Perjalanan Beda Iman Namun Tetap Satu Cinta #1

Perjalanan Beda Iman Namun Tetap Satu Cinta #1

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Project
dipublikasikan 25 September 2017
Catatan Perjalanan Peace Train Indonesia

Catatan Perjalanan Peace Train Indonesia


Perjalanan Peace Train Indonesia16-17 September 2017

Kategori Spiritual

263 Wilayah Umum
Perjalanan Beda Iman Namun Tetap Satu Cinta #1

Akhir pekan yang saya lewatkan semenjak Jumat malam (15/9) hingga Minggu (17/9) tahun 2017 ini sangat berbeda. Saya mengikuti sebuah program bernama Peace Train Indonesia, sebuah program perjalanan lintas iman dengan menggunakan kereta api, menuju ke suatu kota yang telah ditentukan. Peserta dari berbagai agama dan kepercayaan akan bersama mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antaragama.

Ini adalah perjalanan perdana Peace Train dan kota pertama yang harus dikunjungi para peserta angkatan pertama ini adalah Semarang.

15 September

Jumat sore, saya dan kawan sudah tiba di Stasiun Pasar Senen. Sambil menunggu waktu berkumpul dengan teman-teman yang lain, kami sempat makan dan salat Magrib terlebih dulu.

Tak lama kemudian, kami  sudah berjumpa dengan beberapa mereka yang ditunggu (biasa ya kebanyakan panitia yang memang harus tepat waktu). Yang lain datang agak belakangan, harus mau maklum sih karena hari itu Jumat dan teman-teman juga sehabis bekerja  atau aktivitas lain masing-masing (ditambah lagi Jakarta pasti macet).

Peserta pertama yang menjadi kenalan baru saya ternyata masih 18 tahun (padahal wajah kami seperti beda cuma beberapa hari). Namanya Estetika. Ya, beneran itu namanya, bukan nama pelajaran atau nama kuliah ya. Tak dinyana meski baru bertemu, kami cepat akrab. Dia banyak bicara dan saya senang menyimak. Anak muda satu ini ternyata sudah kuliah dan semester lima pula. Dia juga calon pendeta yang sedang belajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi, hebatnya lagi dia juga sudah bekerja di Badan Narkotika Nasional sebagai pendamping mereka yang sedang menjalani masa rehabilitasi di Lido. Kami berbincang cukup lama sampai dia juga bercerita tentang keluarga yang juga memengaruhi pada pilihan pendidikan dan pekerjaannya saat ini. Baru dari satu orang yang lebih muda usianya ini saja, saya belajar banyak tentang hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah saya tahu. Dan tolong harap pembaca sekalian garisbawahi, kepribadian teman baru saya satu ini jangan dikira serius dan anteng seperti yang mungkin terbayang dari sekilas paparan saya tentangnya di atas, karena kalian dipastikan akan sangat kecewa. Dia orangnya ternyata rame abis dan pandai buat orang tertawa dengan kekoplakan sikapnya.

Satu per satu, teman-teman peserta yang lain mulai berdatangan. Oh iya, kami beruntung berkesempatan menunggu di ruang VIP Stasiun Pasar Senen meski kereta yang kami naiki kelas ekonomi. Bahkan kepala stasiun pun menyambut baik program kami yang dinilainya sangat positif ini. Selain itu, ternyata ada pula staf dari Deputi IV Kesektariatan Presiden yang malam itu turut hadir mendukung dan melepas keberangkatan angkatan pertama Peace Train Indonesia Ini. Kami lalu foto bersama dan segera pamit untuk bersiap naik kereta karena waktu keberangkatan sudah mepet.

 

 

  • view 148