Tak Kenal Maka Tak Sayang (Trip Ke Baduy)

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Mei 2017
Tak Kenal Maka Tak Sayang (Trip Ke Baduy)

Tanggal 6 dan 7 Mei kemarin adalah salah satu akhir pekan yang jelas akan saya ingat sepanjang usia. Karena pada akhirnya rencana saya untuk berkunjung ke suku Baduy terealisasi dan tereksekusi dengan mantap.

Ini adalah open trip pertama saya. Saya nekat pergi sendiri tak beserta teman atau kenalan dan memang siap bergabung dengan siapa saja yang memiliki tujuan sama. Toh, pada akhirnya meski pergi sendiri kita tak akan pernah benar-benar sendirian apalagi bila bertemu mereka yang ternyata punya minat serupa.

Jadilah bersama Mas Oky sebagai tour leader dari Kili-Kili Adventure, Kang Omar, Mas Agus,  Qorry, dan Trio Bakrie (Diah, Nanda, Tias), kami mengeksplore Baduy yang memang mengundang rasa penasaran kami. Beruntungnya kami semua cepat akrab.

Kami bertemu pertama kali di Stasiun Tanah Abang, lalu saling sapa sejenak sebelum naik kereta menuju Rangkasbitung yang  menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam. Dari situ kami masih harus naik angkot sekitar dua atau tiga jam menuju Ciboleger. Ciboleger adalah pintu masuk menuju Baduy. Selama perjalanan tentu keadaannya tidak selalu sesuai ekspektasi. Siapa pula kita yang kecil ini bisa memprediksi alam? Kejutan-kejutan dan rintangan yang menghadang adalah seni dari setiap perjalanan.

Sebuah pengalaman yang luar biasa saat beranjak dari Baduy Luar menuju Baduy Dalam sebab hujan cukup lebat mengiringi kami. Dengan berjas hujan ria dengan riangnya kami menjelajahi rimba raya. Keringat dan air hujan bersatu padu. Medan yang cukup panjang dan berliku meski harus ditempuh berjalan kaki selama empat jam jalan kaki anehnya tak menyurutkan semangat kami semua. Sedikit disayangkan kami tak leluasa mengamati suasana alam  karena wajib perhatikan langkah.

Saat mulai memasuki kawasan pemukiman kampung Baduy luar, saya langsung terpesona pada para wanita yang sedang menenun di halaman rumah panggung mereka. Rasanya mata enggan beralih dari situ. Ya, mereka memang menenun untuk pakaian mereka sendiri dan juga untuk dijual. Yang paling khas dari Baduy Luar salah satunya adalah batik biru corak hitam yang sering dikenakan sebagai ikat kepala bagi kaum lelaki atau kain sarung bagi perempuannya. Alhamdulillah akhirnya saya pun bisa memilikinya.

Setelah melewati gunung dan naik-turun lewati lembah, serta beberapa jembatan tradisional yang unik dan menegangkan, akhirnya sampailah rombongan kami di saat senja. Kami menginap di salah satu rumah suku Baduy Dalam. Bahagianya saya tidur di rumah panggung beralaskan tikar dan pelukan angin malam pegunungan. Tapi, tetap saja pulas di mana pun berada meski pegal-pegal terutama di kaki mulai terasa. Sedikit acara bercengkrama dengan orang Baduy dan silaturahmi antar anggota rombongan kami sebelumnya akan selalu jadi dongeng manis pengantar tidur.

Pagi harinya, ada beberapa tetangga di sana atau orang luar Baduy menjajakan barang khas Baduy. Madu, gelang dari rotan atau akar, tas dari akar atau kulit kayu serta kain indah karya tangan mereka memang sulit diabaikan. Tapi, kadang mereka juga turun gunung kok untuk menjual sendiri berbagai barang etnik itu bahkan sampai ke Jakarta. Ke Jakarta, orang Baduy Dalam yang tidak boleh mengenakan alas kaki dan dilarang naik kendaraan itu menghabiskan waktu sekitar empat hari.

Untuk keperluan mandi, wudhu, dll kami harus ke sumber air yang untungnya tak terlalu jauh. Kamar mandi alaminya tidak akan terlupakan deh. Sayang di Baduy Dalam enggak boleh difoto.

Pulang turun gunung dari kampung Cibeo, Baduy Dalam, menuju luar Baduy menghabiskan waktu yang persis sama meski lewat jalur berbeda dengan waktu berangkat (demi jembatan akar yang fenomenal) , sekitar empat jam jalan kaki.  Perjalana pulang semangat sudah tak seprima waktu pergi dan sudah mulai terasa lelah namun karena melihat suatu hal yang luar biasa kami pun bersemangat lagi. Hal luar biasa tersebut adalah ketika melihat orang  entah Baduy luar atau dari kampung luar Baduy yang memikul pohon yang habis ditebang. Bahkan ada yang memikul dua sampai tiga batang pohon. Saya baru percaya ternyata superman itu memang ada.

Perjalanan ke Baduy lalu bukan hanya sekadar menghabiskan akhir pekan dengan positif. Selain olahraga, menambah saudara, juga mengamati pelajaran kebajikan menjaga alam dan tradisi dari mereka. Meluruskan dan membuktikan sendiri ketidakbenaran atas kabar-kabar dan dugaan-dugaan kurang enak mengenai mereka.

Jangan pernah menyebut begini atau begitu kalau kau belum mengenal sesuatu secara dekat dan langsung. Karena tak kenal mungkin kau jadi tak sayang.  Padahal belum kenal apalagi kenal harusnya semua bisa kau sayangi.

Mari melihat langsung alam dan bangsa ini dari dekat sehingga tak akan ada alasan untuk kau tidak mencintai dan menjaganya. Sepanjang hayat.

 

  • view 121