Bulu Hidungku Panjang

Niken Prahastiwi
Karya Niken Prahastiwi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Desember 2016
Bulu Hidungku Panjang

ini tentang 'Rutinitas Pagi'. Sebenarnya aku tidak mengenal Runtinitas Pagi, karena tidak ada kegiatan yang aku lakukan secara rutin setiap pagi. Mandi pagi? Itu tergantung jadwal kuliah yang Jadwalnya tidak selalu dimulai pagi hari. Dan kalau liburan, mandi pagi sesuai dengan bangun tidurku. Terkadang jam 8, jam 10, jam 11 atau bahkan menjelang zduhur. Yang mungkin, mandi pagi berubah nama menjadi mandi siang dan itu artinya mandii tidak dapat dikatakan sebagai rutinitas pagi. Karena setiap liburan, malam hariku terisi penuh dengan aktivitas malam di depan laptop untuk main game atau sekedar stalking mant*n sampai menjelang subuh, alhasil aku melewatkan momen matahari terbit. Setidaknya, dalam sehari aku mandi dua kali. Yah.

Kembali lagi ke rutinitas pagi. Ini belum menyangkut judulnya, tapi sebagai pembukaan menurutku ini penting untuk dibahas. Aku memiliki cita-cita memiliki rutinitas pagi, simpelnya, aku mempunyai cita-cita mempunyai rutinitas pagi. Bukan! Aku memiliki cita-cita mempunyai rutinitas pagi. Namun selama aku memikirkannya sampai detik ini sejak setengah menit lalu, belum ada yang menarik untuk menjadi kegiatan yang bisa aku lakukan rutin di pagi hari. Mulai dari olahraga, sarapan, bersih-bersih, baca koran, ngopi, ngeteh, ngacangijo, hingga ngair putih, atau apalah yang biasa dilakukan orang-orang rutin setiap pagi, menurutku itu sama sekali tidak menarik.

Cita-citaku memiliki rutinitas pagi adalah agar aku bisa ‘bangun pagi’ seperti si anak ayam. Selain itu, agar aku tidak disebut sebagai pemalas. Rutinitas itu tidak harus sama seperti yang orang-orang lakukan pada umumnya. Awalnya, aku berfikir tentang satu kegiatan yang mungkin bisa aku lakukan sebagai rutinitas pagi, yaitu melipat kasur. Dengan melipat kasur, maka aku tidak akan tidur lagi di pagi hari. Tapi belum sempat aku lakukan kegiatan itu, aku berfikir bagaimana bisa aku melakukannya, sementara teman sekamarku, Wiwik Ismi Witarti, masih tidur pulas di atas kasur yang sama. Akhirnya, wacana tentang rutinitas pagi itu gagal. Bagiku, menentukan kegiatan yang bisa dijadikan rutinitas itu ternyata lebih susah dari pada melakukan rutinitas itu senidiri.

Pada suatu pagi, aku memaksakan diri bangun pagi dan mencari kegiatan yang barangkali bisa aku lakukan terus menerus di pagi hari, hingga membentuk suatu rutinitas. Ketika bangun pagi waktu itu, dengan malasnya aku berjalan ke arah cermin dan melihat wajahku yang layu disana. Ada sesuatu yang baru aku sadari entah sejak kapan. Saat kudekatkan wajahku ke cermin. Ternyata bulu hidungku panjang. Segera aku potong.

  • view 259