Bidadariku

Ni'matun Khasanah
Karya Ni'matun Khasanah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 September 2016
Bidadariku

Langkah yang berat ku ayun menyusuri lorong-lorong kota pagi ini. Hal yang sama yang telah 3 tahun kulalui. Namun, di tahun ketiga ini, langkah ini tidak lama lagi akan menjadi ringan.  Entah mengapa aku merasakan hal yang berbeda hari ini. Akan ada apa hari ini? aku pun tidak tahu. Semoga ada hal baik yang terjadi hari ini. Ketika sedang melewati jalanan yang berdebu karena dekat dengan area pembangunan gedung, aku tak sengaja melihat wajah yang tak asing bagiku. Wajah yang dulu selalu ada dimanapun aku berada. Ya, aku kenal wajah itu. Tak akan pernah aku hilangkan ingatan tentang wajah itu. Wajah yang tak lain dari sahabat lamaku. Sahabat yang dulu sempat menghilang lama. Sampai-sampai aku mencari dimanapun. Tak bisa kutemukan dia. Namun, sekarang tanpa disangka, aku dapat menemukan dia kembali. Segera aku percepat langkah ini agar bisa segera menyapanya. Namun, ternyata langkahku kurang cepat dengan dia yang segera masuk ke dalam sebuah taksi. Aku pun berharap suatu hari nanti dapat bertemu dengannya kembali. Nanti, saat aku bertemu dengannya kembali akan aku ceritakan semua apa yang aku rasakan selama kami bersahabat. Aku sangat rindu dengannya.. Sudah sangat lama kami terpisah. Dari kecil kami sudah menjadi sahabat. Kemana-mana pun kami selalu sama-sama. Sampai-sampai orang-orang kampung sampai hafal dengan kami. Kami berdua merupakan tetangga dekat ketika di kampung. Meski aku yang notabene seorang laki-laki sedangkan dia seorang perempuan, tetapi kami bermain layaknya anak-anak lain yang tidak mempusingkan gender. Yah, bagi anak-anak gender belum menjadi persoalan. Dan sekarang, kami tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan perempuan dewasa yang sudah tidak bisa lagi seperti yang dulu ketika kami masih anak-anak.

Disaat aku menemukanmu kembali, ada hal berbeda dalam dirimu. Penampilanmu begitu feminim, sholehah, wajahmu begitu sejuk,dan kau pun telah memakai hijab. Ya, sekarang kau berhijab. Pada saat itu pula, muncul rasa lain di hatiku. Entah ini merupakan kelanjutan dari rasa bahagiaku menemukan sahabatku kembali atau rasa lain yang ikut muncul. Ah, sudahlah. Yang terpenting saat ini aku telah menemukan sahabat lamaku. Disaat kepergiannya, aku tidak lagi seperti sebelumnya. Aku merasa ada yang hilang dari diriku. Karena saking dekatnya kami, sampai-sampai aku tidak berselera makan, sekolah, bahkan bermain. Hahaha...namanya anak-anak. 

Hari-hari selanjutnya, aku pun berharap bisa bertemu lagi dengannya. Aku melewati jalan yang sama hari itu. Namun, di waktu yang sama aku tidak mendapati dia di tempat itu. Sambil tetap berjalan, aku sempat putus harapan bahwa aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Akhirnya aku melanjutkan perjalananku ke tempat kerja. Ya, aku bekerja di Cafe yang ku dirikan sendiri. Sampai di cafe aku langsung melakukan pekerjaan harianku, yaitu melayani ketika ada pengunjung atau pelanggan cafe yang datang. Sampai tanpa sengaja aku mendekati meja pengunjung yang datang. Aku pun segera menanyakan apa pesanannya. Tanpa disangka, pengunjung itu merupakan sahabatku itu. Seketika aku menjadi gugup, gemetar, namun aku bahagia. Tapi, apakah ia masih ingat denganku? pikirku. Ketika aku membuka percakapan dengan menanyakan pesanan, pengunjung tersebut melihatku dengan tatapan yang sejuk. "Oh, saya pesan teh saja,"jawabnya. Akupun menulis pesanannya. Disaat itu, tidak nampak wajah mengingat siapa aku. Mungkin aku sudah dilupakan olehnya. Sedikit kecewa ketika sahabatku bahkan tidak mengenaliku lagi. Akupun menghampiri lagi meja tersebut dan mengantarkan pesanannya. Setelah aku meletakkan teh itu, perempuan berhijab itupun mulai sedikit mengingatku. "Akbar ya?" tanyanya.

"Iya," jawabku. Akhirnya dia pun mengingat aku. Kupikir dia lupa denganku, terima kasih Tuhan.

Kami tak bisa mengobrol banyak kala itu, hanya sekedar saling menanyakan kabar masing-masing karena aku harus melanjutkan pekerjaanku. Namun, kami telah bertukar nomor handphone sehingga kami masih bisa bertemu ketika cafe tidak ramai. Hari pun berlalu, sudah 1 minggu aku tidak bertemu lagi dengannya semenjak hari itu. Akupun juga sedikit melupakan karena kesibukanku di cafe yang agak rame. Maklum lah karena aku baru mempekerjakan 2 orang pegawai. Ketika hari mulai sore, sahabatku itu pun datang kembali ke cafe. Aku melihat dia datang dan duduk di bangku yang sama dengan kemarin.  Akupun mulai menghampirinya, sama seperti kemarin dan menanyakan apa pesanannya. Pesanannya pun sama, secangkir teh. Aku mulai membuatkan teh pesanannya dan mengantarkan ke mejanya. Namun,sebagai hadiah karena kami dapat bertemu kembali, aku menambahkan sepotong kue sebagai teman minum tehnya. Dan mulai saat itu kamipun mengobrol.

Aku pertama kali memulai pembicaraan. "Bagaimana kabarmu?"tanyaku

Dia pun membalas," alhamdulillah, aku baik sampai saat ini. Maaf jika dulu aku pergi tanpa memberitahumu."

Pernyataannya mengungkapkan seolah dia tahu kegelisahanku selama ini, mencari-cari dia yang pergi tanpa kabar. "Iya, tak apa. Lalu,kemana saja kau selama ini?"

"Panjang ceritanya. Kapan-kapan akan kuceritakan semuanya padamu." Aku pun hanya berharap mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku darinya. Setelah beberapa lama mengobrol, akupun harus melayani pengunjung yang datang ke cafe. Maka, dia kutinggalkan di mejanya. Melihatnya dari jauh memang menyenangkan, melambungkan perasaan bahagia di hatiku. Namun, akankah seperti ini harus terus terjadi? Harus ada langkah yang ku ambil agar engkau segera berada di sisi ku. Lalu, ku alihkan perhatianku pada pekerjannku. Tak berselang berapa lama, ketika aku melihat ke arah mejanya lagi kulihat sudah tidak ada dia disana. Mungkin dia pulang atau ada urusan yang lain diluar sana. Mungkin suatu hari nanti kami bisa bertemu kembali harapku...

Bersambung

  • view 178