Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 18 November 2017   15:14 WIB
Sebuah Tiang dan Seorang Sakti

Aku baru tahu bahwa ada yang lebih tegar dari rindu ini dan pohon randu yang selalu kukagumi itu.

Adalah tiang listrik atau tiang lampu yang sering diabaikan adanya oleh mereka yang berlalulalang, sepotong tegak di pinggir jalan itu. Ulah tabrak diri yang seolah-olah kecelakaan dari seorang aktor politik yang sedang dalam sandiwara pelariannya ternyata tak sanggup menghantam apalagi merobohkannya. Mungkin ia ingin merasa jumawa di hadapan manusia yang disebut sakti oleh banyak orang itu tapi hobinya mangkir jadi pesakitan. 

Tiang tahu bahwa aktor politik nan sakti itu hanya mencoba main drama. Tetapi aktingnya terlalu ngantuk dan skenarionya lucu serta selalu mudah ditebak awam. Rumahnya yang besar seharga ratusan milyar ternyata tak mampu menaungi keserakahannya, tak mencerminkan tanggung jawab tinggi salah seorang pimpinan lembaga negara. Tiang entah mengapa meski tidak mau akhirnya merasa kasihan juga dan tetap tidak paham pada manusia sejenis ini.

Kini tiang di Jakarta itu dielu-elukan hampir seluruh rakyat Indonesia, ramai dibuat guyon dan jadi idola baru. Ia senang sekaligus sedih, tiba-tiba kangen masa sunyi kemarin ketika hanya berteman rembulan di malam sepi dan debu-debu jalanan di terik hari. Apalagi kini tiang-tiang di daerah dikabarkan jadi cemburu, secemburu orang-orang mereka pada kekhususan kasus-kasus di Jakarta yang selalu saja jadi perhatian begitu banyak orang. Padahal kebanyakan hanya kasus-kasus ganjil yang seringnya tak tergenapi oleh paham dan rasa kebanyakan manusia bernalar dan bernaluri.

#DelapanbelasNovemberDuaributujuhbelas

Karya : Nunu Azizah