Hujan Waktu Itu

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 24 Maret 2017
Hujan Waktu Itu

Rintik-rintik deras yang kelamaan cukup mengganggu. Saya gelisah karena lupa membawa payung.  Tapi itu tidak lama, karena kemudian terlihat beberapa anak membawa payung. Mereka adalah pengojek payung.

Satu dari mereka akhirnya mengantar saya sampai ke rumah. Di sepanjang perjalanan, saya banyak bertanya padanya. Kiki, nama anak itu, kelas 5 SD. Saya merasa lega ketika mendapat jawaban darinya bahwa mengojek payung merupakan inisiatifnya sendiri. Bukan karena suruhan dari orang tua. Karena sebenarnya, saya merasa sangat yakin di luaran sana banyak para orang tua yang menyuruh anak-anaknya yang masih kecil untuk  bekerja dan mencarikan uang untuk mereka. Salah satu perilaku tercela yang sangat tidak bertanggung jawab.

Pengojek payung. Beberapa dari kita mungkin terbiasa melihatnya. Sebagian yang pernah saya lihat adalah anak-anak, atau mungkin memang semuanya. Kiki adalah salah satu dari mereka. Saya kagum pada Kiki dan mereka semua. Terlepas dari “pekerjaan” itu adalah inisiatif sendiri ataupun suruhan dari orang tua. Sebagian dari mereka mungkin mencari uang tambahan untuk jajan dan sebagian yang lainnya mencari uang untuk sesuap nasi. Padahal di tempat-tempat lain, anak-anak hanya meminta dan merengek pada orang tuanya.

 Yang pasti mereka bukanlah anak-anak biasa. Hujan dan petir jadi sahabat mereka. Mereka juga jadi anak-anak yang fisiknya kuat dan tidak mudah sakit. Seperti juga anak-anak penjual koran di malam hari. Saya merasa kasihan sekaligus kagum. Mereka tidak mengemis dan meminta belas kasihan dari orang lain. Mereka memilih berusaha dan berjuang sendiri . Di balik tubuh mereka yang masih kecil ternyata terdapat hati yang besar dan tegar.

Semoga mereka juga punya bahagia seperti seharusnya anak-anak. Semoga Tuhan selalu melindungi mereka dari kesakitan, kelaparan, kedinginan, dan perilaku-perilaku jahat di jalanan sana.

Sumber Gambar

  • view 128