Liang Penyesalan

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
Liang Penyesalan

          Wajah laki-laki yang berdiri tidak jauh dariku tampak cemas. Dia terus memerhatikanku. Tapi dia pasti memiliki niat yang sama seperti laki-laki lainnya di tempat ini. Kuputuskan untuk menghampiri, menawarkan diri. Penerangan di tempat ini memang hanya sebuah lampu gantung. Berputar dan cahaya warna-warninya memantul ke seluruh dinding. Aku baru menyadari siapa laki-laki yang terus mengarahkan pandangan kepadaku ketika telah tiba persis di hadapannya.

            “Mas Eko? Wah tumben sekali mampir kesini,” godaku.

            Dia menjawab dengan wajah yang masih sama cemasnya, tapi suaranya terlalu pelan. Kalah dengan dentuman musik. Aku lantas menggandeng tangannya dan mengajaknya ke tempat yang tidak bermusik.

            Aku tahu dia sama seperti laki-laki lain. Maka kuajak dia ke tempat biasa aku menghabiskan malam. Mas Eko laki-laki yang naif. Tapi ketika aku menyuguhkan tubuhku yang tanpa sehelai benang, dia mendadak beringas. Luntur wajah cemasnya tadi. 

      Pagi datang dengan cepat. Aku menguap dan mengusap kedua mataku. Kulihat laki-laki yang semalam tidur nyenyak bersamaku sedang duduk di tepi ranjang dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Kudengar seperti sedang menangis.

        Kupikir dia menyesali perbuatannya bersamaku. Karena Mas Eko yang selama ini kukenal, dia memang orang yang naif. Aku berinisiatif menenangkannya. Kurasa, baru kali ini aku mendapat kawan tidur yang menyesal telah tidur denganku.

            “Tidak! Jangan sentuh aku!” bentaknya. Wajahnya merah padam.

            “Kenapa Mas? Tidak apa-apa kok. Aku janji tidak akan memberi tahu istrimu,” ujarku.

            Mas Eko terdiam beberapa menit. Aku menunggu dengan kesal.

         “Kau memang wanita iblis! Sukanya menjerat orang agar ikutan dosa. Aku menyesal menyanggupi permintaan ibumu untuk menjemputmu,” ujar Mas Eko. Dia berdiri memandangku tanpa senyuman. Tubuhnya yang semalam telanjang telah dia bungkus dengan pakaiannya.

            Aku geram mendengar seruannya barusan. Dia bilang aku wanita iblis.

            “Kalau aku wanita iblis, sekarang pun kau juga laki-laki iblis. Wajah naif tapi kalau dikasih dada dan paha wanita tidak bisa menolak. Dasar laki-laki iblis! Siapa suruh kau mau menuruti permintaan ibuku?”

           “Aku menuruti permintaan ibumu karena adikmu sedang sekarat. Sekarang aku benar-benar menyesal,” ujarnya lalu keluar kamar.

          Aku mendengus kesal. Kenapa aku masih saja tidak bisa lepas dari mereka. Kenapa  ibu selalu mengusikku. Aku sudah tidak peduli lagi pada mereka. Aku memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan mereka. Kehidupan keluarga yang hanya berisi kebencian.

      Tiga hari kemudian. Seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku. Aku menduga pasti orang suruhan ibu lagi. Dan benarlah dugaanku. Pak RT dan istrinya—yang masih saudara ibu—mendatangiku. Niat mereka sama seperti Mas Eko kemarin. Hanya saja aku tidak bisa menyuguhkan tubuh telanjangku lagi. Aku segera menolak permintaan mereka. Biarlah adikku sakit atau meninggal. Itu bukan urusanku lagi. Aku lantas mengusir mereka.

         Kebencianku kembali menguap jika ingatan tentang mereka tidak sengaja lewat. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi tempat menetaskan benci. Kebencian ini bermula karena ayah tidak terima dengan kondisi adik ketigaku. Ayah malu mengakui anaknya yang cacat. Ibu memohon agar ayah tidak berubah. Tapi hati ayah terlanjur keras. Dia sering memarahi si bungsu tanpa alasan. Ibu tentu membela anaknya. Ibu berbalik memarahi ayah. Dan jadilah mereka bertengkar.

            Kemarahan mereka tidak cukup sekali dua kali. Tapi hampir setiap hari. Pada mulanya aku mampu bersabar, menahan diri, dan menenangkan ketiga adikku. Tapi itu tidak lama. Hatiku makin hari makin benci. Aku memutuskan pergi dari rumah setelah lulus SMA. Dan sekarang aku sudah terlanjur menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang.

            Tidak ada yang tahu pekerjaanku. Aku menghilang dari mereka semua. Tapi anehnya ibu tahu dimana keberadaanku dan menyuruh orang lain menjemputku. Aku menolak. Kalau ibu masih ingin aku pulang, kenapa tidak dia sendiri yang menjemputku.

            Ingatan tentang mereka segera kutepis. Sekarang saatnya aku memoles diri, memuaskan nafsu para lelaki hidung belang malam nanti.

***

           Untunglah, malam ini tidak ada lagi orang suruhan ibu untuk menjemputku. Teman-temanku yang lain sudah mendapatkan mangsa mereka. Tinggal aku yang masih celingukan mencari mangsa-ku. Tumben malam ini sepi pengunjung. Padahal bayaran yang kami tuntut tidak terlalu banyak.

        Saat itu, saat sedang mencari mangsa yang sesuai seleraku—tidak terlalu tua, keren, dan kelihatan berduit—aku menangkap sosok wanita yang tidak asing. Wanita itu terlihat canggung saat laki-laki menyentuh tubuhnya. Aku lantas menghampiri wanita itu.

       Aku kaget, tidak percaya. Wanita itu menoleh padaku saat aku telah berada di hadapannya. Dia kemudian menunduk. Aku sangat mengenali siapa wanita itu. Tanpa pikir panjang, aku menarik tangannya.

          “Kenapa kamu melacur?” tanyaku.

          “Karena kakak juga melacur,” jawabnya sambil menunduk.

       Wanita ini memang adikku. Dia tampak beda sekarang. Dandanannya telah berubah. Dua tahun lebih aku tidak bertemu dengannya dan sekarang aku menemukannya sedang melacur.

      Aku dan adikku tidak jadi melayani siapapun malam ini. Kami justru berbincang di rumah kontrakanku. Aku mendengar keluh kesahnya. Sejak aku meninggalkan rumah, ayah tidak pernah berubah seperti dulu lagi. Dia semakin liar. Sering tidak pulang. Kalau pun pulang hanya marah-marah. Kedua adikku tersiksa karena ulah ayah dan ibu. Kecuali si bungsu. Dia tentu tidak tahu apa-apa. Sebab dia cacat mental dan fisik.

      Adik sulungku ini mendengar pembicaraan ibu dengan Mas Eko. Dia kemudian tahu bahwa aku melacur. Adikku memutuskan pergi dari rumah dan berniat tinggal bersamaku. Bekerja sepertiku. Sedangkan adikku yang nomor dua tengah sekarat di rumah sakit. Dia sakit tifus. Ibu siang malam menungguinya. 

            “Pulanglah! Temani ibu menjaga Laras. Kau juga harus menjaga Lusi, kan? Biarlah kakak saja yang melacur. Kamu jangan,” bujukku.

            Dia menggeleng, “Aku ingin ikut kakak saja. Aku juga benci sama ayah dan ibu. Aku tidak tahan tinggal di rumah. Biarlah aku ikut melacur bersama kakak.”

            “Kau tahu, Lestari. Aku sangat berharap ketiga adikku tidak menjalani kehidupan yang sama denganku. Biarlah aku yang menanggung dosa keluarga kita. Aku tidak ingin kalian juga terjerumus,” keluhku.

            Lestari tidak menjawab apapun lagi. Tapi aku mengizinkannya tinggal bersamaku tanpa ikut bekerja sepertiku.

            Seminggu berlalu...

            Pak RT dan istrinya datang lagi ke rumah kontrakanku. Mereka mengabarkan bahwa adikku, Laras telah meninggal. Kami diminta melayat juga menemui ibu. Aku sedih tapi menolak permintaan mereka. Hanya Lestari yang ikut Pak RT dan istrinya ke makam Laras.

            Semenjak Laras meninggal, tidak ada yang berubah dariku. Aku tetap melacur seperti biasanya. Dan adik sulungku tetap tinggal bersamaku. Bencinya masih bersisa pada ayah dan ibu. Dia tidak ingin tinggal di rumah lama kami.

          Aku tahu, tidak seharusnya berbuat seperti ini. Aku anak sulung seharusnya bisa mengayomi ketiga adikku. Tapi benci sudah menguasaiku. Entah sampai pada batas apa aku akan berhenti dan mulai memaafkan perbuatan orangtuaku.

        Malam kembali datang. Aku sudah bersiap menyambut para lelaki hidung belang. Tapi beberapa menit sebelum aku memasuki kamar bersama mangsa-ku, tanganku ditarik oleh seseorang. Orang itu lantas menamparku, keras sekali. Sampai tepi bibirku berdarah. Dia lalu marah-marah, menumpahkan kekesalannya.

            Orang itu istrinya Mas Eko. Dia telah tahu bahwa suaminya pernah tidur denganku. Aku terdiam, tidak membalas. Malah bersembunyi di balik badan laki-laki yang akan kuajak tidur.

            “Dasar pelacur! Dasar wanita murahan! Wanita iblis!” katanya memakiku. Dia beranjak ingin menjambak atau mungkin mencakarku. Tapi kemudian muncikariku datang dan menyelamatkanku dari keganasan wanita itu. Aku mengeluh tertahan. Dadaku sesak, hatiku sakit.

         Kejadian itu cepat sekali. Tapi aku tidak bisa melupakan. Besok malamnya aku jadi enggan melayani para lelaki hidung belang lagi. Aku memutuskan untuk berhenti sementara sampai ingatan akan kejadian itu bisa aku lupakan.

           Kabar buruk datang lagi lima hari kemudian. Ibuku masuk rumah sakit karena ditabrak orang. Aku terpaksa menjenguknya atas desakan Lestari.

            Tiba di rumah sakit, aku mendapati tubuh ibu penuh luka memar. Kepala, tangan dan kaki kirinya diperban. Tubuh ibu juga kurus dan wajahnya kuyu. Aku jadi kasihan melihat kondisi ibu yang parah. Ada si bungsu yang duduk di kursi roda. Pak RT dan istrinya juga menunggui ibu. Dan tiba-tiba saja air mataku menetes. Kurasa hatiku mulai luluh.

            Ibu meminta bicara padaku dan Lestari. Pak RT dan istrinya keluar ruangan. Aku mendekati tubuh ibu. Air mata yang terus mengalir berusaha kuusap.

            “Luna, Lestari, kalian apa kabar?” lirih ibu. “Ibu ingin bicara sama kalian sebelum Ibu pergi,” imbuh ibu.

            Aku tidak mampu menjawab. Begitu juga dengan Lestari. Suara kami serasa tertahan oleh air mata.

            “Maafkan Ibu dan Ayah ya, Nak. Ibu sangat menyesal. Dari sebelum pernikahan kami, Ibu sudah menyesal, Nak. Sungguh maafkan Ibu dan Ayah,” ungkap ibu. Air matanya meleleh.

            Aku dan Lestari saling pandang. Tidak mengerti ucapan ibu barusan.

            “Ini semua memang salah Ibu dan Ayah. Dosa kami berdua. Dulu, kami menikah karena Ibu hamil di luar nikah. Ayah kalian sangat susah dimintai tanggung jawab. Ibu terpaksa menggugurkan kandungan Ibu yang masih dua bulan. Ibu malu kalau harus punya anak tanpa suami. Lalu setelah itu, kakek kalian memaksa ayah kalian agar mau bertanggung jawab. Kami akhirnya menikah. Ibu mengira, Ibu tidak akan bisa punya anak lagi. Tapi ternyata, rahim Ibu subur sekali, Nak. Ayah dan Ibu bisa punya empat anak yang cantik. Tapi balasan Allah itu masih berlaku. Keluarga kita sering dihampiri cobaan. Sekarang, Ibu juga telah bercerai dengan Ayah. Ibu minta, kalian tolong jaga Lusi. Ibu sungguh minta maaf, Nak. Ibu sangat menyesal. Maafkan Ibu...,” ungkap Ibu lalu desah napasnya berhenti.

            Ibu meninggal dengan membawa penyesalannya. Kuantar jenazah ibu sampai ke liang lahat. Kutunggu sampai liang itu tertutup tanah dan semua penyesalan ibu juga tertimbun di dalamnya. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku menyesali segala kesalahan yang kuperbuat.

 

Banyuwangi, 06-02-2016

 

 

 

           

                                                                                                     

 

  • view 447