Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 21 November 2016   17:03 WIB
Salah Asuhan

      Sejak pertama kali gadis itu datang, aku selalu melihatnya menyendiri. Ketika teman-temannya bermain, ia lebih memilih duduk di teras sambil termenung menatap keramaian di depannya. Gadis itu tidak banyak bicara. Jika diajak mengobrol, ia hanya mengangguk atau menggeleng, dan hanya menatap datar. Tatapan matanya kosong. Seperti tersimpan banyak kepedihan di dalamnya.

      Gadis itu berusia tiga belas tahun. Tingginya 145 cm dan badannya kurus. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya berwarna hitam dengan panjang sepinggang dan selalu dikucir.  Pipinya tirus dan hidungnya bangir. Bola matanya berwarna cokelat. Sebenarnya gadis itu gadis yang sangat cantik. Tetapi karena ia selalu menyendiri dan terlihat murung, kecantikan itu memudar.

     Aku sering menjumpainya sedang bermain ayunan sendiri. Gadis itu hanya membalas sapaanku dengan tatapan datar. Ia tidak peduli dengan ajakanku untuk bersekolah kembali. Aku hampir putus asa. Tapi rasa penasaranku terhadap gadis itu semakin menguat. Ia pasti mempunyai masalah yang sangat besar dan tidak ingin orang lain mengetahuinya.

         Sudah sering aku menceritakan gadis itu kepada ayah, ibu, dan teman-temanku. Mereka juga bingung harus bagaimana. Memaksa gadis itu untuk bercerita sulitnya tidak terkira. Tapi jika ia terus dibiarkan seperti itu, aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan aku harus mencari solusi untuk membuat gadis itu menceritakan masalahnya.

           Seperti sore ini. Aku masih berusaha membujuknya. Kuajak ia ke tempat-tempat menyenangkan agar ia bisa menceritakan masalahnya dengan tenang. Tapi sia-sia. Aku seperti sedang berbicara dengan batu hidup. Lalu, tiba-tiba suara ramai mengalihkan perhatianku. Aku bergegas menuju asal suara itu.

          Doni, anak berusia enam tahun jatuh dari sepeda. Lutut dan sikunya lecet. Ia meringis kesakitan. Anak-anak yang lain segera mengerumuni Doni. Semua cemas dan panik. Aku hendak beranjak mengambil kotak obat, tapi langkahku terhenti. Gadis itu datang menyodorkan kotak obat padaku. Ia tetap menatapku datar. Tak ikut bereaksi seperti yang lain. Aku tertegun. Tapi suara Doni yang meringis kesakitan membuatku segera tersadar. Aku lantas membalut lutut dan sikunya.

        Waktuku terkuras untuk memikirkan gadis itu. Cara apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatnya bercerita. Kejadian sore tadi menambah beban pikiranku. Gadis itu yang menyendiri dan terlihat murung, ternyata masih mempunyai rasa kepedulian.

        “Sudahlah, Dil. Dia kan bukan adikmu. Bukan juga anggota keluargamu. Kalau dia tidak mau cerita ya biarkan saja. Kamu jangan terbebani oleh anak itu,” ujar Lia, temanku ketika aku bercerita lagi tentang gadis itu.

      “Tapi aku penasaran, Li. Gadis itu harus dibantu. Aku nggak tega ngelihat dia murung terus-terusan. Ayolah, kalian bantu nyari cara,” pintaku pada Lia, Sheila, dan Putri. Mereka hanya mengembuskan napas.

            Tidak ada yang bisa membantuku. Sepertinya aku harus bekerja sendiri. Dan ide itu muncul begitu saja di kepalaku. Besok aku akan ke panti. Ke kamar gadis itu.

            Pagi hari ini anak-anak panti yang lain sedang bersekolah. Yang masih belum bersekolah, sibuk bermain di teras depan. Sedangkan gadis itu kulihat tengah bermain ayunan sendiri. Ini waktu yang tepat untuk masuk ke kamar gadis itu. Aku sudah meminta izin ke penjaga panti tapi tentu saja tidak perlu meminta izin pada gadis itu. Hari ini aku harus menemukan petunjuk tentang masalah gadis itu.

        Aku mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu hendak mencari apa. Aku meneliti ranjang gadis itu. Membuka lemari pakaiannya. Mencari di lipatan bajunya. Tanganku terhenti ketika aku menemukan sesuatu. Aku mengambilnya dan melihat sesuatu itu lebih jelas. Sebuah pigura kecil dengan foto seseorang yang tidak aku kenal. Ini foto keluarga. Ada ayah, ibu, dan bayi lucu sedang digendong mereka berdua. Mungkin bayi lucu ini gadis itu.

        “Kakak sedang apa?” tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Aku terkejut ketika gadis itu yang masuk.

            “Eh, kakak sedang... kakak sedang... sedang membereskan kamar ini,” jawabku sedikit gugup. Aku menyembunyikan pigura itu.

          “Kakak bohong. Kembalikan foto itu! Itu milik Amel,” pinta gadis itu sedikit memaksa. Aku lantas menyerahkan foto itu.

   “Kakak jangan pernah lagi masuk kamarku. Amel tidak suka,” ujar gadis itu. Tatapannya kini tegas. Menegaskan bahwa aku dilarang masuk ke kamarnya lagi. Aku mengangguk terbata-bata lantas beringsut keluar dari kamarnya.

          Aku tidak bisa melupakan kejadian pagi tadi. Rasa bersalah dan penasaran langsung menyergapku. Entah kenapa aku jadi begitu peduli pada gadis itu. Padahal ia bukan adikku dan bukan anggota keluargaku. Aku hanya tahu ia datang ke panti asuhan milik ayahku dua minggu yang lalu. Dan sampai sekarang aku dibuat cemas olehnya.

   Besok paginya ayahku menerima telepon dari penjaga panti. Aku tidak tahu apa yang sedang dilaporkan oleh penjaga panti. Tapi menilik wajah ayah yang bereaksi cemas dan bergegas menuju mobilnya, aku yakin pasti terjadi sesuatu yang buruk.  

         Aku bergegas menyusul ayah masuk ke dalam mobil tanpa diminta. Ayah tidak melarang. Ia langsung tancap gas menuju ke panti.

          Ternyata ayah tidak menuju ke panti tapi malah ke rumah sakit. Tiga penjaga panti menunggu di depan ruangan. Ada bercak darah di pakaian mereka. Seketika perasaanku cemas. Pikiranku langsung tertuju pada gadis itu.

            “Si Amel, Pak. Amel mencoba bunuh diri. Tadi kami menemukannya di kamar mandi,” ungkap salah satu penjaga panti. Wajahnya tidak kalah cemas.

            Tubuhku langsung lemas seketika. Gadis itu pasti menyimpan beban yang berat. Aku menutup muka dan menangis. Ayah mencoba menenangkanku.

          “Aku kan sudah bilang berkali-kali sama Ayah. Gadis itu punya masalah yang besar. Dia menanggung beban yang berat. Seharusnya Ayah sebagai pemilik panti tegas dalam mengurus masalah ini,” kataku menyalahkan ayah.

            Setelah menunggu hampir satu jam, dokter memberi informasi tentang keadaan gadis itu. Luka bekas bunuh diri sudah dibalut. Tetapi kata dokter itu, ada yang bermasalah di bagian alat vital dan terdapat bekas luka di beberapa bagian tubuh gadis itu. Sepertinya gadis itu pernah mengalami kekerasan seksual. Aku lemas setelah mendengarkan dokter itu.

       Aku tidak bisa tinggal diam. Aku lantas pergi ke panti, ke kamar gadis itu. Kuyakin pasti ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk. Dua puluh menit kemudian, aku tiba di panti.

          Gerakan tanganku cepat mencari sesuatu itu. Aku hampir membuat kamar gadis itu berantakan. Lima belas menit mencari, tak ada satu barang pun yang aku temukan. Hanya pigura kemarin. Dan aku kesal melihat pigura yang kupegang. Lalu, dengan kasar aku membanting pigura itu ke atas ranjang. Pigura itu terbalik dan aku melihat sesuatu terselip di balik foto itu. Seperti lipatan kertas. Aku segera mengambilnya. Ternyata sebuah surat.

            Untuk Ibu tersayang.

            Ibu, aku sangat ingin bertemu Ibu. Kenapa Ibu tidak pulang dan mengajak Amel pergi dari beruang ganas itu? Dia bukan ayahku, Bu. Ayah Amel sudah meninggal dan tidak bisa digantikan siapapun. Selama tiga tahun Amel ditinggal Ibu bekerja, Amel selalu disiksa oleh beruang ganas itu. Amel dilarang sekolah. Amel disuruh mengurus rumah dan mengamen, Bu. Kalau Amel tidak menurut, Amel akan dipukul. Waktu Amel berumur dua belas tahun, beruang ganas itu memainkan alat kelaminku, Bu. Tidak cukup sekali tapi berkali- kali. Rasanya sakit sekali. Amel sudah tidak tahan, Bu. Besok Amel kabur saja dari rumah. Maafkan Amel, Bu. Amel tidak bisa menunggu Ibu di rumah. Ibu cepat pulang. Amel ingin bertemu Ibu.

        Air mataku tak henti mengalir. Hatiku ikut sakit. Inilah satu-satunya petunjuk tentang gadis itu. Selama ini ia diasuh oleh ayah tirinya yang kejam dan bengis. Aku harus mencari tahu dimana ayah tirinya tinggal. Hukuman yang berat harus diterimanya.

  Aku kembali ke rumah sakit dan menyerahkan surat itu kepada ayah.

            “Kamu benar, Dil. Ini masalah yang serius. Amel memang butuh bantuan. Ayah akan menyuruh penjaga panti untuk mencari tahu dimana keberadaan ayah tiri Amel. Kita harus bertindak cepat. Kita juga harus mencari tahu dimana keberadaan ibu Amel,” ujar ayah tegas.

         Aku mengangguk cepat. Kami sedang menunggui Amel. Ayah sudah menelepon penjaga panti dan memberi mereka tugas penting.

  Gadis itu baru terbangun pukul sembilan malam. Tatapan matanya kosong. Aku mengelus rambutnya. Ia sudah seperti adikku, yang kuperjuangkan kehidupannya.

  “Kamu sudah bangun, Amel. Kamu tenang saja ya, ada Kak Dila di sini,” ucapku sambil menahan air mata. Wajah gadis itu begitu sendu.

       “Aku ingin bertemu Ibu, Kak,” lirihnya. Kedua matanya menatap langit-langit.

       “Amel pasti ketemu Ibu kok. Kak Dila janji akan membawa ibu Amel ke sini ya,” ujarku. Aku tidak kuat. Air mataku terus mengalir.

    Seminggu berlalu. Gadis itu sudah sembuh dan kembali ke panti lagi. Tetapi ia belum bisa kemana-mana. Masih harus beristirahat di kamarnya.

***

         “Hai, Amel sayang. Nih lihat, Kak Dila bawa siapa ke sini,” sapaku. Untuk pertama kalinya Amel membalas sapaku dengan senyum.

            “Hai, Amel! Aku Lia, temannya Kak Dila. Ini juga ada Kak Sheila dan Kak Putri. Kita bawa oleh-oleh buat Amel. Taraa!,” Lia menunjukkan boneka berukuran besar dan beberapa batang cokelat.

        “Terima kasih Kak Lia, Kak Sheila, dan Kak Putri. Bonekanya lucu,” ujar Amel.

     “Masih ada satu lagi kejutan buat Amel. Sebentar ya, Kak Dila panggil dulu,” aku bergegas keluar kamar hendak memanggil seseorang.

       “Amel!” ibu Amel masuk dan langsung memeluk Amel.

            “Ibu! Amel kangen sekali sama Ibu,” ujar Amel. Air matanya mengalir. Sama seperti kami semua yang terharu melihat hal ini.

          “Ibu juga kangen sama Amel. Maafin Ibu ya Nak. Ibu janji tidak akan meninggalkan Amel lagi,” ujar ibu Amel lalu memeluk dan mencium putri kesayangannya.

   Aku lega. Gadis itu kembali ke pangkuan ibunya. Selama ini ia mengalami kekerasan fisik dan batin hingga membuatnya menjadi penyendiri dan pemurung. Ia salah diasuh oleh ayah tirinya. Seharusnya, gadis seperti dirinya mendapat perlakuan yang layak oleh kedua orangtuanya. Tapi inilah sebuah takdir. Dan aku menjadi bagian dari takdir gadis itu.

Jember, 15-01-2016

                                                                             

Karya : ningrumatika