Perjalanan Beda Iman Namun Tetap Satu Cinta #2

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Project
dipublikasikan 02 Oktober 2017
Catatan Perjalanan Peace Train Indonesia

Catatan Perjalanan Peace Train Indonesia


Perjalanan Peace Train Indonesia16-17 September 2017

Kategori Spiritual

242 Wilayah Umum
Perjalanan Beda Iman Namun Tetap Satu Cinta #2

Pagi sekitar 05.30 kami akhirnya tiba di destinasi pertama tepatnya di Masjid Nusrat Jahan. Masjid yang berlokasi di Jalan Erlangga Raya No.7A ini adalah milik Jemaat Ahmadiyah Semarang. Saya sempat salat Subuh sebelum sarapan bersama. Sekitar pukul 08.30, kami mulai diskusi dengan tuan rumah.

Ahmadiyah menjelaskan bahwa keberadaan mereka di Indonesia sudah lama sekali tepatnya sejak 1925 dan akan memasuki 100 tahun pada 2025 nanti. Mereka mengusung motto "love for all, hatred for none" dan menjelaskan bahwa mereka berjihad dengan berkasih sayang terhadap sesama dan berbeda dengan Islam radikal.

Yang membedakan Ahmadiyah dengan umat Islam kebanyakan salah satunya adalah kepercayaan mereka bahwa Mirza Gulam Ahmad sebagai Imam Mahdi yang sudah turun ke bumi, sedangkan muslim lain belum. Mereka pun meyakini Khulafaulalmasih yang kini dipegang oleh Mirza Masrur Ahmad yang setiap Jumat mereka temui lewat khotbah Jumat via teknologi langsung dari London. Mereka berpendapat dipersekusinya kelompok mereka di beberapa daerah di Indonesia disebabkan adanya sumber berita yang tidak tepat. Jemaat yang sudah berdiri hampir di 102 negara ini menolak disebut berbeda dalam syahadat dan kitab suci.

Jelang siang kami pun berpindah ke destinasi berikutnya di jalan Dr. Wahidin No.6 yang merupakan sebuah Vihara bernama Vihara Tanah Putih. Tempatnya terletak di atas karena kami harus naik tangga terlebih dahulu. Sesampainya di atas loceng terdengar berbunyi mungkin sebagai tanda penyambutan untuk kedatangan kami. Sebelum menikmati kudapan yang disediakan dan berlanjut diskusi dengan pemuka agama Buddha di sini, kami sibuk mengambil foto karena memang terpesona dengan pemandangan sekeliling. Sepoi-sepoi angin terasa menyamankan tempat tinggi ini dan sedikit wilayah Semarang pun bisa terlihat karenanya.

Tempat yang kami kunjungi berikutnya adalah Gereja JAGI (Jemaat Allah Global Indonesia) yang berlokasi di jalan Jeruk VII No. 21 untuk makan siang dan diskusi. Diskusi bersama Pendeta Cahyadi dan pendeta Ari cukup seru sebab memang dibawakan dengan penuh semangat oleh tuan rumah. Jemaat JAGI ini mengenalkan diri sebagai kristen yang tidak meyakini trinitas sebab mereka percaya pada keesaan Allah.

JAGI adalah Kristen Unitarian yang mengaku kerap dianggap sesat oleh orang kristen tapi disebut kristen yg menyamar keislaman oleh orang Islam karena sok mengakui Tuhan Yang  Esa. Mereka tentunya menganggap Yesus Kristus bukanlah Tuhan melainkan makhluk super humanbeing. Makhluk tertinggi dunia akhirat setelah Tuhan.

Ada banyak quote yang saya ingat dari pertemuan dengan JAGI ini, di antaranya yaitu, "Kategori sesat itu ketika orang sdh tdk percaya hal ilahiah dalam hidupnya dan ketika dia merugikan sesamanya",

"Kesalahan adalah manusiawi dan kejujuran adalah keilahian", dan "Beragamalah bukan hanya karena keturunan dan ikut-ikutan." Tak ketinggalan sebuah pernyataan sang moderator yang adalah sang Ketua Adat Raja Ampat yang bilang bahwa di Papua, adat lebih kuat daripada agama sehingga perbedaan agama pun cukup biasa.

Tempat ibadah terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah Pura Agung Girinatha di jalan Sumbing No.12. Tanya jawab cukup panjang. Maafkan karena hanya beberapa yang saya catat dan ingat. Umat Hindu mencapai sekitar 2500 jiwa di Semarang. Pandita (petinggi agama Hindu) berpesan bahwa boleh saja fanatik pada agama sendiri tetapi tidak boleh fanatik sempit.  Tuhan dalam Hindu itu satu yakni Hyang Widi sebab Brahma, Siwa, dan Wisnu hanyalah manifestasi.

Setelah itu kami pun bermalam di eLSA (Lembaga Studi Sosial dan Agama), kami yang sudah sangat lelah hari itu semakin mengantuk setelah dijamu makan malam. Perkenalan dan diskusi dengan teman-teman eLSA juga Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang pun berjalan tidak terlalu aktif. Tapi kami semua punya perasaan sama jelang tidur malam itu: sebuah perasaan damai yang ternyata bisa lahir dari pertemuan dengan banyak orang dan sudut pandang.

 

 

 

  • view 106