Dari ruang dosen, kabar itu menyebar ke telinga mahasiswa. Aku juga mendengarnya dari mereka. Bahkan hal itu menjadi topik utama obrolan di ruang dosen dan mahasiswa. Aku menyanggah setiap kali ada teman yang mengajak mengobrol tentang kabar buruk itu.

            “Kemarin, Bu Nayla cerita sendiri di kelas. Serius deh. Kalau nggak percaya, tanya saja ke teman-teman yang lain,” ujar temanku, Santi.

            Aku tak menanggapi lagi. Jika yang dibawa sudah kata teman-teman, aku mulai sedikit percaya. Tapi bagaimana untuk membuktikan kebenaran itu?

            Siang ini yang akhirnya menjawab rasa tidak percayaku. Telepon genggamku berdering. Bu Nayla memintaku untuk ke ruangannya. Aku bergegas meninggalkan perpustakaan universitas dan menuju ke ruangan perempuan berwajah sendu itu.

            Aku mengetuk pintu. Satu menit, dua menit tidak ada jawaban dari dalam. Aku mengetuk pintu lagi. Kali ini sedikit kencang. Dan terdengar suara dari dalam—tampaknya suara sehabis menangis, “Masuk!” pintanya dari dalam.

            Setelah di persilakan duduk, Bu Nayla seperti kebingungan mencari sesuatu. Aku bersimpati menanyakan dan mungkin aku bisa membantu.

            “Sebentar, ya,” jawabnya sambil terus mencari sesuatu di tumpukan buku yang terletak di meja satunya.

            Ruangan khusus ketua program studi ini tidak terlalu besar. Mungkin hanya tiga kali tiga meter. Di dalamnya terdapat kursi dan meja tempat Bu Nayla bekerja. Ada sebuah sofa kecil berwarna cokelat merapat ke dinding. Di pojok ruangan juga terdapat meja kecil tempat buku-buku yang sekarang sedang diubrak-abrik oleh Bu Nayla.

            Saat Bu Nayla sedang sibuk, aku tidak sengaja melihat sebuah map yang terbuka. Isinya sebuah lembaran. Lembaran yang menjawab rasa ketidakpercayaanku. Aku membaca deretan katanya meski kata-kata itu terbalik dari arahku. Kueja berulang kali untuk meyakinkan penglihatanku. Ternyata benar, lembaran itu akta perceraian.

            Aku langsung kembali ke posisi dudukku saat Bu Nayla sudah menemukan apa yang ia cari.

            “Maaf membuat menunggu. Ini print out materi kuliah untuk perkuliahan jam dua nanti. Tolong diperbanyak dan dibagikan ke teman-teman yang lain.” ujarnya tanpa basa-basi.

            “Bu Nayla tidak bisa mengajar lagi? Minggu lalu, Ibu juga tidak mengajar,” tanyaku sesopan mungkin.

            “Iya. Saya minta maaf. Tapi saya yakin, mahasiswa saya mempunyai waktu yang lebih banyak daripada saya untuk belajar sendiri,” ujar Bu Nayla lalu tersenyum tipis.

            Aku mengangguk dan membalas senyumnya. Tetapi aku malah enggan mohon undur diri. Aku justru masih memikirkan kebenaran yang baru saja aku lihat sendiri. Aku tertegun di ruangan itu.

            “Denis?” Bu Nayla melambaikan tangan ke arah wajahku. Membuatku tersadar. Aku segera mohon undur diri.

            Benar sudah kabar buruk itu. Entah kenapa rasa kagumku jadi berkurang. Perempuan berwajah sendu itu ternyata benar-benar menyimpan keluh kesah. Ia selama ini berjalan tegar di hadapan dosen lain dan mahasiswanya. Tetapi nyatanya ia tetaplah seorang perempuan yang tak bisa menyembunyikan perasaan terlalu lama.

            Ketika aku masuk ke ruangannya tadi, perempuan itu sehabis menangis. Suaranya sedikit serak. Aku sangat yakin, perceraian itu bukanlah kehendak hatinya. Ia terpaksa melakukan keputusan itu. Kedua anaknya yang masih kecil yang menjadi pertimbangannya.

            Bu Nayla memang perempuan yang mandiri, tangguh, dan pekerja keras. Ia tipe wanita karier. Kariernya di atas segalanya. Termasuk rumah tangganya sendiri. Suaminya seorang tentara. Ia hidup di tengah-tengah masyarakat biasa. Setiap pulang malam, selalu ada saja gunjingan dari tetangga. Mertuanya juga sering menasihati agar ia lebih mengutamakan keluarga dibanding pekerjaannya. Tetapi aku tahu, itu tidak mudah.

            Semua kabar dari teman-temanku telah menyertai kebenaran yang kulihat sendiri. Perempuan berwajah sendu itu tetaplah manusia biasa. Ia bisa tangguh, setangguh karang di lautan dalam. Tetapi juga bisa rapuh, serapuh ranting pohon yang sangat mudah dipatahkan. Bu Nayla terpaksa memilih jalan itu. Ia tidak sanggup menghadapi gunjingan-gunjingan. Hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan perempuan berwajah sendu itu pasca perceraian.

            Meski rasa kagumku telah berkurang, tetapi itu tidak menghilangkan rasa hormatku kepadanya. Bagiku, ia tetap sosok perempuan berwajah sendu yang tangguh. Perempuan yang mampu menyembunyikan keluh kesahnya.

            Bu Nayla resmi bercerai dari suaminya. Kudengar, kedua anaknya diasuh oleh kedua orangtua Bu Nayla jika ia sedang sibuk bekerja. Aku juga sedikit lega karena sekarang Bu Nayla terlihat lebih bersemangat meski wajahnya masih terlihat sendu.

            Setahun berlalu, kudengar sebuah kabar lagi tentang Bu Nayla. Kebebasan Bu Nayla setelah bercerai—selain mengurus anak, membuat semangat belajarnya memuncak. Sebentar lagi Bu Nayla akan melanjutkan S3 ke luar kota. Kedua orangtuanya mengizinkan dan bersedia untuk mengasuh kedua anak Bu Nayla.

            Tanpa adanya Bu Nayla di kampus, rasanya hambar. Karena menurutku juga teman-temanku, Bu Nayla adalah dosen perempuan yang paling cantik dan awet muda dibanding dosen perempuan lain. Meski ia memiliki wajah sendu, tetapi jika tersenyum atau tertawa, kecantikannya akan bertambah beratus-ratus persen. Sungguh memesona.

            Seiring berjalannya waktu—setelah Bu Nayla memutuskan untuk melanjutkan S3, tak terasa kuliahku hampir selesai. Sekarang, aku sedang sibuk-sibuknya menuntaskan skripsi. Belasan buku hampir kubaca semua untuk mencari refrensi. Hingga diri ini begitu suntuk. Aku memutuskan untuk ikut ajakan teman pergi ke kafe.

            Kafe yang kami kunjungi tidak terlalu ramai. Ada tempat lesehannya juga. Kami memilih tempat itu. Malam ini memang waktu yang tepat untuk menyegarkan pikiran. Saat aku menyandarkan kepala ke tembok, aku mendengar teman-temanku berbisik.

            “Kalian bisik-bisik apa sih?” selidikku. Ketiga temanku yang terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki langsung menyahut, “Ssstttt!”

            Aku langsung menoleh ke arah yang ditunjuk teman-teman. Di bawah penerangan kafe yang tidak terlalu terang, aku melihat sosok itu. Perempuan berwajah sendu itu sedang bercanda gurau dengan kedua temannya. Seperti tidak peduli dengan sekitar. Aku tak mengalihkan pendangan. Dan entah kenapa, aku segera berdiri dan menghampiri perempuan berwajah sendu itu. Teman-temanku heran dan berusaha mencegahku, tetapi aku terus melangkah.

            Aku telah tiba di meja perempuan berwajah sendu itu. Tetapi mulutku serasa terkunci.

            “Denis? Kamu Denis kan?” tebak perempuan berwajah sendu itu.

            Aku refleks mengangguk. Anggukan yang terbata-bata.

            Aku tidak akan lagi menyebutnya ‘perempuan berwajah sendu’. Lihatlah, wajahnya justru terlihat riang. Sama sekali hilang rasa sedihnya dulu. Bu Nayla amat berbeda. Gayanya semakin modis. Ia kini lebih sering tertawa terbahak-bahak. Mungkin inilah yang terjadi jika seorang perempuan telah bangkit dari rasa sedihnya. Aku tak lagi menjumpai wajah sendu dalam dirinya. Aku mohon undur diri setelah menyapanya. Rasanya tak mau berlama-lama berdiri di hadapannya. Ia jelas telah berbeda. Bukan lagi perempuan berwajah sendu yang kukagumi dulu.

 

Tamat

Banyuwangi, 10-01-2015

  • view 101