Dia adalah Ego

Nia Febrianti
Karya Nia Febrianti Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Januari 2016
Dia adalah Ego

Hari ini ada yang terasa ngilu di sudut hati ini. Ada yang terkoyak dalam batas kesadaran mata ini. Ia menggelayut. Ia bersemayam dalam ruang yang tertutupi ego. Matanya dalam dan tajam. Memandang sinis pada sebuah kelemahan yang terpapar. Senyumnya mengembang tipis, mengejek pada sisi ego yang selalu dipertahankan. Ia adalah penyesalan. Ia yang menghantui manusia pada beberapa sisi kehidupannya.

Penyesalan, selalu hadir ketika manusia telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam perjalanannya. Penyesalan yang selalu hadir kala manusia lupa untuk menghargai apa yang pernah digenggamnya. Namun penyesalan, seringkali ia tersingkirkan, terbatas pada apa yang dinamakan sebagai keangkuhan. Sementara di lain sisi, penyesalan seharusnya dijadikan sebagai obat, semestinya ia menjadi penawar bagi keangkuhan yang seringkali menjadi raja di hati manusia. Selayaknya penyesalan berjalan beriringan bersama sang nurani yang selalu menyuarakan kebenaran.

Adalah ego, yang seringkali menutupi hati manusia. Ia yang melahirkan keangkuhan dan memenjarakan kelembutan. Ego pula yang membuat penyesalan menjadi tak berarti di hadapan diri. Alangkah bijaksana ketika ego mampu ditempatkan pada tempat yang semestinya. Alangkah indahnya ketika ia berjalan tanpa keangkuhan semata. Karena ia mampu memberikan ketegaran pada seorang manusia. Karena ego mampu membuat manusia berharga. Karena ego pula yang membuat manusia bertahan pada pijak kakinya tanpa tergoyahkan oleh apapun.

  • view 104