Cerpen Bunga dan Surat Perpisahan

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2017
Cerpen Bunga dan Surat Perpisahan

Karya: Atika Cahya Ningrum

            Perempuan itu sedang duduk di sebuah kursi taman kampus. Ia termenung. Terlihat jelas. Ada guratan kesedihan di wajahnya. Wajah cantik dan anggun yang dibalut jilbab merah itu sedang murung. Ia rasakan cuaca hari itu mendung. Padahal, angin berhembus pelan membelainya. Matahari pagi pun menaunginya. Suasana damai di kampus yang masih belum padat oleh mahasiswa tidak ia pedulikan. Hatinya begitu kalut. Ia mempunyai masalah yang membuat mimpinya surut.

            Di dekatnya, ada setangkai mawar merah yang hampir layu dan sepucuk surat. Ia memandangi kedua benda itu. Hatinya seperti diiris ketika ia teringat bagaimana bunga dan surat itu ada padanya. Lalu, ia kembali terbayang tentang masalah yang menimpanya. Perasaannya semakin kacau.

            Lima hari yang lalu, ia sempat bertengkar dengan kedua orang tuanya. Kisah cintanya mendadak tidak mendapat restu oleh kedua orang tuanya. Hatinya remuk. Hingga ia terpuruk. Ia sangat kecewa pada ayah dan ibunya. Kisah cintanya yang telah berjalan selama tiga tahun harus kandas. Padahal, ia dan kekasihnya telah mempersiapkan segalanya untuk pesta pernikahan mereka nanti.

            “Kamu harus memutuskan hubunganmu dengan Faisal, Maya!” kata ayahnya tegas sambil memandang lekat-lekat wajah putri semata wayangnya.

            Maya hanya diam dan menunduk.

            “Benar apa kata Ayahmu, Nak. Lebih baik kamu putuskan hubunganmu. Karena ini pilihan terbaik. Carilah laki-laki lain yang tidak bermasalah dengan keluarga kita,” ucap ibunya lembut.

            “Masalah? Siapa yang bermasalah dengan keluarga kita Bu? Ini terjadi karena kesalahan Ibu dan Ayah kan? Maya dan Faisal nggak tahu apa-apa. Lalu, mengapa hubungan kami yang harus jadi korban?” kata Maya sambil memandang wajah ayah dan ibunya bergantian. Ia sedikit emosi.

               “Tapi, Nak...” kata ayahnya.

             “Ibu dan Ayah kan tahu kalau hubungan Maya dan Faisal sudah berjalan tiga tahun. Kami juga sudah punya rencana untuk menikah setelah lulus kuliah nanti. Dan sekarang harus berakhir begitu saja? Nggak mudah Bu, Yah. Nggak mudah membuang semua kenangan antara aku dan Faisal,” Maya memotong perkataan ayahnya. Suaranya sedikit serak.

             “Kami tahu bagaimana perasaanmu, Nak. Maafkan kami yang terlambat memberitahumu,” ucap ibunya.

              Maya memalingkan muka. Air matanya mulai membanjiri wajahnya.

            “Percayalah. Ini yang terbaik untuk kamu dan Faisal,” ayahnya meyakinkan.

             Maya bangkit lalu masuk ke kamarnya. Hatinya masih pilu. Sakit seperti diiris sembilu.

             Sebenarnya, hati ayah dan ibunya tak tega. Dari awal mereka telah merestui hubungan Maya dan Faisal. Namun, ada satu sebab Maya dan Faisal harus berpisah. Ini hanya karena waktu begitu terlambat memberitahu sehingga penyesalan menghampiri ayah dan ibu Maya. Ibunya terus memberi pengertian dari hati ke hati. Meyakinkan Maya bahwa ini adalah pilihan terbaik.

          Faisal datang ke rumah Maya setelah kemarin Maya bertengkar dengan kedua orang tuanya. Faisal datang atas permintaan Maya. Ketika Maya membukakan pintu rumahnya untuk Faisal, Faisal melihat wajah Maya berkabut. Ia menduga, Maya kesal padanya karena beberapa hari tidak memberi kabar.

            Permintaan maaf dan rayuan telah dilontarkan Faisal. Maya hanya tersenyum sesaat. Lalu, wajahnya kembali berkabut.

       “Aku sudah meminta maaf dan aku sudah merayumu. Lalu, mengapa wajahmu masih cemberut? Ada hal lain yang membuatmu jadi begini?” tanya Faisal.

            Maya hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa.

          “Maya, jawablah. Jangan diam saja,” Faisal sedikit mendesak.

           Maya tetap diam.

          “Sayang, dengar. Apapun kesalahanku, aku minta maaf. Tolong jangan diam begitu.”

           Maya tetap diam. Namun air matanya menetes.

          “Kamu mengapa menangis? Maya, bicaralah!”

          “Faisal,” panggil ayah Maya yang tiba-tiba hadir di ruang tamu.

           Faisal bangkit lalu menyalami ayah Maya. Wajah ayah Maya tampak ramah.

         “Lebih baik kamu pulang saja. Besok hari minggu datanglah bersama orang tuamu. Ada yang ingin saya sampaikan,” ucap ayah Maya.

          “Tapi Maya...” Faisal masih heran dengan sikap Maya. Ia sangat khawatir.

          “Tidak usah khawatir. Maya baik-baik saja,” kata ayah Maya menenangkan.

          “Baiklah, Om. Saya permisi dulu,” pamit Faisal.

         Maya tetap diam dengan air mata yang semakin deras. Bertemu dengan Faisal justru membuat hatinya semakin pilu. Ia masih sulit untuk melupakan Faisal. Ayahnya hanya diam memerhatikan lalu meninggalkan Maya yang masih meratapi nasibnya di ruang tamu.

           Besoknya, Faisal datang bersama orang tuanya. Wajah Faisal begitu cerah. Ia mantap melangkahkan kaki masuk ke rumah Maya. Kedatangannya bersama orang tuanya disambut ramah oleh ayah dan ibu Maya. Namun, Maya masih memperlihatkan wajah murung. Hanya sesekali ia tersenyum.

         Pada awalnya mereka semua berbasa-basi. Lalu tibalah ayah Maya berbicara hal yang serius. Ayah Maya menjelaskan tentang hubungan Maya dan Faisal yang harus diakhiri. Kedua orang tua Faisal sangat menyesal setelah mendengar penjelasan ayah Maya. Mereka lupa bahwa dulu ayah dan ibu Maya pernah menjadi tetangga mereka dan Maya pernah meminum air susu ibu Faisal. Akhirnya Faisal tahu mengapa ada kabut di wajah Maya. Hatinya juga ikut diiris.

          “Seandainya kita semua tahu dari awal... saya yakin tak akan begini jadinya,” ucap ibu Faisal menyesal.

         “Tapi, apapun yang terjadi, kita harus tetap mempertahankan silaturahmi. Karena Maya dan Faisal sudah menjadi saudara. Saya yakin Nak Faisal pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Maya,” ucap ayah Maya.

          “Saya juga yakin Maya akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Faisal,” kata ibu Faisal.

         “Kamu boleh main-main ke rumah kami, Nak. Anggap saja rumah kami adalah rumahmu sendiri dan anggap saja kami ini juga orang tuamu. Kamu kan dulu pernah minum air susu ibu, Nak. Darah ibu sudah mengalir dengan darahmu,” lanjut ibu Faisal sambil merangkul Maya. Ia memang duduk di sebelah ibu Faisal.

          Maya hanya diam dan mencoba tersenyum. Ada getir yang dirasakan Maya dan Faisal. Mereka saling berpandangan lalu kembali menunduk.

          “Maaf, izinkan saya untuk berbicara sedikit,” kata Faisal.

       “Sejujurnya, saya sangat kaget dan kecewa ketika saya tahu hal ini. Bahwa saya dan Maya adalah saudara sepersusuan. Memang waktu begitu terlambat memberitahu kita semua. Saya juga menyesal karena selalu menunda waktu untuk memperkenalkan Maya pada Ayah dan Ibu saya. Tapi, semua ini sudah telanjur. Mungkin dengan begini, saya bisa lebih mengenal Maya dan menyayanginya. Sekarang, saya akan mencoba untuk ikhlas. Saya siap jadi saudaranya Maya. Itu berarti hidup saya lengkap. Saya punya kakak laki-laki dan adik perempuan,” tutur Faisal.

         “Nah Maya, Faisal sudah berkata seperti itu. Kamu juga harus ikhlas menjadi saudaranya. Sekarang, kamu punya kakak yang pasti akan selalu menyayangimu,” ucap ibu Maya tersenyum.

           Maya tersenyum. Namun sesungguhnya, hatinya masih belum menerima. Karena ia sangat mencintai Faisal. Perbincangan antara dua keluarga itu pun berakhir. Keluarga Faisal berpamitan pulang. Faisal melihat Maya yang masih berkabut. Ia sangat tahu bahwa saudara barunya itu masih sangat mencintainya. Begitupun ia.

          Menjelang sore, Maya menerima setangkai bunga mawar merah dan sepucuk surat dari orang yang tidak ia kenal. Maya yakin, bahwa orang yang mengantar adalah orang suruhan Faisal. Ia lalu duduk dan membaca surat itu di teras rumahnya.

            Dalam suratnya, Faisal menulis, “Maya, engkau tetap bunga yang bersemi di hati meski nanti diri ini ada yang memiliki. Maya, engkau adalah kenanganku yang tak pernah ingin aku hanguskan. Bersamamu, aku menjadi lebih baik dan aku bisa menjadi diriku sendiri. Maya, engkau adalah tempat persinggahan terbaik. Engkau adalah maya, sesuatu yang selalu kuangan dan kuingin namun tidak akan pernah bisa aku dapatkan. Takdir tidak berpihak pada kita. Namun, biarkanlah mawar merah dan surat ini menjadi saksi perpisahan kita, Maya.”

            Angin berhembus membelai wajahnya yang anggun. Ia tersenyum sambil menangis. Tidak jauh dari tempat Maya duduk, Faisal memerhatikan. Ia berdiri mematung, memandangi Maya yang sedang menciumi bunga mawar yang telah layu. Suasana kampus mulai padat oleh mahasiswa. Maya terus saja menciumi bunga mawar yang telah layu. Ia rasakan kehadiran Faisal di dekatnya, di hatinya.

 

-Tamat-

Jember, 20-08-2015

  • view 126