#KurinduITD-Manang, Pedalaman Kalimantan yang Damai

Nikodemus Niko
Karya Nikodemus Niko Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Oktober 2016
#KurinduITD-Manang, Pedalaman Kalimantan yang Damai

Matahari baru saja pulang ke peraduannya di Kampung Pejalu, Dusun Manang, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Seekor burung elang membentang sayapnya di udara, terbang lepas. Beberapa petani baru saja keluar dari ladang menuju pulang. Saya melangkah mengikuti para petani, yang semuanya adalah perempuan. Sama, saya pun hendak pulang menuju rumah.

Dusun Manang merupakan salah satu wilayah perkampungan terpencil di Kalimantan. Rumah-rumah warga di bangun di pinggiran anak sungai kapuas yang masih asri. Belakang rumah warga adalah hutan-hutan yang masih alami. Tidak ada jalan raya beraspal, tidak ada tiang-tiang listrik berdiri. Terdapat kira-kira 80 lebih KK (Kepala Keluarga) yang menghuni Dusun Manang.

Sungai di Kampung Pejalu (Koleksi Pribadi Penulis)

Dua kampung yang berada secara teritorial administratif yaitu; Kampung Pejalu dan Kampung Manang itu sendiri. Kampung Pejalu di huni oleh warga suku Dayak Mali dan menganut agama Katolik. Sedangkan Kampung Manang di huni oleh warga suku Melayu dan menganut agama Islam. Secara karakteristik, etnis, budaya dan agama, kedua kampung ini memiliki perbedaan drastis. Kemudian muncul beragam pertanyaan, apakah mereka berkonflik, bagaimana mereka menjaga keseimbangan?

Meminjam pemikiran Karl Mark yang yang menyatakan agama hanyalah tanda keterasingan manusia. Apabila warga di Kampung Pejalu dan Kampung Manang memilih untuk mementingkan ego perbedaan agama, maka dapat dipastikan mereka akan terasing satu dengan yang lainnya. Tetapi saya meyakini pasti bahwa warga di Dusun Manang tidak mengenal Karl Mark secara utuh dan mendalam, karena pendidikan masyarakat yang tertinggi adalah rata-rata tamat SD, sedikit yang tamat SMP dan tamat SMA. Saya adalah sarjana pertama di Dusun Manang, sejujurnya; pemerintah tidak memperhatikan tingkat pendidikan masyarakat di Dusun Manang. Ratusan tahun Dusun ini sudah ada, masyarakatnya tidak bersekolah. Tetapi masyarakat pandai menjaga kerukunan dan tali persaudaraan dalam perbedaan.

Semenjak saya lahir, hingga detik ini belum terdapat konflik dalam bentuk apapun di Dusun Manang. Sebaliknya, yang terjadi adalah persaudaraan, kekeluargaan, rukun, dan saling menghargai. Apabila terdapat suatu acara adat di Kampung Pejalu, maka warga masyarakat di Kampung Manang turut di undang, atau jika hari raya Natal maka warga muslim di Kampung Manang mengunjungi rumah-rumah warga Katolik di Kampung Pejalu. Sama halnya ketika lebaran, warga Katolik di Kampung Pejalu mengunjungi rumah-rumah warga muslim di Kampung Manang. Hubungan silahturahmi ini terjaga secara turun temurun, hingga hari ini. Tidak ada pertikaian dan diskriminasi.

Mereka berinteraksi secara intens di sawah, pasalnya hamparan sawah milik warga Melayu dan warga Dayak Mali di Dusun Manang sama-sama di lokasi yang sama, disebut me’k impong’k. Hidup mereka aman, meski tanpa polisi yang mengawasi siang dan malam. Ketika saya membaca penggalam puisi Denny J.A.; “Ibu apakah ada internet di surga? Apakah google bisa di buka disana? Apakah youtube juga ada? Di surga apakah aku tetap bisa kirim instagram ke Rini dan Rama” (Adakah Internet di Surga?) pertanyaan Rosa, gadis berusia sepuluh tahun. Jika jawabannya adalah ‘tidak ada internet di surga’, bolehkah saya menyebut Dusun Manang sebagai surga? Karena, jangankan internet, listrik saja tidak ada di Dusun Manang.

Semenjak tinggal di Kota, saya selalu disuguhkan dengan berita-berita bersinggungan antar agama, antar etnis, bahkan antar tetangga. Representasi Indonesia secara keseluruhan seolah-olah hanya masyarakat perkotaan saja. Sehingga citra yang terjadi adalah Indonesia yang tidak rukun, Indonesia yang tidak damai, Indonesia yang penuh diskriminasi. Padahal masih terdapat banyak daerah di pedesaan terpencil yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan.

  • view 330