Mencetak HAFIDZ Cilik

Nila Windiyarti
Karya Nila Windiyarti Kategori Agama
dipublikasikan 06 Februari 2017
Mencetak HAFIDZ Cilik

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Walau diri masih sangat jauh dari sebutan “hafizh”, namun  ingin sekali sebagai calon orang tua mempunyai anak-anak yang hafizh qur’an. Mungkin sudah banyak buku yang mengulas berbagai metode menghafal quran, sayangnya hati ini belum tergerak untuk membaca sejumlah buku tersebut. Ketika teman SMA saya menjual buku berjudul “Mencetak Hafidz Cilik- Meniti Jejak La Ode Musa”, entah seketika hati ini ingin sekali membaca buku tersebut, intinya sih penasaran dengan bagaimana cara orang tua Musa mendidik anak yang kala itu masih sangat dini. Kali ini saya mencoba meringkas dari buku tersebut mengenai tips menghafal AL-Qur’an ala keluarga Musa:

  1. Meluruskan Niat

Lurusnya niat atau keikhlasan wajib dimiliki oleh orang tua sebagai pendidik maupun oleh anak yang dididik. Karena keikhlasan dapat meringankan dalam membimbing, dan membuat anak lebih mudah diarahkan. Sementara menjadi kewajiban pula bagi pendidik untuk mengingatkan selalu kepada anaknya agar meluruskan niat, memperhatikan kebaikannya dan menjaganya dari kerusakan. Karena bagi penghafal kadang terbetik niat dalam hatinya untuk mendapat pujian dan tujuan duniawi lainnya.

  1. Menanamkan aqidah dan Manhaj (jalan hidup) yang lurus

Fase kanak-kanak merupakan waktu yang strategis bagi penanaman aqidah karena pada usia ini merupakan masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Memahami aqidah dan manhaj yang benar, wajib hukumnya untuk ditanamkan terlebih dahulu dibanding selainnya. Jelaskan dengan bahasa anak bagaimana memahami hakikat dari tauhid. Meyakini bahwa Allah Maha Pencipta, Pemberi rezeki, dan satu-satunya yang berhak diibadahi. Pemahaman aqidah yang benar akan membuat anak maupun ortu semakin tawadhu’, karena memahami bahwa segala sesuatu yang dimiliki semata-mata dari Allah. Segala kemudahan, nikmat ilmu dan kemampuan menghafal Al-qur’an adalah karunia dan takdir Allah sehingga menjauhkan dari sikap sombong dan bangga diri.

  1. Menanamkan adab dan akhlaq islami

Ibnul Anbari Rahimahullah menyatakan bahwa “ Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa” ( Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306).

Salah satu tanda keberkahan ilmu yang diperoleh dari menghafal Al-qur’an adalah dengan semakin baik adab dan akhlaq kesehariaannya. Sangat keliru jika para pendidik gencar menuntut anak didiknya menghafal berbagai surat dalam Kitabullah namun mengesampingkan perkara adab dan akhlaq. Idealnya dengan semakin banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang dipahami dan dihafal, hendaknya juga diiringi dengan semakin baiknya akhlaq.

  1. Tekad dan cita-cita yang tinggi

Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Katsir berkata, “ Ilmu tidak diperoleh dengan badan yang bersantai-santai”, (Hadits Riwayat Muslim No. 612). Butuh bekal dan pengorbanan ketika seseorang berharap menjadi penghafal Al-qur’an. Waktu, tenaga, pikiran, harta dan berbagai bekal lain harus maksimal dikerahkan. Janganlah kesempitan kondisi menjadikan kita loyo dalam pendidikan anak-anak kita. Tak perlu menunggu serba mapan berkecukupan untuk menambahkan tekad kuat memulai tashfiyah dan tarbiyah dalam keluarga dan menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an. Sedikit sentilan yang diambil dari status fesbuk La Ode Abu Hanafi (Ayahanda Musa):

  1. Menanamkan kecintaan terhadap ilmu syar’i dan Ulama

Beri pemahaman pada anak bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi seorang Muslim selama nyawa masih dikandung badan. Tanamkan kepada anak agar bersemangat dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu karena banyak keutamaan yang akan diraih si sepanjang jalan menuntut ilmu. Berikut ini beberapa strategi yang diterapkan keluarga Musa dalam mendekatkan anak-anak terhadap ilmu dan ulama:

  1. Menumbuhkan semangat mempelajari dan menghafal ilmu yang ditulis oleh para ulama
  2. Membiasakan anak-anak mendengar dan mencintai ceramah para ahli ilmu
  3. Membiasakan diri mengambil pendapat dari para ulama dalam segala aspek kehidupan
  4. Menanamkan kecintaan terhadap Al-qur’an

Sebelum menugasi anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu harus kita tanamkan di diri anak rasa cinta yang mendalam terhadap AL-Qur’an. Sebab menghafal tanpa rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali  harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Anak kecil yang merasakan kecintaan kedua orang tuanya terhadap Al-Qur’an dari celah-celah perilaku keduanya, secara otomatis cinta tersebut akan tersalur pada anak tanpa harus ada usaha keras dari keduanya. Berikut beberapa keteladanan yang dapat diberikan orang tua dalam hal ini sebagaimana disampaikan Syaikh Dr. Sa’ad Riyadh:

  1. Membiasakan mendengar lantunan Qur’an di rumah atau membiasakan anak melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an
  2. Orang tua terbiasa memilih tempat yang paling baik dan paling tinggi untuk meletakkan Al-Qur’an, tidak meletakkan sesuatupun di atasnya, serta tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak
  3. Jika anak merasa diacuhkan orang tuanya karena orang tuanya sedang membaca Al-Qur’an, maka hendaknya peluklah anak dan katakana “Ini adalah kitab Allah”
  4. Memilih metode menghafal yang tepat bagi anakPorsi muraja’ah yang cukup

Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam belajar agar lebih mudah menangkap pelajaran, begitu juga dengan menghafal. Dr. Sa’ad Riyadh memberikan beberapa contoh penerapan metode hafalan Qur’an sebagai berikut:

  1. Anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-qur’an digital
  2. Anak yang peka terhadap sentuhan dapat dengan cara memberikan Al-qur’an yang cantik dan terlihat indah saat dibawanya
  3. Anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layar proyektor, papan tulis, dll.

Sementara, metode yang digunakan Ayahanda Musa saat musa baru mengawali hafalannya adalah Musa diminta untuk memperhatikan dengan baik gerakan bibir ayahnya. Lalu Musa juga pernah dibantu menghafal menggunakan teknologi Al-qur’an pen digital. Dan untuk mendukung proses menghafal Musa, Ayahanda Musa sering memperdengarkan bacaan Al-Qur’an  melalui murottal Qari’ favoritnya di sela-sela waktu ketika Musa tidak sedang menghafal.

  1. Porsi Muraja’ah yang Cukup

Penting bagi seorang penghafal Al-Qur’an untuk memiliki porsi muraja’ah yang cukup. Tidak sedikit penghafal Al-Qur’an yang menyelesaikan hafalan dalam waktu singkat, namun karena kurangnya porsi muraja’ah dan kekeliruan metode muraja’ah menyebabkan hafalan yang sudah dimiliki hilang sedikit demi sedikit. Ayahanda Musa menyempatkan diri melontarkan pertanyaan terkait hafalan Al-Qur’an pada anak-anak beliau yang ikut serta mendampingi.

  1. Bertahap dan tidak tergesa-gesa

Membiasakan anak hafalan Al-Qur’an hendaknya memperhatikan tahapan tingkat pemahaman dan kemampuan anak. Mulai dengan yang sederhana dan ringan sehingga anak tidak merasa berat kemudian secara berahap tambahlah porsinya higga sesuai target yang diharapkan. Tahap awal yang dilakukan adalah pembiasaan dan membuat anak akrab dngan bacaan Al-Qur’an termasuk bacaan wirid harian.

Musa sendiri pada awalnya tidak langsung mau dan mampu menghafal. Pembelajaran Musa dimulai dari kebiasaan memutar CD pengajian, maupun murattal Al-Qur’an di rumah. Lalu Musa mengikuti suara-suara tersebut. Berdasarkan ilmu yang dibaca Ayahanda Musa, anak berumur 1 tahun 8 bulan sedang belajar mengucapkan kata. Maka saat usia Musa 2 tahun, Ayahanda Musa memperkenalkan ayat Al-Qur’an pada Musa dengan metode talqin, yaitu membacakan ayat demi ayat dengan tartil, agar dapat diikuti oleh Musa. Ayahanda Musa mulai mengatur jadwal hafalan, yaitu selepas Subuh dan Maghrib secara rutin dengan durasi sekitar lima sampai sepuluh menit.

  1. Disiplin dan istiqamah mengelola jadwal

Ayahanda Musa menjelaskan bahwa dalam keseharian, anak-anak perlu dibuatkan jadwal yang disiplin dan konsisten. Masing-masing aktivitas ada waktunya masing-masing dan tidak bermdah menggeser jadwal yang telah ditetapkan. Selain memiliki kedisiplinan dalam mengelola kegiatan sehari-hari, doronglah anak untuk mengisi waktu luang dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat sehingga tidak dimasuki oleh keburukan, kerusakan dan kesesatan.

  1. Makanan halal dan thoyib

Jika menginginkan memiliki anak-anak penghafal Al-Qur’an, maka sebagai orang tua akan selalu mendoakan kemudahan dan barakah atas upayanya menghafal Al-Qur’an. Maka agar doa mudah diijabah Allah, hendaknya memerhatikan dengan baik asupan yang masuk ke dalam tubuh, halal atau haram.

Bila selama  ini kita merasa malas dan berat untuk beramal, berat untuk memulai berdekat-dekatan dengan Al-Qur’an dan menghafalnya alangkah baiknya bila kita mengkoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang.

  1. Memberi kesempatan istirahat

Istirahat adalah kebutuhan vital dalam proses belajar mengajar. Dengan istirahat yang cukup insya Allah dapat menyegarkan kembali fisik dan jiwa agar kembali bersemangat dalam belajar. Kurangnya istirahat dapat menurunkan kemampuan menerima ilmu dan kejenuhan, yang akhirnya justru menghambat proses belajar.

Untuk anak-anak kita, istirahatnya bisa dengan memberinya kesempatan bermain. Dengan bermain, anak-anak dapat berekspresi dan meyalurkan energi dengan hal-hal yang menyenangkan. Membiasakan anak tidur siang adalah Sunnah Rasulullah SAW, insya Allah kita mendapatkan pahala jika kita meniatkan untuk menetapi sunnah dan mengistirahatkan tubuh agar dapat beribadah lebih baik.

  1. Bersabar

Salah satu bagian dari kesabaran yang dijelaskan para ulama adalah kesabaran dalam melakukan ketaatan pada Allah. Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anakpun termasuk ke dalam kategori ini. Mengajarkan kebaikan membutuhkan kesabaran orang tua. Di antaranya adalah mengajarkan anak untuk menghafal Al-Qur’an dan mengatasi kesulitannya.

Untuk mendampingi proses belajar anak-anak dalam menghafal Al-Qur’an, diperlukan amunisi yang sangat banyak berupa stok kesabaran. Menghadapi tingkah anak yang terkadang tidak mudah sangat menguras emosi. Ditambah lagi besarnya godaan setan untuk menjauhkan kaum Muslimin dari mempelajari Al-Qur’an.

  • view 124