Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 7 Februari 2018   02:34 WIB
Mantan Buruh Cuci yang Kini Meraih Gelar S2

Nama aku Niko, berasal dari pedalaman Kalimantan Barat. Kampungku sampai saat ini belum ada listrik, apalagi sinyal internet. Kami terbiasa menggunakan pelita (lampu minyak tanah) sebagai penerang setiap malam. Kampungku letaknya diantara hutan-hutan dan kebun karet. Orang tua saya bekerja sebagai penyadap karet, bertani (subsisten), dan juga menjadi buruh tani. Sejak aku kecil aku sudah terbiasa bekerja menyadap karet dan bekerja di sawah untuk membantu orang tua ku.

Kami berasal dari keluarga yang kurang mampu (miskin). Waktu aku kecil aku terbiasa makan hanya nasi putih bercampur dengan garam dan minyak jelantah (minyak bekas goreng ikan asin). Kadang pula hanya makan dengan garam. Kadang-kadang saat bapak mempunyai rejeki lebih, bapak membeli mie instan satu bungkus untuk di makan kami sekeluarga. Sejak di bangku SMA, aku sudah membiayai sekolah sendiri membantu orang tua. Aku memilih sekolah siang hari, agar paginya aku bisa menyadap karet bersama bapak.

Saat di kelas XII SMA, aku di dorong oleh pihak sekolah untuk mendaftar beasiswa kuliah bagi siswa yang miskin dan berprestasi, beasiswa Bidik Misi. Bapak adalah orang yang sangat berusaha keras untuk melengkapi segala persyaratan yang diperlukan; seperti KK, KTP, Akta Lahir, dan banyak lagi. Sampai-sampai bapak berhutang demi mendapatkan persyaratan agar aku bisa mendaftar beasiswa itu. Aku kemudian diyakinkan oleh doa dan kerja keras kedua orang tuaku. Aku, Bapak dan Ibu menangis bersama ketika namaku tertera di pengumuman koran Pontianak Post sebagai penerima beasiswa penuh Bidik Misi.

Aku memulai kuliahku di Kota Pontianak dengan penuh semangat. Meski pada pertengahan kuliah, kondisi keuangan beasiswa sering mangkrah pencairannya, dana beasiswa yang tidak seberapa terkadang tidak cukup untuk membiayai hidup di Pontianak. Aku berinisiatif mencari alternatif penghasilan agar bisa bertahan hidup, tapi aku tidak ingin mengabaikan tugas-tugas kuliah. Aku kemudian pernah bekerja sebagai pelayan di kedai kebab, juga pernah bekerja sebagai buruh cuci, lalu aku menjadi wartawan setelah masuk ke dalam organisasi pers kampus. Jatuh bangun aku jalani dengan tanpa mengeluh, memikirkan kedua orang tuaku yang selalu semangat, dan mendoakanku senantiasa. Kadang mereka mengirimkan beras dan sedikit uang kepadaku. Beruntungnya aku berkuliah tanpa membayar tuition fee selama empat tahun. Aku lulus kuliah tepat waktu, dan dengan predikat cumlaude. Aku menjadi sarjana satu-satunya di kampungku.

Aku sungguh bersemangat, dengan dukungan orang tua dan ketulusan mereka berjuang demi aku. Tahun 2014 aku kemudian mengikuti seleksi beasiswa LPDP di Jakarta. Bapakku menjual sebidang kebun karet kami, agar aku dapat berangkat test beasiswa di Jakarta. Aku berjuang sungguh-sungguh, aku tidak ingin mengecewakan mereka, aku tidak ingin membuat mereka terluka. Puji Tuhan, saat pengumuman, namaku  tertera lulus menjadi salah satu penerima beasiswa LPDP jalur Afirmasi 3T.

Pada Tahun 2015, aku memulai studi S2 di Kota Bandung. Penuh perjuangan, penuh jatuh bangun menyesuaikan suasana dan keadaan. Bagaimanapun pergaulan di Bandung sangat berbeda dengan di kampungku yang sangat terisolir dan tertinggal. Puji syukur, dengan doa orang tuaku, aku dapat menyelesaikan pendidikan dalam tempo 1 tahun lebih. Aku memperoleh gelar magister di tahun 2017, artinya aku adalah satu-satunya anak yang menyelesaikan pendidikan S2 di kampungku.

Aku tidak pernah berpikir akan mampu sejauh ini. Menamatkan pendidikan di bangku SMA saja aku sudah sangat bersyukur, karena di kampungku sangat sedikit orang yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Apalagi sampai Sarjana, dan saat ini saya berhasil meraih gelar S2. Aku tidak akan pernah melupakan perjuanganku di masa lalu, juga keikhlasan dan perjuangan kedua orang tuaku, serta dukungan dari keluarga besar kami.

Karya : Nikodemus Niko