Surat Dari Surga

Nikodemus Niko
Karya Nikodemus Niko Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Surat Dari Surga

I call this a letter from heaven.

Suatu malam gerimis, luruh gendang telinga terserang rintik air menyerang atap sebuah angkringan di kawasan kampus ternama di Kota Bandung.

Seketika pula, angkringan itu mendadak di serang pengunjung ramai--karena tak ingin kebasahan--mereka duduk dan memesan menu.

Ah, selalu saja lele goreng menjadi menu favoritku dimanapun berada. Dan teh anget tawar, sebagai penghangat dari sepoi angin yang di bawa gerimis.

Tak dapat dielakkan pengamen, pengemis, dan anak jalanan berdatangan. Tidak sampai seratus meter dari tempat ku duduk, berdiri kokoh Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk program Master dan Doktor. Pikirku, kemana master doktor ini kok tidak mampu membersihkan peminta-minta ini? Harusnya mereka punya plan unggulan menuntaskan orang-orang yang tidak ber-uang ini. Kemana mereka? Mengapa absen, setidaknya menyuarakan perbaikan ekonomi untuk pengemis, pengamen, peminta-minta. Kalangan ini bukan saja social problem, tapi juga economic sick. Ekonomi negeri ini betul-betul sakit, yang kaya disejahterakan, yang miskin semakin saja miskin. 

Aku setuju dengan ungkapan Martin Luther King, Jr. "The greatest tragedy of this period of social transition was not the strident clamor of the bad people, but the appalling silence of the good people". Bahwasannya kemiskinan, penindasan, ketidakadilan terjadi bukan karena bertambahnya orang jahat, melainkan diamnya orang-orang baik.

Berulang, berpikir, lele bakar sudah terhidang, hangat, baunya menyengat, khas, itu lele.

Sergah, datang seorang anak perempuan kira-kira 8 atau 9 tahun umurnya. Berambut panjang, di ikat tapi tidak rapi, ia membagikan amplop di setiap meja berpenghuni. Anak jalanan perempuan, malam buta mengumpulkan uang entah untuk siapa. Entah sudah makankah ia? Terlintas bayang adikku di kampung. Sedih tapi tak mungkin ku mewek di tengah keramaian. Oh, Tuhan. Di kamar, aku menitikkan air mata, tidak terbayang jika adikku ada di posisi anak itu.

Di mulut amplop itu bertuliskan kata-kata permohonan maaf, tanpa ada kata "meminta" dalam kalimat maupun tersirat. 

Aku ketik ulang; "kepada bapak ibu kaka adi semuanya semoga bapak ibu kaka adi punya sisa rejeki untuk menyisakan sedikit sedekah..."

Kalimat ini mengingatkan kita untuk selalu bersedekah kepada saudara/i kita yg bernasib tidak beruntung, agar kita mensyukuri setiap nikmat rejeki yang kita terima setiap saat, sudah semestinya kita berbagi. Semoga kita selalu mensyukuri  kurang ataupun lebihnya rejeki, bersedekah pada orang yang membutuhkan tak perlu menunggu berlebih harta. Semoga.

Seruput terakhir teh anget sedikit pekat itu berlabuh pada remah-remah daun teh kering yang alami. Aku beranjak, menembus gerimis, pulang. 

  • view 224