Jatuh Cinta Diam-Diam, Sebagai Perempuan Aku Bisa Apa?

Niken Prahastiwi
Karya Niken Prahastiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Jatuh Cinta Diam-Diam, Sebagai Perempuan Aku Bisa Apa?

Namaku Niken, aku seorang perempuan.

Sebagai perempuan, aku sadar. Kami tidak ditakdirkan untuk memilih. Walau sebenarnya, perempuan tetap memiliki hak untuk memilih. Namun kembali kepada kodrat. Bahwa perempuan hanya untuk menerima, yaitu dengan cara mengiyakan atau menolak. Tapi Bukankah itu juga bagian dari sebuah 'memilih'? ntahlah. hakikat memilih yang sebenarnya, tidak semua orang paham.

Layaknya perempuan pada umumnya, aku juga pernah merasakan yang namanya cinta. selama satu setengah tahun aku belum memliki keberanian untuk sekedar mengakui perasaan inilah yang disebut cinta. mengagumi diam-diam tepatnya. iya, selama itu kutaruh hati pada seorang laki-laki yang aku rasa tidak memiliki pesona lebih sebagai alasan mengapa aku mengaguminya. tapi bukankah memang cinta tidak butuh alasan apapun? pada saat ini, aku mulai menyadari sejauh perasaan yang tak pernah berubah dan bahkan kian mengembang menjadi indah adalah 'Cinta'. Adalah Cinta yang tanpa kuminta. Cinta yang tak pernah kupaksa untuk ada. Kepada siapa, atau di mana? Namun Tuhan selalu punyai cara untuk mengirimnya pada hati tiap manusia. Termasuk aku, sebagai Perempuan.

Dialah, lelaki yang kusebut cinta.

Bukankah sangat indah ketika sedang jatuh cinta? Tentu saja, demikian kata kebanyakan kaum pemuda. Pun sama halnya denganku. Namun bagaimana jika jatuh cinta tersebut adalah cinta diam-diamnya seorang perempuan? Ini lanjutan kisahku setelah mengakui indahnya ketika sedang jatuh cinta. Lalu, bagaimana jika jatuh cinta diam-diamku ini tumbuh semakin hari semakin rindang membuahkan benih-benih harapan tanpa berani mengungkapkan. Ah, bagaimana bisa mengungkapkan, jika melihat dia lewat saja, jantung rasanya jedag-jedug tak karuan. Dan terlebih, aku yang hanya seorang 'perempuan'.

Aku cukup diuntungkan. Kami adalah mahasiswa satu kampus dengan jurusan yang sama dan mengambil kelas yang selalu sama. Mencuri-curi pandang adalah cara sederhanaku menikmati apa yang orang-orang sebut dengan nama 'cinta'. sesederhana ini? apanya yang sederhana? senyum-senyum sendiri melihatnya tertawa, lidahku dibuatnya kelu walau hanya dengan obrolan sederhana, deg-degan ketika dekat, dan.., menangis dibuatnya kagum. aku merasakan jatuh cinta yang keterlaluan setiap hari sepanjang 3 semester.

Ada satu hari yang terselip diantara kisah cintaku. Aku menyadari. melalui gosip para sahabat tentangnya. Hubungan yang telah dijalin bersama kekasihnya sejak masa-masa sekolah telah pupuskan harapan. Harapan yang pernah ada tanpa 'seorang-pun' tahu.

Satu hari yang tak memberi apa-apa, pupus harapan,- buang. Mencintainya adalah nikmat. Nikmat cinta yang harus dipertahankan. Bukankah suatu hal yang wajar tentang cerita cinta yang tak terbalas? aku salah satunya. Namun sejak saat itu, hidupku tidak lagi tentang perjuangan.

Malam itu hujan turun. Serupa tusukan jarum menghujam jantung. Demikian terjadi kala foto laki-laki beralis tebal bersanding dengan mesrah perempuan berjilbab pink, terpajang di akun instagram laki-laki yang aku sebut cinta. dia mengisyaratkan pada fotonya. bahwa aku adalah butir kemunafikan. bahwa mengagumi diam-diam itu sakit. bahwa jatuh cinta tidak selamanya nikmat. aku bisa apa?