Urap Jagung: Awal dari Sebuah Tindakan yang Tak Pernah Mudah

Niken Adiana Soebarkah
Karya Niken Adiana Soebarkah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juli 2016
Urap Jagung: Awal dari Sebuah Tindakan yang Tak Pernah Mudah

Tidak seperti yang diperkirakan, gas di rumah memutuskan berhenti melakukan dayanya dengan anggun saat dia dibutuhkan. Minggu siang yang cukup terik, membuat saya malas untuk keluar rumah untuk menukar (membeli) tabung gas yang baru. Tapi apa daya, saya harus keluar menuju warung terdekat supaya keberlangsungan masakan sederhana saya bisa pungkas dan bisa dikonsumsi.

Malam sebelumnya, saya disuguhi beberapa unggahan di media sosial yang seperti kita tahu bisa sangat menyita perhatian dan waktu. Dari sekian banyak unggahan, beberapa membuat saya manyun-manyun sendiri. Di penghujung liburan kenaikan kelas, di saat dompet saya sudah dalam taraf "meraung" dan mengharuskan saya memaknai keprasajaan dengan indah, beberapa unggahan menggelitik saya untuk merajuk dan meminta pada Yang Kuasa untuk meluberkan pundi-pundi rezeki saya. Bagaimanapun, saya manusia biasa yang ingin plesiran, makan enak, dan menikmati liburan seperti orang kebanyakan. Tak dinyana, semua kedongkolan tersebut dijungkirbalikkan keesokan harinya.

Kembali ke Minggu siang yang terik itu, tibalah saya di depan warung. Berbekal uang seratus ribu rupiah yang terlipat rapi, yang sebelumnya saya selipkan dalam dompet untuk keadaan mendesak, saya jalani niat untuk menukar (membeli) tabung gas berwarna hijau mentereng yang saya butuhkan saat itu. Saat berbalik arah hendak kembali ke rumah, perhatian saya tersita oleh sebuah gerobak kecil beroda dua berwarna merah kuning yang saat itu sedang dikerumuni oleh sejumlah orang, tua, muda, dan anak-anak. Perut yang mulai memainkan musik destruktif pun mendorong saya untuk mendekati kerumunan tersebut. Sesosok pria yang tak lagi muda terlihat sibuk menyendok dan mewadahi butiran-butiran jagung yang kuning menggoda ke dalam bungkus plastik mika. Kemudian si Bapak menaburi parutan kelapa gurih dan gula pasir ke atas onggokan jagung tersebut dengan luwes dan lihai. Aha! Urap jagung yang kerap saya beli waktu saya kecil dulu ternyata masih bisa dijumpai, tersuguh cantik di depan saya.

Senyum lebar tersungging di bibir saya dan mengantrilah saya dengan manis menunggu giliran.

"Dua bungkus, Pak. Satu nggak pake gula, ya," ujar saya dengan mantap.

Dengan sigap si Bapak menyiapkan pesanan saya, lengkap dengan sepotong kecil janur yang Ia siapkan untuk digunakan sebagai sendok.

"Jadinya 10 ribu, neng," tukasnya saat rampung membungkus.

Seraya menyerahkan uang, saya memulai percakapan,

"Banyak juga ya, Pak, jagungnya."

"Iya, neng. Semua harus habis sebelum Maghrib." Ujarnya.

"Kalau tidak habis lalu bagaimana Pak?"

"Ya saya makan sendiri, neng. Buat makan malem. Kalau sisa banyak ya saya bagi ke tetangga. Daripada mubajir." Jawabnya seraya menyerahkan uang kembalian.

Tertohok dan tertampar adalah diksi yang paling tepat untuk mewakili perasaan saya saat itu. Bagaimana tidak, seorang Bapak tua yang hanya memiliki sejumlah uang dalam laci gerobak kecilnya mampu mensyukuri berkat bahkan memberi kepada sesamanya saat dagangannyaa sedang tidak menguntungkan. Ya, saya malu saat itu. Malu karena takluk pada kedongkolan saya malam sebelumnya.

Bapak penjual urap jagung dan sikap hidupnya membuat saya terperangah. Ia telah menjadi bukti nyata dari definisi kurang atau miskin yang pernah dituliskan oleh Romo Mangun (Y B Mangunwijaya): "Miskin masa kini sudah tidak lagi hanya soal kekurangan uang, akan tetapi karena tidak mahir membuat pemilihan-pemilihan."

Dengan kata lain, saya miskin atau tidak bahagia karena saya tidak mahir membuat pilihan. Dalam hal ini memilih untuk bersyukur. 

Sah sudah, Bapak penjual urap jagung adalah manusia terkaya yang pernah saya jumpai dalam hidup.

Bersyukur. Sikap yang tidak dilahirkan dalam keberuntungan, barangkali. Tak mudah dilakukan, tak mudah dimaknai, tak mudah pula dipahami. Seiring berjalannya waktu dan tuntutan menjadi dewasa sebagai konsekuensinya, semakin saya tersadar bahwa hidup dan pilihan-pilihan di dalamnya adalah suatu sikap, dan tak kesemuanya harus dipahami oleh orang lain yang tiada bisa memahaminya.

Akhir kata pada diri sendiri, "Shame on You, Niken!"

 

 

  • view 176