Cerita dari Kawan Lama

ningrumatika
Karya ningrumatika  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
Cerita dari Kawan Lama

          Wajahnya tampak kuyu ketika saya dan Kiki datang berkunjung. Dia menyambut kedatangan kami yang mendadak dengan senyum seorang kawan lama yang tak pernah bersua. Seperti biasa, kami berbasa-basi menanyakan kabar dan tentu jawaban umum adalah kabar baik. Siang itu cuaca di luar terik. Basa-basi kami berlanjut hingga sebuah peristiwa enam bulan lalu diceritakan oleh kawan lama saya.

           Enam bulan yang lalu, kawan lama saya—biasa saya panggil Nella, mengalami kecelakaan. Saat itu dia sedang pulang kuliah mengendarai motor matic-nya. Nella memang terbiasa mengendarai motor dengan kecepatan di atas enam puluh kilometer per jam. Alias ngebut. Tapi ini di luar kendali dirinya. Dia melaju dengan kecepatan penuh, seratus kilometer per jam. Tanpa dia sadari. Dia baru berhenti ketika motor matic-nya menghindari pengendara motor lain dan terperosok ke pinggir jalan raya. Nella selamat meski pingsan di tempat. Dia hanya mengalami luka di bagian tubuh sebelah kiri.

   Hampir sepulang kuliah, Nella mengalami kecelakaan—akibat ngebut tanpa sadar. Tapi nyawanya masih bisa diselamatkan. Baru pulih kecelakaan yang kelima kalinya, Nella akhirnya jatuh sakit. Badannya meriang. Sekujur tubuhnya terasa berat digerakkan. Dokter bilang hanya demam. Tapi sakitnya belum sembuh hingga dua bulan dan Nella terpaksa meliburkan kuliahnya.

       Selama dua bulan sakit yang tak jelas itu, keadaan Nella seperti hidup dan mati. Setengah hari dia tidur tapi tidak bisa dibangunkan. Desah napasnya berhenti. Orangtuanya panik, dikira Nella sudah meninggal. Padahal menjelang sore, Nella terbangun dengan badan masih lemas. Kejadian itu berulang hingga seminggu.

           Kakak perempuannya datang dari Surabaya setelah ditelepon. Dia menyarankan supaya Nella dirujuk ke rumah sakit. Tapi urung. Nella tiba-tiba menderam di tempat tidur. Matanya merah membelalak. Orangtua dan kakaknya panik. Tapi kakaknya menaruh curiga. Dia kemudian menyuruh ayahnya untuk memanggil orang pintar yang dikenal.

       Sejak mendengar cerita dari ibunya lewat telepon, kakak Nella sudah menaruh curiga. Mana mungkin Nella mengalami kecelakaan berulang dan sekarang sakit tapi tak tahu sakit apa yang diderita.     

         Orang pintar itu memulai aksinya. Tangan kanannya yang terselip cincin batu akik di jari manis mengambang diarahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki Nella. Sedang Nella masih menderam dengan mata merah membelalak, tak suka dengan orang di hadapannya. Ayahnya memegangi kedua tangan dan ibunya memegangi kedua kaki Nella.

        “Siapa kamu?!” tanya orang pintar itu pada Nella. Yang ditanya malah semakin menderam. Orang pintar itu bertanya sampai tiga kali.

        “Kamu tidak perlu tahu siapa aku! Pergi!” teriak Nella. Suaranya berubah.

    Orang pintar itu tetap menanyakan siapa yang sedang merasuki tubuh Bella. Tapi Nella—yang merasukinya—enggan menjawab, malah terus menderam. Orang pintar itu mengeluarkan makhluk yang merasuki Nella secara paksa. Nella pingsan dan baru sadar besok paginya. Orang pintar itu hanya memberi air putih yang sudah diberi jampi.

         Kondisi Nella semakin buruk. Selain sakitnya belum sembuh, Nella malamun sepanjang hari. Air pemberian orang pintar itu telah tandas. Tapi Nella masih seperti itu.

         “Bu, coba suruh Nella shalat dan mengaji,” saran kakak Nella.

  Ibunya mengangguk. Lantas membasahi wajah, tangan dan kaki Nella dengan air wudu. Tapi Nella tidak bereaksi apapun.

         “Bagaimana ini Betty? Nella masih melamun. Ibu sudah memintanya untuk shalat,” ujar ibu Nella cemas.

        “Kalau begitu, Ibu bacakan Al-Quran saja,” saran kakak perempuan Nella lagi. Ibunya menurut lalu mengambil Al-Quran dan memulai membacakan surah Yasin.

            Nella yang tadinya melamun saat ibunya membacakan beberapa ayat, langsung menderam kembali. Kedua tangannya mencengkram selimut. Ibunya panik lantas memanggil ayah dan kakak Nella.

         Orang pintar datang ke rumah Nella lagi. Kali ini harus berhasil menuntaskan makhluk sialan yang merasuki Nella, gumam orang pintar itu. Dia memulai aksinya lagi. Nella menderam dengan mata merah membelalak. Tetangga dekat rumah berdatangan. Ingin melihat secara langsung bukan hanya mendengar kabar saja.

      Orang pintar itu terlibat pembicaraan dengan makhluk yang merasuki Nella.

           “Aku ingin bertukar tempat dengan Nella!” geram makhluk yang merasuki Nella.

           “Apa maksud kamu?!” orang pintar itu bertanya dengan tatapan tajam.

            “Aku ingin Mas Doni! Tapi dia cuma sayang Nella. Aku ingin sukmaku ditukar dengan sukma Nella!” geram makhluk itu.

           Mendengar nama Mas Doni disebut, kakak perempuan Nella tahu siapa yang merasuki tubuh adiknya.

      “Berhentilah mengganggu Nella! Kamu ini seorang santri tapi kelakuanmu bejat. Apa gunanya belajar ilmu agama tapi kelakuan macam iblis?!” orang pintar itu beradu mulut dengan makhluk yang merasuki Nella. Dia mengenal siapa sosok makhluk itu.

           “Heh! Diam! Ini bukan urusanmu! Aku akan tetap pada kemauanku. Biar aku bertukar sukma dengan Bella. Aku tidak rela Mas Doni menjadi milik Bella!” bantahnya. Kedua mata Nella merah membelalak.

          Perdebatan itu berakhir sia-sia. Pertahanan sosok makhluk itu terlalu kuat. Orang pintar itu terpaksa menggunakan sisa ilmu yang dia punya untuk mengeluarkan sosok makhluk itu dari tubuh Nella. Kedua orangtua Nella, kakak perempuan, dan beberapa tetangga yang datang membacakan ayat kursi dan sholawat.        

          Nella tak sadarkan diri lagi setelah sosok makhluk itu berhasil dikeluarkan. Orang pintar yang menangani Nella kewalahan. Peluh mengucur dari dahinya.   

       “Makhluk yang merasuki Nella itu sangat kuat. Kalau saya tidak salah mengira, dia memakai sepuluh dukun,” ujar orang pintar itu lalu mendengus.

        “Saya tahu siapa yang merasuki putri sampean,” imbuhnya.

         “Saya juga tahu siapa yang merasuki Nella, Mbah,” kakak perempuan Nella menimpali.

      Orang pintar itu menatap kakak perempuan Nella, “Saya yakin sampean pasti tahu, Nduk. Sosok yang merasuki Nella itu ingin menukar sukmanya dengan Nella. Saya rasa ada yang dia mau selain ingin memiliki Doni. Lalu, dimana Doni sekarang? Dia juga harus tahu keadaan Nella.”

     “Doni sedang di rumah orangtua kandungnya di Kalimantan. Sebelumnya, Doni juga pernah diguna-guna. Wajahnya dibuat rusak, dipenuhi jerawat batu. Yang mengguna-guna juga orang yang sama. Saya heran, kok ada wanita yang tega berbuat keji seperti itu. Padahal dia santri,” keluh kakak perempuan Nella.

        “Tidak semua santri itu berakhlak baik, Nduk. Tapi semestinya seorang santri harus dan wajib berakhlak baik. Saya rasa dia menginginkan sesuatu dari Doni,” ujar orang pintar itu.

           Sosok makhluk itu kembali datang lagi sampai tiga kali. Orang pintar itu berhasil mengeluarkan  sosok itu dari tubuh Nella meski kewalahan. Dia tahu ilmunya tak mampu mengalahkan sepuluh dukun. Seminggu berlalu, sosok itu tidak lagi datang. Nella masih harus beristirahat. Dia terpaksa berhenti kuliah sebab sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh.

    Nella masih diguna-guna. Bukan sukmanya lagi yang diancam. Kali ini setiap Nella membuka mata, dia menjerit ketakutan. Kedua orangtuanya juga kakaknya heran. Mereka kira Nella kerasukan lagi. Tapi yang dilihat, Nella justru menutup rapat mukanya dengan kedua telapak tangan.

        “Pergi! Pergi!” teriak Nella.

       “Ada apa Nell? Apa yang kamu lihat?” tanya ibunya cemas.

          “Itu, Bu! Lihat sendiri!” teriak Nella. Jari telunjuknya menunjuk ke arah dinding kamar. Tapi tidak apa-apa, ibunya bergumam.

          “Tidak ada apa-apa, Nella,” bantah ibunya. Nella melonggarkan kedua telapak tangannya yang sejak tadi menutupi wajahnya. Dia kemudian teriak lagi.

          Nella mengaku, dia melihat sosok makhluk mengerikan setiap kali membuka matanya. Makhluk itu leak Bali. Bukan hanya itu, Nella juga melihat tuyul, genderuwo, dan sejenisnya. Orang pintar kembali dipanggil. Kalau yang satu ini bisa cepat diatasi. Lima menit kemudian, makhluk-makhluk mengerikan itu lenyap dari penglihatan Nella. Orang pintar itu berpesan supaya Nella harus sering ditemani dan sering dibacakan ayat-ayat Quran.

        "Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja ya, Nduk?" tanya ibu Nella.

        "Percuma, Bu. Kita tidak punya bukti yang cukup kuat untuk melaporkan wanita yang mengguna-guna Nella," sesal Kakak Nella.

      Hampir empat bulan setelah Nella kerasukan dan diganggu makhluk halus, kakak perempuannya memutuskan untuk mengajak Nella ikut dengannya tinggal di Surabaya. Kedua orangtua mereka sepakat meski masih menyisakan kecemasan. Taku-takut kalau Nella kerasukan atau makhluk halus itu masih mengikuti Nella. Tapi kakaknya meyakinkan kalau Nella akan baik-baik saja.

        Seminggu tinggal di rumah kakaknya di Surabaya, Nella masih beristirahat di kamar. Kakaknya bergantian dengan suaminya menjaga Nella. Mereka juga sering membacakan ayat-ayat Quran. Belum ada tanda-tanda Nella kerasukan atau diganggu makhluk halus lagi. Kakaknya lega. Dia masih harus mencari seseorang yang bisa membantu adiknya supaya sembuh total.

        “Coba bawa Nella ke Gresik. Aku pernah dengar ada yang ahli mengatasi masalah seperti adikmu itu,” saran teman kakak Nella.

      Dua hari kemudian, kakak Nella bersama suaminya membawa Nella ke Gresik. Tiba di sana, mereka bertemu dengan seorang kyai. Kyai itu menyarankan supaya Nella tirakat. Nella diminta untuk menginap di rumah kyai itu untuk menjalankan tirakat. Kakak Nella dan suaminya tidak bisa menemani. Kakaknya harus mengajar di universitas dan suaminya bekerja di kantor.

         Saat itu memasuki bulan Ramadhan. Nella masih tirakat di rumah kyai itu. Menjelang hari raya Nella dijemput kakaknya dan langsung menuju ke rumahnya di Banyuwangi.

***

           Saya bergidik ketika Nella bercerita. Percaya dan tidak percaya dengan pengalaman kawan sendiri.

           “Tapi kamu memaafkan wanita itu kan, Nell?” tanya saya.

           “Iya, aku maafkan dan aku nggak dendam. Lagi pula, orang seperti itu nanti juga bakal kena azab kok,” ujar Nella menyungging senyum.

           Tiga bulan berlalu. Saya mendapat kabar dari Nella. Dia sudah sembuh total dan kini tinggal menetap di Surabaya bersama kakaknya. Nella tidak melanjutkan kuliah. Dia memutuskan bekerja di sebuah salon milik teman kakaknya. Kabar barunya lagi, dia telah putus hubungan dengan Mas Doni. Entah apa sebabnya.[]

 

Jember, 25-01-2016

cerpen ini terinspirasi dari kisah nyata sahabat si penulis. 

  • view 276