Belajar dari Sepasang Angsa

nindita ardiansyah
Karya nindita ardiansyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Februari 2017
Belajar dari Sepasang Angsa

Aku memang penyayang binatang tapi sedari kecil, aku tak pernah punya peliharaan di rumah.   Hidup  itu sudah repot jadi tak perlulah ditambah lagi. Berbeda dg adikku  yg begitu bahagia merawat kucingnya. Ah, wajah imut dan tingkahnya yg lucu itu tak sebanding dengan bau kotorannya. Pokoknya, aku tak tahan.

Sampai suatu hari, aku tlah menikah dan menetap di salah satu perumahan di kota Mojokerto. Aku memiliki tetangga yg gemar sekali memelihara binatang. Aku santai saja. Lalu, tiba-tiba masalah datang. Tetanggaku itu harus pindah kerja ke kantor pusat di Jakarta.

Suatu sore, ada sepasang angsa jalan ke arah rumahku. Aku ingat betul kalau itu angsa yang ditinggalkan tetanggaku. Sungguh kasihan, pikirku. Kalau ditinggal begini, lalu mereka makan apa ya.

Iseng-iseng suamiku memberinya seikat kangkung. Akupun tertawa, sudah jelaslah angsa tak akan mau. Aku keluarkan lima buah pisang susu. Suamikupun protes, "hah? Angsa aja bisa tau ya makanan mahal. Angsa jaman sekarang." Hahaha Sore itu, aku dan suami menikmati pemandangan haru. Padahal, sebelumnya suamiku sangat takut dengan angsa, takut disosor. Ups!

Konon katanya, jaman dulu orang kaya di desa memanfaatkan angsa sebagai penjaga rumah. Khusus muslim ya, karena liur anjing kan najis. Angsa itu agresif sama orang baru, biasanya akan dikejar dan disosor. Katanya sih,  itulah senjatanya yg menyakitkan. Belum lagi teriakanya yg nyaring, bisa jadi alarm kalau ada pencuri masuk.  Mungkin satu kampung akan bangun saat itu juga.

Setelah kejadian itu, sepasang angsa itu tak kembali ke rumah si pemilik. Entah kenapa, mereka malah asyik nongkrong didepan rumahku. Pagi harinya, suara mereka nyaring membangunkan kami. Lalu, mereka pergi ke rumah si pemilik. Oh, mungkin mereka berterima kasih dg cara menjaga rumahku semalaman, pikirku. Angsa saja tau manner ya. Keren

Sepulang kerja, aku melihat lagi sepasang angsa berjalan ke arah rumahku. Begitu mereka dekat dan melihat kami, langsung saja mereka teriak, "kwak kwak kwak kwak". Apalagi ini ya? Lapar lagi? Aku dan suami sepakat untuk membelikan makanan khusus angsa di toko pakan hewan. Ternyata murah, Rp 8.000/kg dan itu habis dalam waktu seminggu. Sebagai gantinya, kami dapat perasaan bahagia yg entah darimana. Bahagia saja melihat angsa itu makan dengan lahap.

Bahkan kami memberinya nama, yg paling besar namanya Paijo. Kami asumsikan yg besar itu laki-laki, yg kecil itu perempuan namanya Painem. Hampir tiap hari, kami mengajaknya ngobrol layaknya teman, "Kamu lapar, Jo? Aku jg lapar. Jadi sabar ya, aku makan dulu, setelah itu baru kamu yg makan. Tunggu ya, sekitar jam 7 malam." Ah, begitulah hidup kami yg bahagia dari hal-hal tak terduga.

Paijo dan Painem begitu baik dan jinak ke kami. Kalau kami dekati, mereka malah menjauh. Padahal, menurut pengakuan tetangga kami yg lain, mereka pernah dikejar dan hampir disosor sama si Paijo saat lewat depan rumah kami. Bahkan, ada ibu-ibu yang biasa jogging di perumahan sampai teriak minta tolong karena disosor sama Paijo. Aku dan suami hanya bisa mendengarkan cerita mereka karena kamipun tak tahu bagaimana cara melatih angsa. Jangankan itu, si Paijo dan Painem kan bukan milik kami. Kami hanya membantunya agar tak mati kelaparan.

Suatu malam, kami bertemu dg orang yg mengaku sbg kerabat si pemilik angsa. Pemuda ini bingung mencari sepasang angsa karena dikira hilang. Setelah tau angsa itu didepan rumah kami, pemuda itu menitipkannya pada kami. Setelah itu, aku berunding dg suami, aku merajuk agar suami membeli Paijo dan Painem ke pemuda itu. Entah bagaimana, aku punya firasat suatu saat, kedua angsa ini akan dijual pemiliknya. Tapi, suami menolakku. Dia berpikir lebih baik begini, karena 2 minggu sekali kami juga harus mengunjungi orang tua suami di Surabaya. Jadi, kamipun akan menelantarkan Paijo dan Painem selama 2 hari. Suami khawatir dg dosanya.

Hari berganti hari, kami mulai terbiasa dg kehadiran Paijo dan Painem. Kami bahagia mendengar suara-suaranya. Walau aku selalu kesal dg kotorannya di halaman rumah. But, it's animal lah ya, they can not think like us. Kadang kami bercanda, "Kamu pinter ya Jo, aku kasih makan malah dibalikin. Iya kalo dalam bentuk telormu, ini malah eek. Gak usah dibalikinlah gak apa deh."

Seminggu yang lalu, aku sakit demam, batuk dan flu. Maklum, cuaca disini memang sering hujan deras. Dimana-mana sih ya. Akibatnya, aku hanya tidur di kasur. Kebetulan suami jg pulang malam terus. Dua hari berturut-turut, kami lupa kasih makan Paijo dan Painem. Sampai keesokan harinya, aku menyadari ada yg aneh. Kenapa sampai malam hari mereka tidak muncul ya?

Pagi harinya, kami keburu berangkat kerja dan tidak sempat mencari mereka. Barulah sepulang kerja, Ba'dha Maghrib kami mencari ke rumah si pemilik. Kami tak menemukannya. Karena keadaan yg gelap dan menyeramkan, suami mengajakku pulang saja. Besok lagi dicari Paijonya. Tapi, malam itu aku jadi kepikiran. Rasanya, suara Paijo dan Painem ini terngiang-ngiang di telinga.

Pagi harinya, suami dan aku mendengar suara angsa. Kami kira itu mereka. Segeralah suami keluar rumah mencari Paijo dan Painem tapi nihil. Tetangga sebelah rumah memberi kabar kalau beberapa hari lalu, pemuda kerabat si pemilik angsa itu membawa mereka pergi. Pemuda itu mengatakan kalau mendapat pesan dari si pemilik untuk memberikan angsa itu ke orang lain. Entah dijual atau hibah tapi yang jelas ada yg merawat angsa itu.

Seketika aku langsung bersedih. Memang saat ini aku sedang hamil 3bulan. Aku berencana kelak mengenalkan anakku ke Paijo dan Painem. Aku ingin anakku bisa menyayangi dan merawat hewan sejak kecil. Tak seperti ibunya dulu. Tapi sebelum anakku lahir, angsa-angsa itu sudah hilang. Pagi itu, aku menggelar demo ke suamiku. Sebagai senjata andalan ibu hamil, aku katakan, "Ibu sama dedek ngambek ke ayah! Kenapa ayah dulu gak mau beli Paijo dan Painem? Tanggung jawab! Kembalikan mereka!"

Seharian di kantor, aku pura-pura tidak ramah ke suamiku dan menerornya dg slogan, "AYAH PELIT! BELI PAIJO AJA GAK MAU ". FYI, aku dan suami itu kerja di perusahaan yg sama. Aku ceritakan ke teman satu departemenku tentang Paijo yg hilang. Sebelumnya, mereka juga sudah tau siapa Paijo dan Painem. Mereka menyukai ceritaku tentang angsa-angsa itu. Tapi, mereka malah tertawa ketika tau aku menggelar demo demi sepasang angsa. Bahkan, suamiku bertanya ke teman satu kantornya, "Bukannya angsa itu sama saja ya bentuknya? Tapi istriku gak mau kalo bukan Paijo dan Painem. Lalu, aku harus cari dimana coba? Kalian pernah denger gak ada demo karena angsa? Hmmm pfff"

Memang sih, rumah jadi sepi tanpa sepasang angsa itu. Ini pertama kalinya aku merindukan kehadiran binatang. Bahkan saat mencarinya kemarin, aku merasakan galau seperti diPHP laki-laki. Saat tau dia pergi dan tak akan kembali, hati ini seperti dirobek-robek. Ah, sakit sekali, menyesal juga. Apalagi, hari-hari terakhir itu aku tak sempat memberinya makan. Seandainya ....

Tapi, setelah itu aku tau satu hal. Jika Tuhan tak menitipkan sesuatu pada kita, mungkin ada orang lain yg lebih pantas menerimanya. Toh, selama sebulan ini Tuhan sudah berbaik hati memberikan kebahagiaan lewat hal yg murah dan mudah ke keluarga kami. Lalu, sekarang apalagi yg hendak aku tuntut? Maka, aku belajar sabar dan ikhlas. Mungkin, setelah ini Tuhan akan mengirimkan hal lain agar aku bisa terus belajar. Semoga Tuhan selalu menjaga keluarga kami dan juga Paijo, Painem sekalipun kami di tempat yg berbeda.

  • view 109