Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 22 Juni 2017   14:58 WIB
Mudik ke Jakarta

Menulis tentang pulang kampung di hari ulang tahun Jakarta. Aku sedikit merasa entah.

Di kota ini aku dibesarkan. Di kota ini aku menghirup kepadatan, kemacetan, keramaian, kemegahan, juga kesenjangannya. Aku tahu betapa teratur dan cukup majunya Jakarta Selatan juga tahu sangat kumuh dan terbelakangnya keadaan di Cilincing, Jakarta Utara.

Di kota inilah, aku mulai percaya dan tidak percaya akan banyak hal. Di kota ini pula, aku menyaksikan kebanyakan diriku dan bukan diriku pada manusia-manusia yang saling berdampingan, bersaing, bergengaman, dan berjegalan.

Aku tahu kota ini akan berumur panjang. Akan bisa hidup lebih lama dariku, darimu,  darinya, dari anak cucu kita nanti. Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada tugas mulia lain bagi kita selain menjaganya, selain mencintainya sepanjang jatah waktu yang kita punya.

Dan sebenarnya, tak melulu tetang hal-hal yang besar. Bukankah mencintai adalah tentang membuktikan hal-hal sederhana sepenuh jiwa kita?

Jakarta memang hanya salah satu kampung halamanku.  Aku beranjak darinya setiap saat Lebaran tiba. Tidak jauh memang. Tapi aku yang masih kecil dulu setidaknya punya ingatan tentang apa itu pulang kampung.

Sekarang semua sudah berbalik. Aku yang harus pulang menuju padanya. Pada kenangan-kenangan manis yang kadang kujadikan pegangan saat hari-hari terasa cukup pahit.

Tetapi kadang bagi beberapa orang, mungkin saja pulang tidak selalu bisa membuat perasaan yang menenangkan dan memenangkan. Akankah kau tetap  pulang kepada yang (misalnya) pernah mengusirmu pergi dan bilang tak usah pulang saja?

Tetapi, kalau aku, mungkin tetap memilih pulang. Kepalaku agak keras, keras kepala maksudnya.

Sebab mungkin pulang juga adalah sebuah keberanian menghadapi pelukan, senyum, atau maaf yang ternyata tak selalu ada untuk menyambutmu. 

Aku ingin pulang saja untukmu, Jakarta. Pulang untuk menengokmu yang kini akan ditinggalkan sedikit para pemujamu yang ingin mudik ke kota yang jadi cinta sejati mereka. Ya, ternyata segitunya kau dibela dan diperebutkan di masa panas pilkada kemarin, toh kamu ternyata tetap hanya tempat persinggahan.

Ah, biar saja. Masing-masing orang pasti ingin bebas-bebas saja menganggapmu apa. Tetapi, aku adalah yang akan pulang dan kembali padamu.

Dan aku tidak berharap kau membalas padaku. Seberani ini perasaanku padamu. Semoga selalu bisa bahagiakan manusia-manusia yang hidup bersamamu tanpa mereka pun tidak lupa untuk membahagiakanmu.

 

Karya : Nunu Azizah