Peace Train Indonesia, Sebuah Perjalanan dan Pelajaran Penting Toleransi

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Wisata
dipublikasikan 19 September 2017
Peace Train Indonesia, Sebuah Perjalanan dan Pelajaran Penting Toleransi

Dua hari kemarin, 16-17 September, sekitar 20-an anak muda melakukan perjalanan bersama mengeksplorasi isu-isu toleransi dan destinasi tempat-tempat ibadah berbeda di Semarang. Peserta tak hanya berasal dari Jabodetabek sebab ternyata hadir pula Ketua Adat Raja Ampat, bahkan sampai ada dua kawan dari Afrika yang memang kebetulan sedang belajar tentang bahasa dan budaya Indonesia.

Mereka adalah angkatan pertama dari sebuah program bertajuk Peace Train IndonesiaPeace Train yang digagas empat sekawan yaitu Ahmad Nurcholish, Frangky Tampubolon, Anick HT, dan Destya Nawriz ini merupakan sebuah program perjalanan lintas iman dengan menggunakan kereta api, menuju ke suatu kota yang telah ditentukan. Peserta dari berbagai agama dan kepercayaan akan bersama mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antaragama.

Dalam pantauan NewsToday.id, mereka membaur dengan sangat cepat dan alami, mampu berbahagia bersama meski dalam identitas berbeda: para penganut agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Baha’i, Sikh, serta penghayat kepercayaan Sapta Darma dan Kapribaden.

Mereka mengunjungi masjid, gereja, pura, vihara, juga klenteng yang berada di Semarang dengan bantuan teman-teman lokal yang berasal dari berbagai komunitas yang tergabung dalam Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) seperti Jemaat Ahmadiyah, umat Buddha Theravada, Jemaat Allah Global Indonesia (JAGI), Parisada Hindu Dharma, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, EIN Institute, Hikmahbudhi Semarang, Komunitas Gusdurian Semarang, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Semarang, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK-KAS), Institute of Peace and Security Studies (IPSS), Peace Hub Community, MATAKIN Semarang, dan Peradah Semarang.

Dalam dua hari yang singkat dan penuh kesan tersebut, baik para penggagas maupun peserta kemudian sangat berharap Peace Train akan terus berlanjut dengan semakin banyak pemuda yang ikut dan mampu merasakan pelajaran toleransi nyata yang tidak hanya sekadar teori atau retorika semata. Sebab mereka akan menemukan makna cinta yang sama di antara perbedaan agama dan kepercayaan yang selama ini yang dianut masing-masing.

“Kami berharap dapat menyelenggarakan perjalanan Peace Train yang berikut dan berikutnya lagi setidaknya sebulan sekali. Sebab ini menjadi penting di tengah lunturnya sikap tenggang rasa kita menghadapi perbedaan. Dan kami semua percaya perubahan wajib dimulai dari anak-anak muda, merekalah yang akan jadi pasukan perdamaian penjaga toleransi di Indonesia kita yang Bhinneka Tunggal Ika ini,” Ujar salah satu penggagas Peace Train, Anick HT.

Peace Train maupun apa saja yang sejenis dengan kegiatan semacam ini memang perlu untuk terus dirayakan dan didukung demi mengurangi ketegangan intoleransi yang belakangan menggigit kedamaian negeri ini.


  • view 34