Dalam Setiap Lembar Jilid

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
Dalam Setiap Lembar Jilid

        Jalan setapak menuntun langkah kecilnya menuju tempat yang selalu ia rindukan. Binar matanya penuh kesungguhan. Kali ini ia akan menemukan hal baru di tempat yang sama. Tempat yang bagi sebagian orang kurang dipedulikan. Tapi baginya, tempat itu sangat berharga. Separuh dari dirinya berada di tempat itu.

        Sehabis menjajakan koran dan mengamen, ia tak pernah bosan untuk singgah ke tempat sederhana itu. Untunglah, pemilik tempat berbaik hati padanya untuk mengizinkannya singgah melepas lelah. Dari tempat itu ia bisa mengenal dunia hanya dengan kata-kata dan gambar yang tercetak jelas dalam berbagai jilid. Halaman demi halaman ia lahap dengan rasa penasarannya. Sampai waktu pun memaksanya untuk kembali ke tempat tinggalnya.

***

        Ada rasa iri ketika ia melihat barisan anak berseragam putih merah melintas di depannya. Lelehan air matanya menjadi obat kepiluan. Ia ingin bergabung dan bersenandung bersama mereka. Namun sayang, waktu belum memberinya kesempatan. Ibunya masih kesusahan mencari kerja ke sana kemari. Ditambah ayahnya yang lumpuh membuatnya harus rela melepas cita-citanya. Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah ketika masih kelas 2 sekolah dasar. Setelah berhenti sekolah, ia mengamen dan menjajakan koran. Ketika ia mengantar koran ke tempat sederhana yang kini menjadi tempat singgahnya, matanya tertarik pada tumpukan buku bersampul warna-warni. Ia kemudian membuka dan membaca buku. Sampai sekarang ia tak pernah merasa bosan untuk datang dan membuka lembar demi lembar.

        Ia mengusap rasa iri itu. Pikirnya, tak perlu seragam untuk menimba ilmu, hanya dengan banyak membaca, seseorang yang awalnya tak tahu menjadi tahu. Begitulah ia menghibur dirinya sendiri. Ia pun beruntung, pemilik tempat yang bernama Pak Rahmadi dengan senang hati membantunya mempelajari ilmu. Tak perlu waktu lama, otaknya yang encer membuatnya mudah mempelajari ilmu yang ia dapatkan dari berbagai lembar jilid buku.

        Suatu sore, datang seorang pemuda yang hendak mencari beberapa buku. Pemuda itu mengamati anak kecil usia sembilan tahunan berpakaian lusuh yang sedang asik membaca. Diam-diam pemuda itu kagum pada bocah itu.

        Ketika pemuda itu sedang mengamati bocah yang berpakaian lusuh, Pak Rahmadi mendekat dan berkata, “Namanya, Arif. Dia sering ke sini. Biasanya sehabis jualan koran dan mengamen, dia pasti menyempatkan diri membaca di sini. Menurut saya, dia itu bocah yang hebat, Pak. Meskipun dia putus sekolah, dia tidak putus harapan. Dia selalu belajar, menimba ilmu walau tanpa seragam,”

       “Saya melihat kesungguhan dalam diri Arif, Pak. Saya ingin sekali membantu membiayai sekolahnya. Karena saya yakin, anak seperti Arif inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan,” ucap pemuda itu penuh keyakinan.

       Tahun-tahun berganti dengan cepatnya. Sebuah langkah menyusuri jalan setapak. Pohon-pohon rindang masih rapi berbaris menyambut senyumnya. Langkahnya diikuti sekian banyak anak kecil. Mereka gembira, orang kebanggaan desa telah datang.

     Langkahnya terhenti pada suatu tempat. Tempat yang dulu sering dijamahnya dengan rasa penasaran di setiap lembar jilidnya. Ia memutarkan pandangan ke sekeliling. Tempat ini masih sama, hanya lebih indah dan rapi dari yang dulu.

        “Adakah buku yang ingin kamu pinjam, Nak?” laki-laki tua menawarinya.

      “Bukan saya Pak. Tapi mereka, anak-anak generasi penerus bangsa,” ucap Arif pada Pak Rahmadi, laki-laki tua yang sangat menghargainya.

      Dalam setiap lembar jilid, Arif bersenandung bersama mereka. Merengkuh ilmu, menggenggam dunia. Ia pun tersenyum pada Pak Rahmadi. Kebaikan laki-laki tua itu telah membantunya membuka pintu cita-citanya yang dulu pernah ia gantungkan.

 

Jember, 27-04-2014

           

 

  • view 143