Diantara kebahagiaan dan kesulitan saudara kita

Nia Nur Azizah
Karya Nia Nur Azizah Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Juli 2016
Diantara kebahagiaan dan kesulitan saudara kita

Satu hal yang tidak terlewat ketika pergi untuk kuliner bersama teman-teman, yaitu ketika sebelum makan pasti makanan itu difoto terlebih dahulu. Kemudian diupdate dengan caption yang menandai bahwa kita sedang makan enak dengan teman lama. Atau caption lain. Sekilas saya merasa heran.. Untuk apa mengupdate hal semacam itu. Bukankah itu terlihat norak?? Tapi, husnudzon saja mungkin orang itu ingin berbagi kebahagiaan. Namun, ada alasan lain yang lebih logis dan membuat orang akan berpikir kembali untuk melakukannya.

Saya sering pergi makan diluar bersama teman saya, beberapa kali makan bersamanya makanan yang saya makan tidak habis. Alasannya banyak, ntah karena itu lagi sakit, tidak enak makan, atau bahkan kekenyangan. Tapi satu hal yang membuat saya salut dan benar-benar berpikir kembali untuk menghabiskan makanan itu. Acapkali teman saya berkata "kamu tau gak? Diluar sana masih banyak orang yang kurang beruntung bisa makan seperti kamu. Bahkan ada juga diluar sana mereka yang benar-benar tidak makan beberapa hari. Ingat, bukan seharian, tapi beberapa hari. Sekarang, kamu habisin makannya. Sedikit sedikit saja.. Kita sambil ngobrol. Aku tunggu kamu sampai nasi dan lauknya kamu habiskan dengan bersih meskipun sampai larut malam." Sayapun kembali memakan makanan itu sedikit demi sedikit dan memang sampai habis.

Terus, apa hubungannya dari cerita diatas? Pertama orang yang selalu update tentang makanan bahkan ada yang sampai selfie dengan background di belakangnya berjajar makanan yang unik dan lezat, dengan cerita yang kedua tentang menghabiskan makanan??

Ukhti, akhi, sis, bro. Dari cerita diatas saya memetik beberapa hikmah. Bahwa memang diluarsana masih banyak orang yang kurang beruntung dari kita. Tidak sama sekali menemukan sepiring nasi dalam beberapa hari, bahkan banyak diberita-berita orang yang kurang beruntung makan dengan nasi aking. Pun di media sosial kita semua mengetahui, tidak semua orang seberuntung kita bisa menyantap makanan selezat yang kita temukan. Bisa jadi orang yang melihat update.an kita sedang dalam keadaan susah. Terkadang kita lupa hal sesederhana itu. Terkadang kita lupa cara kita bersyukur seperti apa. Terkadang juga kita lupa cara berbagi kebahagiaan itu pantasnya seperti apa. Jika mengingat semua itu, rasanya hati ini malu.

Sore ini sayapun ditegur oleh seorang karib. Kurang lebih seperti ini " kenapa sih kamu lebih seneng cerita hal-hal yang tidak menyenangkan? Bahkan kamu selalu bercerita tentang kesulitan-kesulitan. Seolah kamu selalu mengeluh. Kamu mau sama Alloh ditambahin kesusahan kamu??" Sayapun tersenyum, merasa kritikan itu wajar. Karena tidak ada manusia yang tahan terhadap keluhan manusia lain. Ya, semuanya ada titik jenuh. Alasannya sederhana, mengapa saya lebih suka bercerita yang dia anggap bahwa saya seakan terus mengeluh?. Pertama, orang yang bijak bisa mengambil hikmah dari apa yang menimpa saudaranya. Kedua, dengan mendengar berita hal yang kurang membahagiakan bukankah saudara muslim bisa mendo'akan atas kesulitannya?. Ketiga, ujian yang menimpa saudaranya layaknya membuat saudara yang mendengarnya bersyukur karena dijauhkan dari kesulitan yang menimpa saudaranya. Keempat, kita bisa berhusnudzon bahwa hanya dengan mendengarkan keluhan saudaranya, sedikitnya saudaranya tidak merasa sendiri dalam kesulitan itu. Kembali saya membayangkan jika saya berbagi kebahagiaan. Tidak sedikit orang yang mendengar akan berpikir bahwa kita pamer. Lebih parahnya jika kebahagiaan yang saya temui ternyata malah membuat dia sedih, bahwa kebahagiaan yang saya alami adalah kebahagiaan yang selama ini belum dia rasakan. Contoh "sis, alhamdulillah aku ga nyangka si dia beliin aku baju lebaran." Kan zaman ini lagi musim baper, malah dijawab "wah? Syukur atu. Kamu beruntung dibeliin baju lebaran. Akumah apa atu, baju lebaran aja ngga apalagi dapetin pasangan sebaik pasangan kamu" atau "sis, alhamdulillah keluarga hari ini mau main ke bali. Ada ayah ibu kaka semua ikut. Kamu ikut ya?" Jawabnya "wah asik tuh ke bali. Duh ngga deh itu kan acara keluarga. Aku ga ikut (tuhkan kenapa sih ayah ga pulang-pulang. Org lain mah kumpul bareng. Akumah apa atuh, ayah pulang aja cuma mimpi)."

Nah, alasan sederhana itu yang membuat saya lebih banyak bercerita kesusahan ketimbang kebahagiaan. Kesusahan seorang saudara muslim membuat kita mendo'akannya, bersyukur dijauhkan dari kesulitan yang dialami saudaranya, sedikit mengurangi bebannya, atau bisa jadi kita perantara dari pertolongan Alloh untuk meringankan kesulitannya. Tapi ingat, Rasululloh berpesan agar kita bercerita hanya pada orang terdekat dan hanya orang yang baik kepada kita saja. Selebihnya, Wallohu'alam.. hanya Alloh SWT yang membolak balikan hati manusia. Dan semua niat kembali pada Alloh.. Tidak ada yang mengetahui sesungguh-sungguhnya niat manusia.

  • view 272