Dua Sisi Ingatan

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2017
Dua Sisi Ingatan

            Naya mengamati sekelilingnya. Taman kota ini begitu penuh. Penduduk seolah berkumpul semua di taman buatan yang lumayan terasa alami  ini. Semua tempat di dalam sini hampir tak ada tempat yang kosong dan tenang.  Terasa padat oleh orang-orang, ramai dan bising. Sangat bertentangan dengan suasana hatinya saat ini. Padahal ia ingin sendiri. Ia merasa salah tempat. Ia memilih pulang ke rumahnya. Tak jauh dari situ.

Di rumahnya, tak terlalu membantu. Ada banyak foto ibunya di sana. Ia masih sangat kehilangan orang yang paling ia cintai dalam hidupnya itu, yang baru saja meninggal di awal bulan lalu. Satu-satunya keluarga yang ia miliki telah tiada, ia kini sebatang kara. Ia merasa begitu sendiri sekarang ini dan tak ragu-ragu menangis. Terus menangis sampai hari sudah malam, sampai suara bel mengagetkannya. Rupanya Haris, kekasihnya yang datang.

“Apa kamu baik-baik aja?” Haris bertanya.

“Sepertinya enggak. Aku sangat kangen Ibu.” Naya mulai menangis lagi.

“Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan. Tapi kita bicara lagi besok, setelah kamu tenang.  Sekarang istirahatlah. Kamu terlihat sangat lelah. Aku pulang dulu.” Haris pergi setelah tersenyum.

Malam itu Naya terus bermimpi tentang ibunya, sama seperti malam-malam kemarin.

 

            Keesokan harinya, Haris mengajaknya bertemu di kota tua. Kota tua yang sampai kini tetap indah dengan arsitektur bangunan peninggalan zaman tempo dulu. Naya sering mengunjunginya dulu. Ini tidak seperti biasanya, baru pertama kali ini Haris mengajak bertemu di sebuah tempat wisata berbau sejarah. Haris bukan seorang yang menyukai tempat seperti ini, berbeda dengannya. Ini aneh, bukan dia yang biasanya, batin Naya. Ternyata, setelah berkeliling di kota tua, ia mendengar hal yang begitu mengejutkan sekaligus menyakitkannya. Haris memutuskan hubungan mereka begitu saja.

“Kamu jahat, Haris. Tak bisakah kau mengerti keadaanku saat ini? Ibuku baru saja meninggal. Aku masih berduka. Ini  terlalu tiba-tiba dan mengejutkanku,” ujar Naya sambil menangis.

“Maafkan aku, Naya. Aku enggak bisa bohong sama diriku sendiri, hubungan ini semakin lama semakin melelahkanku. Kamu terlalu banyak berubah, aku enggak bisa lanjutin ini terus. Mari kuantar pulang, kau tak boleh menangis di sini,” kata Haris.

Naya menangis lebih dari malam-malam yang sebelumnya. Ia begitu terluka saat ini. Haris terlalu mengejutkannya. Ia merasa hubungan mereka baik-baik saja. Ia tak menyangka Haris akan tega meninggakannya karena vonis penyakit parah yang belum lama ini disampaikan dokter padanya.

Beruntung seorang sahabat setianya, Dea, kerap berkunjung di masa-masa sulitnya itu.

“Kamu sakit parah, sahabatku sayang. Tidak semua orang bisa menerimanya.  Penyakitmu ini mungkin saja tanpa kamu sadari telah membuatmu melupakan janji-janji penting bersamanya, melupakan hal-hal penting berkaitan dengannya.Tidak perlu menangisi Haris, Nay. Sekarang kau tahu kan siapa dia yang sebenarnya. Dia bukan orang yang pantas menjagamu,” ujar Dea.

“Kamu akan bertemu yang lebih baik lagi, percayalah. Sebaiknya jangan terlalu bersedih berlarut-larut, Nay. Tentang ibumu, juga Haris, takut berdampak buruk pada penyakitmu itu. Kembalilah jadi Naya yang seperti biasa. Aku, dan semua yang sungguh mencintaimu akan menerimamu apa adanya. Ingat selalu itu,” tambah Dea.

Thanks, Dea. Kamu selalu tahu cara menenangkanku,” balas Naya terharu.

Sedikit kata-kata dari seorang sahabat memang selalu bisa menyelamatkan dari keadaan yang sulit, selalu bisa menenangkan hati yang tengah gundah. Seperti itulah yang dirasakan Naya sekarang. Ia merasa lebih baik setelah kedatangan salah seorang sahabatnya itu. Ia bersyukur memiliki Dea, pernah belum lama ini padahal ia melupakan siapa Dea karena penyakit parah yang berkaitan dengan memorinya itu, tetapi Dea tetap bersabar dan terus di sisinya. Ia membenarkan kata-kata dan nasehat dari Dea barusan, ia harus bangkit lagi. Mencintai apa adanya dirinya yang sekarang. Life must go on.

           

            Naya kebingungan. Ia baru saja selesai nyekar di makam Ibunya, tetapi tiba-tiba lupa jalan ke luar pemakamannya. Apalagi pemakamannya memang cukup luas. Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkannya datang dari belakang.

“Ada apa?” suaranya dingin.

Naya menoleh ke sumber suara, seorang pemuda melihat padanya.

“Oh, ini saya lupa jalan ke luar pemakaman,” jawab Naya agak kikuk.

“Kalau begitu Mbak bisa ikuti saya. Saya juga mau keluar.” Timpal pemuda itu.

“Eh iya, terima kasih, Mas,” ujar Naya.

Ketika sang pemuda undur diri hendak pergi duluan, tiba-tiba Naya menarik tangan pemuda itu. Tiba-tiba saja gadis itu terisak dan mengatakan kalau dirinya lupa harus pulang ke mana. Sang pemuda hampir saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya, ia nyaris menganggap ini hanya lelucon. Namun, ia segera percaya dari sorot mata Nay yang begitu tak berdaya.

“Ya udah, mari duduk dulu di bangku sebelah situ,” ujar si pemuda ke arah halte bus. Ia tidak berusaha melepaskan tangan Nay dari tangannya.

Sang pemuda dengan sigap meminjam telepon seluler Naya untuk mencari kontak terakhir yang dihubungi gadis itu. Si pemuda pun segera menelepon Dea. Tidak lama Dea datang dengan wajah cemasnya, mengucapkan terima kasih pada pemuda itu seraya menjelaskan sedikit tentang Naya mengapa bisa seperti itu.

 

            Sudah beberapa kali Naya dan pemuda itu bertemu. Lebih tepatnya sang pemudalah orang yang tak sengaja menyelamatkan Naya dari lupa-lupanya yang cukup fatal. Pernah Naya nyaris salah naik mobil orang lain, pernah pula lupa membawa beberapa barang belanjaan yang baru saja dibelinya, pernah lupa membayar makanan di restoran. Anehnya, sang pemuda selalu ada di dekatnya pada waktu-waktu itu dan dengan sukarela membantunya.

  Suatu kali sang pemuda memberanikan mencoba bicara panjang lebar pada gadis muda itu. Nay yang memang rupanya masih ingat beberapa kali ditolong pun tak merasa keberatan.

“Sebenarnya apa penyakitmu? Saya benar-benar baru bertemu seseorang dengan sikap sepertimu,” si pemuda mulai bicara.

“Sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah beberapa kali merepotkanmu. Saya divonis Alzheimer, berkaitan dengan kesehatan jaringan otak yang mengalami penurunan, menyebabkan menurunnya daya ingat. Penyakit ini membuat saya bisa melupakan hal-hal kecil sampai besar yang cukup fatal,” jawab Naya terus terang. Entah mengapa ia begitu nyaman bicara terbuka pada pemuda di hadapannya itu.

Naya terus saja bicara mengenai penyakit yang biasanya diderita orang berusia lanjut itu. Ia menjelaskan bahwa dirinya memang masuk dalam kasus yang cukup langka karena usianya yang baru menjelang 30 tahun.

“Kalau kamu beneran penasaran tentang Alzheimer, ada cara gampangnya. Kamu bisa nonton sebuah film Korea yang judulnya A Moment To Remember. Film itu lumayan menggambarkan dengan baik tentang penyakitku ini,” saran Naya.

“Oke,” jawab pemuda bernama Fahmi itu penuh simpati.

Tiba-tiba Naya berujar tentang sesuatu.

 “Baru sekali ini aku merasa begitu terluka. Dan lukanya langsung stadium akhir. Rasanya sungguh-sungguh asing. Mungkin selama ini hidupku selalu sempurna,” ujar Naya.

 

            Naya dan pemuda itu, Fahmi, segera jadi teman bicara yang akrab. Mereka pun rutin bertemu. Mereka yang baru kenal sebulan merasa sudah saling mengenal sangat lama. Mereka berdua benar-benar nyaman menjadi teman curhat satu sama lain. Kata saya pun telah berubah jadi aku.

“Aku udah nonton film yang kamu saranin itu. Aku jadi cukup tau seperti apa penyakitmu itu. Pasti enggak mudah ya hidup seperti itu. Tapi aku mau bilang bahwa enggak cuma kamu yang struggling dalam hidup ini. Banyak orang lain di luar sana juga bahkan aku dengan permasalahan hidup yang berbeda-beda. Kamu harus tau kamu enggak sendirian,” kata Fahmi suatu kali.

Fahmi yang sebenarnya pendiam dan tertutup pun dengan lepasnya bercerita tentang hidupnya. “Aku ingin melupakan semua yang mengganggu hatiku tapi sulit karena ingatanku begitu kuat,” tuturnya getir. Kali itu pertama kalinya Fahmi begitu membuka dirinya yang broken home. Entah mengapa Naya telah membuatnya merasa nyaman dan aman.

“Apakah boleh membenci luka parah yang tidak bisa dilihat orang lain? Luka yang sakitnya telah membesarkanku selama ini. Luka yang lebih setia dari ayah dan ibuku, saudara-saudara, dan juga teman-temanku,” tambah Fahmi.

“Aku tidak tahu luka akhirnya malah bisa begitu dekat dengan seseorang. Ternyata luka juga punya sisi lain selain duka.” Hanya itu komentar Naya yang begitu tersentuh.

Naya terus menyimak semua curhatan Fahmi, tidak hanya sekedar mendengar. Baru kali ini ia mendengar cerita semiris itu. Baru kali ini seorang laki-laki tidak malu nyaris menangis di depannya.

“Rasanya lucu bahwa kita berdua yang awalnya begitu asing satu sama lain bisa bertemu lalu bisa saling bicara dengan begitu bebasnya,” kata Naya.

Keduanya lalu tertawa ringan.

Lalu Fahmi berkata,” Aku begitu ingin menghapus kuatnya ingatanku. Kamu begitu ingin mengabadikan ingatanmu yang lemah itu. Andai kita bisa bertukar takdir.”

“Bertukar takdir itu terlalu mustahil. Tapi barangkali kita bisa saling menguatkan menghadapi takdir yang sudah digariskan ini,” Tanggap Naya berusaha bijak. Bicara pada Fahmi juga dirinya sendiri.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menjadi penjaga memorimu mulai dari sekarang ini. Aku akan jadi relawan seumur hidup untukmu. Membantu orang lain kudengar juga akan menyembuhkan hati. Lagipula entah mengapa aku begitu ingin melindungimu. Aku tidak peduli esok atau lusa kau akan melupakan. Aku akan tetap di sisimu,” ujar Fahmi.

“Aku sudah sangat terbiasa diabaikan. Aku tidak akan marah kalau kau mengabaikanku nanti,” tambahnya seraya bercanda.

Naya yang mendengar pernyataan Fahmi cukup terkejut, tapi ia pun dapat merasakan ketulusan kata-kata itu dari sikap Fahmi selama ini padanya. Ia pun tersenyum.

“Aku harap aku pun bisa jadi seseorang yang membantu membalut luka hatimu. Mungkin suatu hari aku akan melupakanmu meski rasanya aku tidak akan bisa mengabaikan orang sepertimu. Tetaplah di sisiku apa pun yang terjadi,” tutur Naya seraya tersenyum kepala pemuda itu dengan rasa penuh kasih. Kasih seorang manusia pada manusia lain. Dan juga mungkin kasih seorang gadis pada seorang pemuda.

Dua manusia dengan masalah ingatannya masing-masing, dua sisi ingatan yang akan saling melengkapi.

Naya tahu ia tidak akan menghadapi dunia ini sendirian. Ia percaya Tuhan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Meski kini ia tidak lagi bersama Ibunya, ditinggalkan Haris, ia akan tetap bisa berbahagia bersama orang-orang terbaik di sisinya. Dea dan Fahmi, dua malaikat yang akan menemaninya mengarungi kehidupan dengan penyakit Alzheimernya itu.

 

 

  • view 114