Pro dan Kontra Hari Kartini

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 April 2017
Pro dan Kontra Hari Kartini

Sampai kini pro dan kontra bahwa masih ada pahlawan wanita lain yang katanya lebih hebat dari dia, seperti Cut Nyak Dien dan Dewi Sartika mungkin masih kuat. Dan itu tidak salah.

Namun, lewat 'Panggil Aku Kartini Saja' yang ditulis Pramoedya Ananta Toer juga surat-suratnya yang sudah diterjemahkan oleh salah satu sastrawan dalam buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang', benar-benar membuat saya tidak bisa tidak mengaguminya.

Ia memang anak Penguasa dan menulis dalam bahasa dan untuk kawannya yang Belanda, tetapi pemikirannya yang sudah lebih dari seratus tahun dari sekarang itu saya tangkap sebagai kegelisahan-kegelisahan jiwa muda yang punya kepedulian pada bangsanya. Dan masih relevan hingga kini di saat cuaca sosial budaya negeri ini yang mendung.

Bukankah tak selalu yang asing itu berjiwa kolonial dan sayangnya anak negeri banyak yang mengagungkan feodalisme?

Mungkin Kartini tak maju ke medan perang, tapi bukankah pena dan pemikiran juga adalah senjata peradaban yang lebih bermartabat? Seperti gagasan para filsuf dan pemikir dari zaman entah yang masih kita pelajari. Seperti tulisan Buku Harian Anna Frank dan Catatan Seorang Demonstrannya Soe Hok Gie yang turut menyumbangkan kabar sejarah dari zamannya?

  • view 103