Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 29 Maret 2017   14:38 WIB
Surat Puisi Untuk Penyairnya

     Aku adalah puisi yang baru saja ditulis oleh seorang penyair yang menyebut dirinya amatiran. Pada akhir senja, di awal malam, atau juga ketika warna biru di langit belum pelan-pelan permisi.  Entahlah apa aku juga akan disebut puisi amatiran. Aku hanyalah puisi yang mencintai penyairnya. Tidak peduli penyairku balas mencintaiku atau tidak.  

            Aku mungkin bukan puisi pertamanya. Mungkin bukan juga yang terakhir. Mungkin. Ia adalah orang yang tertutup. Ketertutupannya yang membuatnya sendirian. Sendirian yang membuatnya terlihat kesepian. Kesepian yang membuatnya terlihat kesakitan. Tapi ini hanya sudut pandangku, sudut pandang sebuah puisi tentang penyairnya.

            Sesekali aku merasa ia tidak punya emosi. Aku tidak bilang ia tidak berperasaan. Sebab mana mungkin puisi lahir tanpa perasaan? Ia hanya terlihat berpura-pura. Entah ketika menangis atau tertawa. Rasanya begitu ingin memeluknya. Aku ingin memeluk penyairku.

            Aku pernah menangis untuk penyairku. Ketika lama tak kulihat lagi ia menulis puisi. Aku tahu ia tak akan bisa merasa lebih baik. Tanpa puisi, ia hanya akan menjadi tertekan dan tertelan. Aku pernah tersenyum untuknya. Ketika akhirnya ia mampu menuliskan puisi baru. Aku tidak akan cemburu. Aku tahu ia akan segera bahagia. Puisi adalah harga hidupnya. 

            Jika aku bisa, untuk sekejap aku ingin sekali menjadi sesuatu yang lain untuknya. Sehari saja. Sekali saja. Menjadi bentuk apa pun untuk bisa membuatnya merasa lebih baik. Aku tidak tahu apa saja yang pernah terjadi pada hidupnya. Aku tidak tahu siapa yang akan membuatnya percaya, sebab yang kutahu ia hanya percaya pada puisi. Pada sinar matanya aku melihat mahakecewa. 

            Tapi terkadang aku cemas dan takut untuknya, sebab aku tahu puisi bukanlah satu-satunya bekal menghadapi dunia. Wahai penyairku, jangan berhenti. Jangan buatku berhenti mencintai kesetiaanmu pada gelisah jiwa.

 

Sumber Gambar

Karya : Nunu Azizah