CINTAKU TERKUBUR DALAM GENDONGAN

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 November 2016
CINTAKU TERKUBUR DALAM GENDONGAN

Hujan meneduhkan setiap hati yang dirundung gelisah. Rintik-rintiknya mampu menyembunyikan air mata yang tertumpah. Bau khasnya dirindukan oleh setiap makhluk yang kekeringan. Suaranya bagai harmonika alam yang mencairkan kebisuan. Namun pada kenyataanya, mereka malah menggunakan payung dan mantel ketika hujan turun. Membuat hujan yang katanya dicintai itu mental sebelum sampai menyentuh ubun-ubun. Membuat hujan yang katanya ditunggu-tunggu itu gagal memeluk tubuh. Mereka malah terburu-buru berteduh atau masuk ke dalam rumah dan membiarkan hujan sendiri dalam sunyi.

Andai saja aku mampu, aku pasti akan menari-nari di antara rinai hujan. Aku pasti akan menikmati setiap tetes hujan merasuk ke dalam pori-pori tubuhku. Tak perlu menghiraukan larangan siapapun. Namun jika sudah melihat kondisi tubuhku, aku tersadar, aku tak mungkin mampu melakukan semua hal itu. Untuk berdiri tegak dan berjalan pun aku harus menggunakan tongkat penyangga. Kecelakaan menimpaku ketika masih memakai seragam putih biru empat tahun lalu telah membuatku cacat permanen.

Sekarang ini aku sudah kelas 3 SMA. Sudah saatnya mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional yang tinggal menghitung beberapa bulan saja. Hari minggu pun bisa menjadi hari untuk belajar. Namun, aku sudah tak tahan melihat hujan di luar sana sendirian. Aku pun melangkah keluar kamar dengan menggunakan tongkat penyangga tubuhku. Kulihat Ibu tertidur pulas di kamarnya. Dengan hati-hati aku membuka pintu depan rumah dan melangkah keluar.

Aku hanya duduk di teras rumah sambil menikmati hujan tanpa bisa menyentuhnya. Aku takut jika ketahuan Ibu. Ketika duduk di teras sambil memandang hujan, aku melihat sosok laki-laki yang berdiri menatapku dari kejauhan. Tanpa aku sadari, laki-laki itu sudah berada di dekatku. Dengan basah kuyup dia duduk di sampingku. Memperhatikanku sejenak lalu mengatakan sesuatu,

“Hujan itu bukan hanya dipandangi saja tetapi dinikmati setiap rinainya.”

“Kamu siapa?” tanyaku heran.

“Perkenalkan, aku Bayu Aditiya. Panggil saja Bayu. Nama kamu siapa?” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Aku Andini Sanjaya. Panggil saja Andini.” Kataku sambil membalas uluran tangannya.

“Lalu, kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu bukan warga sini kan?” lanjutku.

“Aku memang bukan warga sini. Tadi aku dari rumah teman. Ketika aku pulang, aku kehujanan dan motorku mogok di dekat pohon jambu depan rumah tetanggamu itu. Lalu, aku tak sengaja melihatmu termenung di teras sambil memandangi hujan. Aku penasaran, untuk apa kamu hanya termenung memandang hujan? Apa tak ada keinginan darimu untuk pergi keluar sana menikmati setiap rinainya?” lanjutnya.

Aku terdiam sesaat, lalu kujawab sesuai dengan apa yang bergumuruh dalam hatiku.

“Aku selalu ingin setiap kali hujan turun bisa keluar rumah dan menikmatinya. Tapi tak mungkin kulakukan. Ibuku melarangnya. Dan aku pun cacat. Aku tak bisa berlarian di antara rinai hujan yang turun.”

Laki-laki yang bernama Bayu itu mengerti kemudian dia diam sesaat. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, dia menarik tanganku.

“Ayolah, kita nikmati hujan bersama-sama.” Ajaknya.

“Aku cacat Bayu. Berdiri saja aku tak bisa.” Sesalku.

Lalu, Bayu membantuku untuk berdiri. Dan dengan sigap dia langsung menggendongku di punggungnya dan membawaku berlari menerobos hujan. Dia mengajakku berkeliling tanpa lelah. Dia banyak bercerita tentang kisahnya yang menyukai hujan. Bayu juga bercerita bahwa dia bekerja di sebuah pabrik tekstil. Bayu sudah lulus SMK dua tahun lalu.      

Aku merasa sudah terlalu lama aku dan Bayu menghabiskan waktu untuk menikmati sentuhan hujan. Aku mulai khawatir jika Ibu bangun dan tahu bahwa putrinya pergi entah kemana.

“Bayu, sudah ya main hujannya. Kita pulang saja. Aku khawatir Ibuku bangun dan tahu kalau aku tak ada di rumah.” Pintaku yang masih digendong Bayu.

“Baiklah. Tapi kamu harus janji, setiap turun hujan kamu harus mau aku ajak menikmati hujan seperti sekarang ini.” Pintanya.

“Tapi….”

“Tidak ada tapi-tapian. Kamu harus mau. Kalau nggak, kita akan tetap menikmati hujan ini sampai reda.” Ancamnya.

“Kok begitu? Emm, baiklah aku janji.”

“Bener ya?”

 “Iya. Sekarang anterin aku pulang.”

Aku sampai di rumah dengan basah kuyup. Dengan hati-hati aku membuka pintu rumah dan mengendap-ngendap masuk ke kamar. Untunglah, nampaknya Ibu masih tertidur pulas. Aku langsung mengganti baju basahku.

Setiap hujan datang menyapa, aku selalu mencuri waktu untuk pergi bersama Bayu. Dia mengajariku banyak hal tentang hujan dan juga tentang cinta. Bagaimana tidak, dia selalu menggendongku, membawa tubuhku mengitari rinai hujan. Aku merasa ada hawa cinta menyelinap di ruang hatiku yang sekian lama kosong.

Awan hitam menyelimuti langit yang tadinya cerah. Dan benar saja, awan hitam itu menumpahkan isinya ke bumi. Hujan telah jatuh ketika aku pulang sekolah. Memang jika musim hujan begini, kapanpun juga bisa turun hujan. Aku harus menunggu hujan reda di pintu gerbang sekolah yang beratap. Jika aku tetap nekat pulang, maka Ibu pasti marah melihat aku basah kuyup. Ketika aku bosan menunggu, tiba-tiba datang seseorang.

“Mau aku gendong nggak?” kata seseorang itu yang tak lain adalah Bayu.

Aku senang dia tiba-tiba datang menawarkan sesuatu yang kusuka.

“Aku mau, tapi kalau aku pulang dengan basah kuyup, Ibu bisa marah.” Jawabku menyesal.

“Sudahlah, Ibumu nggak akan marah kok. Aku jamin. Biar nanti aku yang ngomong sendiri dengan Ibumu.”

“Tapi….”

“Ayolah Andini. Percaya sama aku.”

Aku pun menuruti permintaan Bayu. Aku digendongnya sambil kubawa tongkat penyanggaku. Dia membawaku berlari menerobos derasnya hujan. Aku merasakan hawa cinta datang lagi dan semakin kuat. Kulihat teman-temanku menyaksikan kami dengan pandangan heran.

 Hujan mulai mereda ketika aku dan Bayu sampai di rumahku. Ketika aku bercakap-cakap dengan Bayu, Ibu muncul dengan raut wajah memerah.

“Andini, kenapa kamu sama laki-laki ini? Dan kenapa seragam kamu basah? Kamu habis hujan-hujanan ya?” Ibu memburuku dengan banyak pertanyaan.

“Ibu kenal dengan Bayu?” tanyaku heran.

“Sudahlah! Kamu cepat masuk rumah dan ganti baju!” suruh Ibu.

“Tapi Bu, Ibu belum menjawab pertanyaan Andini.”

“Andini! Kamu jangan membantah ya!” nada bicara Ibu mulai menaik.

Aku pun menurut dan masuk ke rumah meninggalkan Bayu di luar. Sebelum aku masuk ke dalam rumah, aku sempat mendengar Ibu memarahi Bayu seolah-olah Ibu seperti mengenalnya.

Ibu seperti menyembunyikan sesuatu dariku ketika aku mencoba bertanya kembali tentang kejadian tadi. Namun, wajah Ibu kembali memerah jika aku mengungkitnya. Aku tetap memaksa Ibu untuk menceritakan sesuatu yang disembunyikannya.

“Daripada kamu mengurusi Bayu yang nggak jelas arah hidupnya, lebih baik kamu belajar buat ujian nanti. Bukankah tinggal tiga bulan lagi?”

“Tapi Bu, Andini tak akan tenang belajar sebelum Ibu belum menceritakan hal yang sebenarnya. Ayolah Bu, jangan membuat Andini penasaran.” Paksaku.

Ibu diam sesaat. Seperti mengumpulkan tenaga untuk mengutarakan sesuatu yang mungkin selama ini Ibu pendam.

“Dia itu anaknya Lastri. Janda genit yang merebut Ayahmu dari kita.”

Kulihat mata bening ibu berair. Wajahnya pun mengkerut. Seperti telah mengeluarkan racun yang sekian lama dikubur dalam-dalam.

“Ibu tahu Andini, cepat atau lambat kamu pasti akan tahu masalah ini. Ibu tidak merahasiakannya darimu. Ibu hanya tidak ingin membuka luka lama. Ibu sudah ikhlaskan Ayahmu bersama janda itu.” Lanjut Ibu dengan mata tetap berair.

“Maafkan Andini ya Bu. Ini semua salah Andini. Seharusnya Andini tidak terpengaruh ajakan Bayu.” Mataku mulai buram.

“Tapi Bu. Selama Andini bersama Bayu, Andini seperti merasakan sesuatu yang belum pernah Andini rasakan. Dan Andini berpikir kalau perasaan Andini ini adalah cinta, Bu.”

“Sungguh hal wajar kalau kamu merasakan hal semacam itu. Tapi jangan dengan Bayu kamu berikan cintamu. Ibu tidak rela jika melihatmu bersamanya.”

Pembicaraan itu berakhir sunyi. Diam telah membekukan hatiku dan hati Ibu. Aku tak bisa jika harus mencintai laki-laki lain. Hatiku sudah tertawan oleh Bayu. Nuansa hujan yang aku lalui bersamanya membuat hatiku telah bersemi setelah sekian lama usang dan berdebu.

Aku terfokus pada ujian yang tinggal menghitung hari. Aku abaikan semua permasalahanku termasuk mengabaikan Bayu yang tidak pernah aku jumpai lagi setelah dia dibentak oleh Ibu. Aku bertekad akan mencari Bayu setelah ujian selesai. Semoga masih ada ruang di hatinya untuk aku tinggali.

Seperti tekadku yang telah terikrar sebelum ujian yang lalu. Kini setelah aku selesai berjuang selama empat hari, aku benar-benar akan mencari Bayu. Dengan tongkat penyangga, aku memberanikan keluar rumah menembus padang kerinduan demi berjumpa dengan kekasih tambatan hati. Meski di antara aku dan Bayu tak pernah bersuara tentang cinta masing-masing. Ataukah hanya aku yang punya perasaan ini.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun dengan segala upaya, aku menemukan alamat tempat tinggal Bayu yang kudapat dari teman kerjanya. Ketika aku sampai di rumah Bayu, yang kulihat hanyalah rumah bekas kebakaran. Aku bertanya pada salah satu warga. Katanya, sebelum kebakaran, rumah itu sudah ditinggal penghuninya. Aku benar-benar menyesal tidak mencari Bayu lebih awal. Tapi untunglah, aku mendapat informasi tentang keberadaan Bayu sekarang.

Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu. Aku pun sampai di rumah Bayu. Kuketuk pintu rumahnya. Lalu, keluar seorang wanita paruh baya. Wajahnya nampak kusut. Ia memandangku dengan pandangan heran. Setelah aku jelaskan siapa aku, wanita paruh baya itu malah menangis seperti menyesali sesuatu.

“Aku adalah orang yang paling berdosa di dunia ini. Sekarang, aku telah mendapat adzabNya. Aku adalah istri Ayahmu, Andini. Akulah wanita yang tega merebut Ayahmu dari Ibumu.”

“Sudahlah Bu, itu semua adalah masa lalu. Saya sudah memaafkan kesalahan Ibu. Dan, saya yakin Ibu saya juga pasti telah memaafkan kesalahan Ibu.”

“Emm Bu, sebenarnya saya datang ke sini ingin bertemu dengan Bayu. Apa Bayunya ada?” lanjutku.

“Ada Nak, mari Ibu antar kamu ke Bayu sekarang. Tapi Ibu siap-siap dulu ya.”

Aku dan Ibu Lastri sampai di sebuah pemakaman. Aku heran, mengapa aku diajak ke tempat seperti ini.

“Ini Bayu Nak.” Katanya ketika kami sampai pada salah satu makam yang masih nampak baru.

Keherananku berubah menjadi mendung yang siap menurunkan hujan di mataku.

“Nak, Bayu adalah anak Ibu satu-satunya. Meski dia bukan anak Ayahmu tapi Ayahmu juga sangat sayang sama dia. Dia anak yang punya semangat hidup yang tinggi. Tapi sayang, Bayu memiliki penyakit jantung sejak dia SMP. Hingga akhirnya dia harus pergi meninggalkan Ibu.”

Air mataku dan air mata Bu Lastri sama-sama membasahi tanah kuburan Bayu. Aku tak percaya secepat ini aku kehilangan Bayu. Padahal belum sempat aku mengabarkan padanya tentang cinta yang kupunya.

“Lalu, Ayahmu meninggal karena kecelakaan tiga hari setelah Bayu meninggal. Di samping makam Bayu itu adalah makam Ayahmu. Kau tentu tahu Nak, tubuhku kurus, wajahku tak pernah kuurus. Itu semua karena aku kehilangan mereka. Kini aku hidup sendiri di sisa hidupku.”

“Tapi, sebelum Bayu pergi, dia sempat menulis surat untuk kamu, Andini. Jika kamu tak datang ke sini, mungkin surat itu akan melapuk karena Ibu tak tau harus menitipkan pada siapa.” Ibu Lastri menyerahkan sepucuk surat padaku.

Kubaca pelan isi surat itu. Air mata tak kuasa kutahan. Semua kenangan yang dulu kulewati bersama Bayu, kini telah ikut terkubur bersama jasadnya. Di dalam suratnya, Bayu menuliskan bahwa dia mencintaiku ketika baru kali pertama mengenalku. Dia persembahkan hujan untukku. Dia rela bolos kerja demi menghabiskan hujan bersamaku. Dia juga berpesan padaku, “Andini, jika kamu rindu akan gendonganku. Datanglah pada hujan. Buat hatimu menyatu dengan rinainya. Tutup matamu dan sebut namaku ketika ubun-ubunmu dikecup hujan. Maka, aku pasti akan datang menemuimu. Menghangatkan cintamu dengan cintaku meski kita berada dalam alam yang berbeda. Aku mencintaimu seperti hujan yang tulus mencintai bumi.”

 Banyuwangi, 30-08-2015

  • view 246