Janur Kuning

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
Janur Kuning

       Satu per satu kenangan itu mencabik-cabik nurani. Tak kuasa kutahan setiap kenangan berlompatan dalam selaput otakku. Hingga mengalir dalam aliran darah. Segala cara kucoba untuk menghapusnya, tapi selalu lengket dalam bayangku. Memang percuma membuang atau bahkan memusnahkan semua kenangan itu. Kenangan yang kini menghancurkan kewarasanku. Pasrah bila kenangan-kenangan itu muncul menyerbu akal sehatku.

      Aku dan dia yang membuat kenangan-kenangan pahit dan manis itu. Bertahun-tahun aku meraciknya untuk kuhidangkan suatu saat nanti. Namun, semuanya kandas, semuanya tinggal kepingan-kepingan. Mungkin hanya aku yang mengingat dan menyimpannya dengan rapi. Sedang dia, kuyakin sudah amnesia mendadak. Prasangkaku benar, tindakannya sudah menggeliatkan jika dia telah lama melupakan kenangan itu.

        Ya, kenangan masa-masa masih berseragam putih biru hingga putih abu-abu. Bukankah itu sudah bertahun-tahun lamanya? Tapi aku tak pernah merasa rasa ini kedaluwarsa untuknya. Masih tetap bersemi, merekah seperti saat pertama kali aku mengenalnya. Kesalahanku adalah, aku tak pernah mengutarakan rasa itu. Hanya bisa kupendam dalam-dalam hingga aku tak kuasa menahan rasa yang memenuhi rongga dadaku. Lidahku selalu kelu, mulutku selalu terkunci, dan aku pun tak bisa memberi isyarat apapun padanya. Hanya perhatian dan janjiku bahwa aku selalu ada untuknya.

        Suara temanku berpendapat, “Tak apa Danish, sebelum janur kuning melengkung kau masih bisa memilikinya. Kau pun juga bisa merebutnya dari kekasihnya.” Lalu aku mulai berpikir, berarti setelah janur kuning melengkung, aku tak punya kesempatan untuk memilikinya. Begitukah takdir yang berjalan selama ini? Aku tak tahu pasti. Tapi aku akan mencoba merebut kembali dirinya, menciptakan kenangan-kenangan baru yang tentunya akan lebih indah.

       Sampai detik ini aku masih mencoba mendekatinya, mencuri perhatiannya, dan menjanjikan bahwa aku selalu ada untuknya. Untunglah, kekasihnya termasuk orang yang sibuk. Maklum, kekasihnya sudah lulus kuliah dan bekerja, sedangkan dia masih kuliah semester 4. Namun yang menjadi ketakutanku adalah, jika nanti kekasihnya datang melamar maka aku telah kalah. Dan untuk sekarang, aku harus berupaya untuk mendapatkan dia kembali.

     Waktu terus berjalan. Aku dan dia mulai meneruskan kenangan yang telah lalu. Meski aku belum mampu mengungkapkan sebuah rasa yang telah tinggal dalam dada. Aku bahagia, selalu ada untuknya itu sudah membantuku melupakan sejenak kemelut yang membelitku. Sederhana, hanya melihat senyum dan tawanya dalam sehari itu sudah mampu membanjiri batinku.

       “Kau tak seperti dia,” katanya padaku saat kami sedang makan di sebuah kafe.

    “Kau selalu punya waktu untukku. Sedang dia, selalu sibuk dengan dunianya. Yang aku butuhkan adalah seseorang yang selalu ada untukku. Seseorang yang menyerahkan waktunya untukku. Memang terkesan egois. Tapi bukankah cinta seperti itu? Iya kan, Danish?” lanjutnya.

     Aku hanya tersenyum. Dalam hatiku, aku mengiyakan apa yang dikatakan olehnya. Dan setiap kenangan-kenangan mulai tercipta lagi hingga kami mendapat gelar sarjana. Namun, aku masih membisu tentang rasa yang berkecamuk dalam dadaku.

    Kini, waktu mulai memusuhiku. Waktu tak lagi sejalan dengan keinginanku. Sebuah kabar yang menghancurkan kewarasanku lagi. Dia yang kudambakan telah dilamar oleh kekasihnya. Dan bulan depan tanggal 11 Maret adalah upacara sakral yang dinantikan oleh pasangan itu.

    Janur kuning telah melengkung di depan rumahnya. Pertanda takdir mulai turut berperan. Yang bisa kulakukan hanya pasrah. Namun yang membuatku heran, ketika aku melihatnya di pelaminan, dia tak menghiasi bibirnya dengan senyuman bahagia. Yang kulihat justru raut wajah lesu. Jika tersenyum pun seperti dipaksa. Aneh. Mengapa dia seperti itu?

       Aku mulai berusaha lagi menghapus kenangan-kenangan bersamanya. Meski sukar dan aku tak menemukan titik keajaiban dalam hidupku, aku wajib melupakannya. Semua tentangnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga dia dan suaminya selalu bahagia dan semoga aku pun bahagia meski bukan dengannya.

       Bulan mulai berganti dengan tahun. Kudengar sebuah kabar yang aku tak tahu bagaimana menanggapinya. Haruskah sedih atau bahagia. Dia yang kini masih kuikat dalam kenangan kudengar telah bercerai dengan suaminya. Entah apa sebabnya dan sebab itu yang ingin kutanyakan padanya.

    “Mungkin aku belum bercerita padamu, Danish. Aku dengannya itu hanyalah sebuah perjodohan. Dari awal aku sudah menolak, tapi keluargaku memaksa. Dengan susah payah aku mencoba menerimanya di hidupku. Pelan-pelan aku mulai tertarik padanya. Dan ketika kami menikah, sikapnya yang sebenarnya mulai bermunculan. Baru bulan pertama saja dia sudah berkata kasar padaku. Dan terakhir kali sebelum perceraian itu dia tertangkap basah olehku sedang berduaan bersama wanita lain di kamar kami. Istri mana yang tidak sakit hati melihat kejadian itu? Tanpa pikir panjang aku langsung meminta cerai meski aku harus mendapat perlakuan fisik darinya. Keluargaku menyesal telah menjodohkanku dengan laki-laki biadab itu,” tangisnya pecah.

        “Aku turut prihatin dengan kejadian yang menimpamu, Nazwa. Aku menyesal tak bisa melakukan apapun untukmu.”

   “Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Kau luangkan waktumu untukku. Dan jika aku boleh bertanya, aku ingin menanyakan sesuatu hal yang penting padamu.”

       “Apa itu, Nazwa?”

       “Kita sudah lama saling kenal. Sudah dari SMP kan? Lalu, tidak adakah rasa dalam hatimu untukku?”

       “Menurutmu, jika seseorang sudah sekian lama dekat dengan orang lain itu tidak mempunyai rasa?”

       Aku mengumpulkan seluruh daya yang kupunya untuk mengutarakan sesuatu yang teramat sesakkan dadaku.

    “Mungkin kau tak pernah merasakan ada sebuah rasa yang menyelinap. Pelan namun pasti. Dan aku merasakan itu ketika bersamamu. Sejak dulu, dulu ketika kita baru saling mengenal. Sekian lama aku memendamnya hingga membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa itu pun masih aku simpan. Karena kenangan-kenangan yang kita lalui tak mudah aku lupakan. Rasa itu masih bersemi dan merekah. Rasa ini tulus hanya untukmu, Nazwa.”

     “Kau tahu, Danish. Kita ini dua hati yang tak pernah bisa ungkapkan rasa yang sama. Kita selalu terdiam membisu. Dan kini kita pun tak mampu lagi untuk memendamnya terlalu lama. Sudah saatnya rasa itu diutarakan. Sudah saatnya kita memulai kenangan baru yang sudah sekian tahun menunggu. Kau pun juga tahu saat hari pernikahanku. Aku duduk di pelaminan tanpa tersenyum. Saat itu hatiku berada di tempat lain. Hatiku berada di ruang hatimu. Meski sempat rasaku mampir untuk mantan suamiku.”

     “Saat itu aku tak bisa menerka mengapa senyummu datar ketika hari pernikahanmu. Kini, aku tahu sebabnya. Dan apa yang kau katakan barusan itu benar, Nazwa. Bahwa kini sudah saatnya kita memulai kenangan baru yang sudah sekian tahun menunggu. Mungkin, ini terlalu cepat buatmu. Tapi aku tak mau menundanya lagi. Aku mau kau menjadi selimutku ketika dingin membekukan tubuhku. Aku mau kau temani masaku kini hingga tua nanti. Maukah kau menikah denganku?”

   Dengan sebuah senyuman, dia menganggukkan kepala. Pelan namun pasti. Mataku pun memancarkan kebahagiaan yang merekah dari dalam hatiku. Tak henti mengucap syukur karena pada akhirnya aku bisa bersanding dengan gadis dambaanku.

    Perihal takdir hanya ada di tangan Tuhan. Meskipun janur kuning telah melengkung, seseorang masih punya kesempatan. Janur kuning hanyalah sebuah simbol dan budaya di masyarakat untuk sebuah ikatan yang akan berlangsung, yakni pernikahan.


Jember, 03-05-2014

Cerpen ini pernah diterbitkan koran JAWA POS Radar Banyuwangi pada tanggal 5  Juli 2015

  • view 467