Masihkah Kita Membutuhkan Layar Kaca yang Satu Ini?

Nordiana Kholidha
Karya Nordiana Kholidha Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Februari 2016
Masihkah Kita Membutuhkan Layar Kaca yang Satu Ini?

Saat ini rasanya kita sudah bosan untuk menonton televisi Indonesia, acara-acara yang disuguhkan kurang bervariasi dan jenis program dalam setiap stasiun televisi yang rata-rata hampir sama, membuat kita merindukan acara-acara tv di era 90-an dan awal tahun 2000-an. Saat ini rata-rata acara tv diisi dengan acara-acara yang tidak bermutu, seperti sinetron, reality show yang pada kenyataannya banyak yang tidak sesuai dengan fakta dan kesannya acara tersebut dibuat-buat, ajang pencarian bakat menyanyi dan acara musik yang diselingi dengan banyak candaan dari para presenternya, ada pun berita yang sarat kepentingan dari pemilik tv tersebut.

Sungguh ironis memang dengan adanya tayangan tv sekarang ini yang hanya mementingkan rating bukan kualitas acara tv tersebut, para pemilik tv swasta sepertinya berlomba-lomba untuk kepentingan bisnis dengan membuat program yang diminati masyarakat berdasarkan rating, padahal belum tentu rating itu menunjukkan kualitas program tv tersebut baik, dan belum tentu juga mendapat rating tinggi itu bisa menandakan program tersebut banyak diminati. Meskipun begitu, masih banyak orang yang menonton tv sebagai sarana hiburan dan mendapatkan informasi. Apalagi orang awam yang tinggal di pedesaan, biasanya mereka langsung percaya dengan apa yang mereka lihat di televisi, entah itu acara reality show, ajang pencarian bakat menyanyi, maupun infotainment yang isinya hanya menampilkan sensasi para artis bukan karir dan prestasi para artis tersebut. Padahal acara-acara semacam itu kesannya hanya dibuat-buat untuk menarik perhatian penonton demi menaikkan rating acara tv tersebut.

Masyarakat seakan terhipnotis dan larut dalam dunia layar kaca, bayangkan saja ada yang sampai membicarakan acara kuis berhadiah barang-barang mewah dan uang jutaan hingga milyaran rupiah yang ditayangkan hampir setiap hari, lucunya masyarakat awam menganggap kuis tersebut benar-benar nyata dan hadiah tersebut benar-benar ada. Jika kita pikir dengan logika, apakah mungkin hadiah barang-barang mewah seperti mobil, handphone, motor dan uang jutaan rupiah dibagikan setiap hari kepada para pemenang kuis tersebut?

Tidak sedikit juga acara yang sengaja dibuat hanya untuk kepentingan rating acara tv tersebut, misalnya aktris/aktor yang sedang naik daun terus diekspos, bukannya mengekspos karir, pendidikan, maupun prestasi dari sang aktor/aktris tersebut melainkan mengungkit-ungkit kehidupan pribadinya, sampai-sampai dompet aktor/aktris tersebut juga dibongkar agar penonton mengetahui isi dompetnya tersebut, untuk apa penonton disuguhkan tayangan semacam ini yang tidak penting, lebih baik mengulas sisi positif dari para artis yang bisa dijadikan panutan dan motivasi bagi anak muda untuk terus berkarya. Ada lagi ajang pencarian bakat menyanyi yang berdurasi hingga berjam-jam, padahal acara tersebut durasinya bisa lebih pendek dari itu jika tidak diselingi dengan candaan dari presenternya yang banyak, dan komentar-komentar dari para juri yang juga banyak, akhirnya acara tak terkendali karena presenternya saja sudah banyak apalagi mereka masih saling berebutan untuk berbicara, itupun kalau setiap presenternya kebagian berbicara semua, kadang ada yang hanya kebagian mengucapkan beberapa kalimat dan ada presenter yang banyak berbicara, jadinya acara tersebut tidak efektif dan hanya membuang-buang waktu saja. Ini sangat berbeda dengan ajang pencarian bakat menyanyi pada era 2000-an awal yang hanya memiliki satu presenter dan minimal ada tiga juri yang semuanya memiliki wibawa sebagai seorang publik figur, tidak seperti saat ini presenter atau selebriti lainnya jika baru terkenal dan setiap hari muncul di beberapa stasiun televisi, pasti suka melucu dan bercandaannya tersebut garing karena mereka asalnya bukan komedian, hal ini kesannya selebriti tersebut mengikuti script (naskah) yang sudah diatur sedemikian rupa agar menarik perhatian penonton demi menaikkan rating acara tv tersebut.

Beda sekali dengan acara tv era 90-an hingga 2000-an awal, di era tersebut acara-acara tv masih banyak yang berkualitas dan menampilkan unsur edukatif. Tidak seperti sekarang, kebanyakan stasiun televisi dipenuhi acara-acara yang tidak bermutu dan jarang sekali menyelipkan unsur edukatif. Pada jam tayang prime time banyak stasiun televisi yang menayangkan sinetron stripping, coba saja pada jam tayang tersebut diisi acara-acara yang bisa membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat terhadap negara Indonesia dan program yang bisa mencerdaskan anak bangsa, misalnya kuis cerdas cermat, video pembelajaran, atau film pendek bertemakan pendidikan. Kalaupun stasiun tv tersebut ingin tetap menayangkan sinetron, setidaknya sinetron tersebut harus bertemakan pendidikan atau menyelipkan unsur sejarah, atau membuat program yang bisa memperkenalkan daerah-daerah yang ada di seluruh Indonesia agar kita bisa mengetahui tentang seluk-beluk dan wilayah-wilayah negara kita sendiri. Kan sayang sekali, pada jam-jam tersebut masih banyak anak-anak yang belum tidur dan sedang asyik menonton tv, jika acara tv tersebut diselipkan dengan unsur pendidikan setidaknya anak-anak yang menonton tv bisa belajar dan mendapatkan manfaat dengan adanya tayangan yang bersifat positif tersebut.

Terlepas dari masalah tayangan televisi, budaya masyarakat Indonesia yang suka meniru-niru dan mengikuti sesuatu yang sedang nge-trend, juga terjadi di beberapa stasiun televisi yang ikut-ikutan stasiun tv lain dengan membuat acara yang sedang digandrungi masyarakat dan mendapatkan rating tinggi. Gara-gara menayangkan serial drama luar negeri sukses, maka stasiun tv yang lain pun berlomba-lomba ikut menayangkan serial drama asing. Akhirnya banyak serial drama asing bermunculan di tv Indonesia, dan yang lebih parah lagi serial drama asing tersebut menempati hampir seluruh slot di sebuah stasiun tv swasta Indonesia, hal ini dikarenakan banyaknya peminat serial drama buatan luar negeri tersebut. Ini sudah menyalahi aturan, mengapa slot serial drama asing lebih banyak ketimbang acara buatan stasiun tv Indonesia itu sendiri. Memang penonton banyak yang mengeluhkan lebih baik menonton serial luar negeri daripada menonton sinetron Indonesia yang alurnya tidak jelas, episodenya panjang, dan temanya selalu sama. Hal ini menjadi acuan bagi pemilik tv swasta dan rumah produksi sinetron Indonesia agar tidak terpaku pada rating tetapi kualitas sinetron diutamakan, kalau memang ceritanya tersebut sudah selesai untuk apa sinetron tersebut dibuat lebih panjang episodenya, lebih baik membuat sinetron baru bukan dengan tema yang sama lagi agar tidak monoton, atau membuat program baru yang lebih berkualitas dengan gebrakan baru yang aman dan baik ditonton untuk anak-anak. Seperti dahulu era 90-an hingga 2000-an awal, ada sinetron yang dibuat khusus untuk anak-anak, sehingga anak-anak tidak dewasa sebelum waktunya. Pada era tersebut juga disediakan program untuk anak-anak, seperti acara musik yang menampilkan lagu anak-anak pun masih banyak bermunculan, tidak seperti saat ini anak kecil sudah menyanyikan lagu-lagu milik orang dewasa apalagi lirik lagu orang dewasa saat ini kebanyakan seronok dan tidak pantas untuk diperdengarkan kepada anak kecil. Coba kita dengar lagu di era 90-an, 80-an, dan 70-an liriknya mengandung makna tersirat, terkadang mengandung peribahasa, memiliki arti yang mendalam, dan gaya bahasanya pun memiliki nilai estetika tinggi. Jika kita perhatikan dari segi bahasa, lirik lagu di era-era tersebut jauh lebih baik daripada lirik lagu saat ini yang maknanya tersurat seperti menjelaskan sesuatu secara terbuka tanpa memperhatikan gaya bahasa yang baik dan menarik. Nah, dari sini saja kita sudah bisa membedakan gaya bahasa anak muda zaman dulu yang digunakan saat menulis atau berbicara penuh dengan makna dan arti yang mendalam seperti gaya bahasa dalam karya sastra, dibandingkan dengan anak muda zaman sekarang yang menggunakan bahasa Indonesia secara asal-asalan.

Miris sekali melihat anak muda zaman sekarang yang sampai rela bertengkar di media sosial sampai mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak sepantasnya diucapkan kepada manusia hanya untuk membela dan mendukung acara tv yang disukainya, padahal acara yang mereka tonton belum tentu bermanfaat dan menguntungkan untuk mereka. Dalam hal ini kebanyakan dari mereka yang menyukai sinetron dan mengidolakan aktor maupun aktris dalam sinetron tersebut. Inilah akibat tayangan televisi yang dapat menyebabkan pembodohan pada masyarakat, khususnya anak muda zaman sekarang yang semakin larut dalam dunia tv dan melupakan dunia nyata akibat seringnya menonton acara tv yang tidak mendidik, biasanya tayangan sinetron yang sering menampilkan bullying, tokoh antagonis yang selalu jahat, tokoh protagonis yang baik, sabar, dan selalu tertindas. Hal semacam ini yang bisa mempengaruhi pola pikir anak. Memang bukan sepenuhnya salah tayangan televisi, tapi setidaknya acara semacam itu bisa dikurangi atau jam tayangnya diubah, dan juga perlu adanya pengawasan dari orang tua saat anaknya menonton acara-acara tv.

Sebagai media elektronik yang sifatnya mudah dijangkau oleh semua kalangan masyarakat dibandingkan dengan media elektronik lainnya seperti internet, tv seharusnya bisa menjadi media untuk menyalurkan informasi yang terpercaya, dan diharapkan dengan adanya tayangan televisi yang berkualitas juga bisa menjadi sarana untuk membantu pengembangan pendidikan anak, karena pendidikan bukan hanya diperoleh dari sekolah tetapi anak-anak juga bisa mendapatkan pengetahuan dan informasi dari televisi.

Program berita yang seharusnya bersifat informatif, saat ini menjadi berita yang sarat kepentingan dari pemilik tv swasta. Berita yang sampai ke tangan pimpinan redaksi atau editor apabila tidak sesuai dengan keinginan si pemilik tv tersebut, maka bisa jadi berita tersebut tidak ditayangkan, atau berita yang seharusnya menyajikan informasi penting dan terpercaya malah sarat dengan kepentingan politik dari pemilik tv tersebut. Akhirnya masyarakat dibuat bingung dengan adanya berita yang saling menjatuhkan antara stasiun tv yang satu dengan yang lainnya, dan informasi penting yang dibutuhkan masyarakat jadi tidak tersampaikan.

Program-program yang disuguhkan televisi seharusnya bisa memberikan manfaat bagi semua kalangan masyarakat, terutama bagi generasi muda yang diharapkan bisa mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Acara-acara tv yang mengakibatkan terjadinya pembodohan masyarakat seperti sinetron, reality show, atau program yang dibuat mengada-ada dan terlihat seperti setting-an sebaiknya diganti dengan acara yang yang lebih bermanfaat dan berkualitas, karena tayangan tv bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat apalagi anak-anak kecil yang belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Sebagai masyarakat, kita seharusnya bisa menjadi penonton yang cerdas, memilih tontonan tv yang baik dan bermanfaat, apabila mendapat informasi di tv sebaiknya jangan langsung percaya karena setiap stasiun tv kadang penyampaian informasinya berbeda dan perlu dikaji kebenarannya.

?

Sumber Gambar :??www.clipartpanda.com?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??www.thinkstockphotos.ca

  • view 476