Seakan, Hidup Hanya Untuk Pamer

Niken Prahastiwi
Karya Niken Prahastiwi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 18 Februari 2016
Seakan, Hidup Hanya Untuk Pamer

Sudah menjadi kebiasaan, orang-orang gemar sekali pamer jika punya barang-barang mahal dan bermerk. Sampai-sampai sayang untuk membuang kemasan yang terpampang nama merknya. Ini karena kebanyakan mereka berlomba-lomba agar seolah-olah mendapat pengakuan dirinya orang kaya dan gaul. Tak lupa, mereka berusaha untuk tampil semugih, agar orang-orang menganggap mereka adalah orang yang berada. Padahal dari pengamatan saya, orang yang jelas-jelas berstatus sosial tinggi justru tampil apa adanya. Mereka tidak tampil secara berlebihan dan bahkan tampak rendah hati. Satu hal lagi yang paling kentara ialah mereka tidak pernah berusaha untuk membuktikan bahwa mereka layak menyandang gelar kehormatan sebagai orang kaya yang diakui keberadaannya.
?
Dari yang saya amati oleh orang-orang disekitar, mereka membeli banyak barang mewah dan bermerk, yang jika dilihat dari segi harga belinya saja sepertinya setara dengan biaya makan selama sebulan, anak kos. Bahkan tak jarang, untuk memenuhi gaya hidupnya yang seperti ini, mereka sampai makan dengan kerupuk atau ikan asin. Tidak apalah, yang penting gaya! Mungkin kurang lebih seperti itu. murni dari pengamatan saya.
?
Fenomena membuat orang lain terkesan hingga memiliki rasa iri terhadap kita tidak cukup dengan membeli barang-barang bermerk saja. Mungkin cara menarik perhatian orang lain terkesan dengan barang-barang bermerk tadi bisa langsung di perlihatkan kepada teman rumpi, atau orang dijalan yang melihatnya lewat. Maka lain dari hal itu Media Sosial akan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membuat orang lain terkesan pada kita, yaitu untuk memajang foto-foto makanan dan tempat dimana kita pernah kunjungi. Anehnya, semakin banyak foto lokasi yang kita kunjungi, semakin sering kita nge-trip, semakin sering pajang foto di KFC atau cafe-cafe mewah.. followers kita akan semakin banyak. Inilah yang membuat kebanyakan dari kita bertahan dengan gaya hidup seperti ini hanya untuk membuat orang lain terkesan.
?
Apakah menyenangkan menjadi orang yang cenderung manipulatif? berpura-pura dan menjalani kehidupan yang sebenarnya bukan kehidupan yang nyata kita jalani. Gemar sekali membeli barang-barang yang tidak perlu, dengan uang yang tidak kita punya, hanya untuk memberi kesan kepada orang lain. Lalu apa yang sebenarnya bisa diperoleh? kepuasan hati berhasil membuat orang lain iri, just it? Kita seperti menjadi seseorang yang sedang melakukan misi penyamaran dan berpura-pura menjalani kehidupan orang lain, ketimbang jujur dengan apa yang ada, yang kita jalani sehari-hari. Tidakkah kita melihat gambaran lucu yang sebenarnya ada pada diri kita?
?
Lain dari itu, beberapa orang memliki cara agar orang lain terkesan dengan apa yang dilakukakannya. Bergabung dalam komunitas yang membawa diri dalam kebaikan, semisal dalam forum yang mengajak untuk peduli sosial. adalah salahsatunya. Memberi sedekah, berbagi dengan orang yang kurang beruntung. Namun mereka meninggalkan hakikat dan tujuan utama dalam sedekah tersebut. yaa.. Apalagi kalau bukan untuk pamer di media sosial yang menggambarkan foto-foto mereka dalam kegiatan bakti sosialnya, agar orang lain terkesan melihat hal positif atas apa yang dilakukannya. Memang, Tidak semua orang seperti itu. Namun jika benar adanya hal itu, ini tidak wajar. Kita tidak dianjurkan untuk berpura-pura menjadi diri yang lain hanya karena ingin berusaha membuat orang lain terkesan. Pada dasarnya, hidup sederhana menganjurkan kita untuk menjadi seorang pribadi yang positif dengan tidak melakukan hal-hal yang jauh dari esensi kehidupan itu sendiri. Jadi mulai sekarang, mari kita mencoba untuk tidak membuat orang lain terkesan.
?
?
Lalu bagaimana caranya?
?
?
Cukup tampil apa adanya saja, tidak perlu berlebihan. kita boleh membuat orang lain terkesan pada diri kita yang sebenarnya. Caranya dengan kita menjadi orang-orang yang berkesan karena kepribadian dan cara hidup kita, bukan dengan barang-barang mewah yang kita miliki. Karena hakikatnya, manusia tidak akan pernah merasakan kebebasan yang sesungguhnya, sebelum kita tidak mempunyai apa-apa lagi yang bisa kita pamerkan untuk membuat orang lain terkesan. Jangan terlalu silau dengan banyaknya harta yang orang lain miliki. Dengan begitu, kita tidak lagi menjadikan sebuah kekayaan, penampilan dan manis tutur lembutnya kata sebagai sebuah aset yang kita miliki untuk membuat orang lain terkesan. Kita justru lebih memilih menjadikan kepribadian dan cara kita menjalani hidup yang inspiratif untuk membuat orang lain terkesan.