Hal indah yang bisa dicontoh dari keluarga

Nia Asniawati
Karya Nia Asniawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2016
Hal indah yang bisa dicontoh dari keluarga

Pagi buta seperti ini biasanya ayah masih duduk santai. Menikmati suasana pagi yg menyejukkan. Belum bersiap kerja untuk menafkahi keluarga. Seharusnya ayah masih santai dengan kopi hangatnya. Dengan rambut basah yang terlihat menyegarkan, sembari menungguku memberesi semua dan diantar bekerja (Hanya sementara. Kewajiban PKL).

Tapi hidup memang tak melulu sama. Kadang harus santai. Kadang juga harus bergegas. Seperti ayah saat ini. Ayah harus cepat berangkat. Ayah tak lagi bisa mengantar. Tak lagi bisa menikmati kopi di pagi hari. Ibu juga harus ikut sibuk membantu ayah menyiapkan semuanya. Sarapan. Baju. Perlengkapan kerja. Semuanya harus ibu siapkan. Ibu juga mulai repot karena bukan hanya mempersiapkan keperluan ayah, tapi ibu juga harus mengurus adikku yang masih kelas IV SD. Terkadang aku juga malah ikut membuat ibu repot. Semua terlihat begitu sibuk pagi ini.

Sepertinya waktu begitu cepat berlalu. Sudah pukul 07.15 tapi aku belum berangkat juga. Seharusnya aku ingat dari tadi. Hari ini tak ada antar mengantar. Aku harus naik angkutan umum dan menghabiskan waktu selama kurang lebih 40 menit. Sedangkan masuk pukul 07.30. Ahhh aku harus terlambat kali ini. Tapi biarlah, nyatanya pekerjaan ayah lebih penting.

Terlihat sekali ayah tak tega membiarkan aku pergi dengan naik angkutan umum sesiang ini. Ibu juga memberi saran untuk mengantarku saja. Tapi aku tak tega. Ayah kan bukan robot. Ayah sudah terlalu tua. Kasihan kalau semua urusan harus ayah tanggung. Aku sudah besar. Tak boleh terus merepotkan. Walau sebenarnya masih harus merepotkan, tapi setidaknya tidak merepotkan dalam hal sekecil ini. Tapi lagi lagi ayah mendengarkan saran ibu. Ayah mau mengantarku.

 

“Ayah, antarnya sampai jalan sana saja, kan udah deket. Nanti ayah yang telat. Aku bisa sendiri. Lagian tinggal naik satu angkot lagi juga sampai.”

 

Walau suaraku terdengar tak begitu jelas karena kendaraan yang hilir sana sini, tapi sepertinya ayah mendengar. Ayah juga mengangguk, karena mungkin ayah juga tak boleh telat.

Aku turun di tempat yang kusarankan tadi. Kutunggu angkot tujuanku. Selang beberapa menit angkot itu berhenti tepat di depanku. Segera berpamitan pada ayah yang masih menunggu.

Sekitar pukul 08.00 aku sampai di tempat PKL. Datang dengan napas yang tak beraturan.

Syukurnya pembimbing yang biasanya sudah datang, tak biasanya belum ada di ruangan. Tapi walaupun sudah datang, pasti aku tak kena marah. Nyatanya pembimbingku ini begitu baik.

 

Drrrrttt Dddttt *suara hp

Tak biasanya ada pesan masuk jam segini pikirku. Segera kubaca dan ternyata pesan dari ayah.

“Kak udah nyampe?” Katanya. Ku balas “Udah yah, tadi jam 8”. “Ohh iya Alhamdulillah. Tadi ayah khawatir. Kakak naik angkot sendirian, jadi ayah tulis plat mobilnya. Takut gak disampein” balasnya.

 

Air mataku terjatuh. Kasih sayang seorang ayah yang begitu luar biasa. Kasih sayang yang tak akan pernah hilang termakan waktu. Rasa sayang yang setiap harinya tumbuh semakin besar. Keromantisan seorang ayah yang real terjadi pada kehidupanku.

Tak perlu lagi sibuk mencari seorang lelaki yang akan melindungiku dengan sepenuh jiwa raganya. Tak perlu lagi cemburu pada mereka yang digombali ini itu. Tak perlu lagi. Karena jelas. Bukan lagi gombalan. Ini nyata. Tak ada yang lebih romantis selain romantisasi seorang “Ayah”. Ayah, harapku hanya satu. Sehidup Sesurga bersamamu.

  • view 149