Untukmu yang Pernah Berjuang Bersama

Nia Utami Rachmawati
Karya Nia Utami Rachmawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Maret 2016
Untukmu yang Pernah Berjuang Bersama


Terimakasih karena sudah pernah hadir dan mengisi hari yang dulu bersama.
Inilah aku. Aku yg pernah berjuang bersama kalian disuatu tempat. Aku yang selalu berusaha meluangkan banyak waktu untuk kita. Aku yang dengan segala kekuranganku mencoba sempurna dengan kalian. Aku yang menjadi orang pertama yang tidak terima ketika kita dihina dan direndahkan oleh yang lain. Aku rasa kalian pun begitu.
Saat itu aku benar-benar bahagia bisa terpilih dari ribuan orang dibumi yang berhasil menjalin hubungan dg kalian. Aku rasa itu sebuah seleksi dan ini tidak mudah. Karena ada banyak jutaan orang yang mungkin kesepian dan tak berkesempatan bertemu dengan orang-orang seperti kalian. Bukan hanya sebagai partner, bukan juga hanya sekedar teman tapi lebih dari itu, kalianlah keluarga ku diperantauan.
Hari itu, minggu itu, bulan itu dan tahun itu adalah waktu berharga dan berkesan untukku. Setiap detik dan menit yg bergerak tidak pernah luput dari kebersamaan kalian. Semua rasanya selalu bersama.
Tapi saat ini semuanya berbeda dan berubah begitu cepat. Ketika ada sesekali waktu tak bisa bersama, ada rasa nyata yang kini dirasakan. tapi aku tidak dapat mendiagnosanya. Yang ku tahu hanya rasa sesak dan sakit. Rasanya semua kebersamaan berjuang selama ini terhapus begitu saja hanya karena satu waktu.
Kecewa??? Mungkin. Tapi aku harap tidak. Karena rasa itu hanyalah kenyataan yang tidak sama dengan harapan. Iya harapan. Harapanku yang terlalu besar namun gagal teraspirasi.
Aku tidak marah pada ini, aku pun tak ingin dendam dengan siapapun. Karena apapun posisi kalian saat ini, kalian akan tetap punya tempat dihati dan dikehidupanku. Pada hati, ku ingin tetap menempatkan kalian sebagai keluarga. Ku tahu saat ini terluka, tapi aku tidak tahu siapa yg akan memulihkan hati ini kembali. Banyak anggapan orang yg bilang sebenci apapun kita pada keluarga akan ada satu hari dimana ketika kita salah dan dihakimi semua orang maka dikondisi inilah hanya akan ada keluarga yang masih bersedia menyumbangkan telinganya untuk mendengar, meminjamkan pundaknya untuk bersandar, dan merentangkan tanganya untuk memeluk kemudian mengatakan "Jangan takut, masih ada kita". Dan saat itulah aku masih menyimpan harapan.
Dan pada kehidupan akan ku tempatkan kalian sebagai guru. karena kalian, aku menjadi belajar banyak hal. Aku belajar bagaimana pernah memiliki dan dimiliki, bagaimana diikat dan dilepaskan, bagiamana tertawa, ditertawakan dan menertawakan, mengangis dan ditangisi, merebut dan diperebutkan, mengerti pilihan kekeluargaan atau profesionalisme, mengerti bahagianya saat masih dibutuhkan dan mengerti saatnya mulai diabaikan, aku pun jadi mengerti arti kekeluargaan itu sendiri.

Keluarga itu ibarat rumah, jika dari betonya saja tidak kokoh maka rumah itu cepat roboh.
Keluarga itu jika satu sakit, maka semua akan merasakan sakit.
Keluarga itu akan selalu merasa kehilangan dan mencari anggota keluarganya jika dirasa tidak komplit.
Keluarga itu bukan hanya sekedar ucapan yang digembor2 dan dijunjung tinggi tapi tidak ternilai, keluarga itu dirasakan.
Terimakasih yang sudah mengartikan keluarga sedemikian indahnya. Semoga kau yang disana tidak lupa dengan apa yang pernah terucapkan.