Florista Flowers

Nurul Azizah
Karya Nurul Azizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 2 bulan lalu
Florista Flowers

Hahaha...

Hahaha..

Arya tertawa. Ryan, sahabatnya, melirik sinis ke arahnya.

“Terus aja lu ketawa, kayak cakep aja haha – hihi gitu. Keren sih keren, tapi kerennya Mbah Surip. Huuu,” ujar Ryan protes. 

“Heh, gak apa – apalah! Kan jarang banget lu bikin gua bahagia gini. Week !” balas Arya  senyam-senyum plus melet melet pula.

“Eh, sob, lu sih enggak ngerti masalah gua. Jatuh cinta aja kayaknya belum pernah. Suka – sukaan juga  enggak. Jangan  - jangan, jangan – jangan nih,” ledek Ryan.

Kontan Arya nyengir, ngejitak kepala sobatnya itu, terus ngeloyor kocar kacir. Meninggalkan Ryan meringis karena jitakan itu.

Sebenarnya Arya agak bingung, udah berapa kali coba itu sobatnya tercinta jadi termehek – mehek gitu karena satu orang cewek. Katanya sih cinta. Makan dah tuh cinta. Hahaha. Arya senyum senyum sendiri. Cinta...cinta....enggak ngerti ah, ujarnya dalam hati.

                         

            Gilaaaaaa. Pada gila nih anak anak sekelas. Kenapa gua yang disuruh ke toko bunga segala. Bukannya anak cewek aja sih, ujar Arya membatin. Kali ini Arya terpaksa turutin deh maunya temen – temen sekelasnya itu. Salah sendiri juga sih, kenapa kesiangan, gara – gara tidur lagi abis shalat subuh, jadi telat deh hari ini di acara kejutan buat guru tercinta. Jadi disuruh beli bunga deh.

“Tapi...bunga apaan nih ?!!! Aduuuh..kenapa tadi gua enggak tanya aja sih, enggak dikasih tau juga sama tuh anak – anak reseh. Bener - bener tuh bocah – bocah!!!!” omel Arya dalam hati sesampainya di toko bunga.

Terpampang nama “Florista Flowers” di hadapannya.

“Cari bunga apa ya ?” sapa seorang gadis muda di depannya.

Manis dan lembut suaranya.

Rasanya adem di telinga, manis pula orangnya, cocok deh dia yang jaga toko bunga ini, enggak kalah cantik sama bunga bunga...hehe, berbisik pelan Arya di dalam hatinya. Kesan pertamanya itu akan membawanya pada hal yang selama ini begitu dihindarinya.....yaitu cinta.

“Ini...saya mau cari bunga. Hadiah buat guru. Ini hari ulang tahun beliau, tapi saya sama temen – temen bingung mau kasih bunga apa. Kira – kira yang cocok apa ya?” Arya memberanikan bertanya.

“Wah, kamu sama temen – temenmu murid yang baik juga ya, jarang banget anak muda kaya kalian peduli banget sama gurunya, mau kasih bunga segala, “ ujar si gadis memuji.

“Hehe, iya.” Arya jawab seadanya.

“Nih! Bunga Matahari,” sang gadis lalu menyerahkan langsung bunga pilihannya pada Arya.

“Bunga Matahari ? Kenapa ?" Arya bingung.

“Iya, Bunga Matahari itu simbol sebuah semangat, inspirasi, dan pengabdian. Saya rasa pantas diberikan buat seorang guru,” jelas gadis itu.

Arya pun kembali ke sekolah. Teman – teman menunggunya, kemudian sang guru yang menerima bunga itu terharu. Arya jelas jadi yang paling senang karena ini. Cuma ini sekarang yang bisa ia dan teman – temannya kasih buat sang guru, si pahlawan tanpa tanda jasa.

 

“Eeeh, Ya! Minta tolong dong, cariin bunga yang bagus ya, selera lu kan bagus. Mau gua kasih ke Lia. Biar gua lega, gak cengeng lagi gara-gara dia. Gua mau kasih hadiah terakhir, gak akan ngejar – ngejar dia lagi deh, mau terima kalau gua sama dia bukan apa-apa lagi,” rengek Ryan.

Hemmm...

Terpaksa deh Arya turutin. Gak tega juga dia sama sikap sobatnya satu itu. Jelas jelas dia tau si Ryan sampe segitunya sama si Lia. Sekarang hubungan mereka putus, dengan enggak baik baik pula, marahan.

Bunga apa nih ya yang bisa ngademin hati mereka lagi, bisiknya dalam hati.

“Mawar Kuning. Itu yang paling cocok untuk sebuah tanda persahabatan,” ujar si gadis  Florista Flowers itu dengan penuh keyakinan.

Ryan senang. Bunganya diterima, diterima di hati Lia tepatnya. Hubungan Ryan dan Lia sekarang jadi jauh lebih baik. Berkat bunga mawar kuning itu. Rupanya mereka memang lebih cocok bersahabat.

 Arya ikut senang. Dalam jangka waktu satu bulan ini saja, dua kali sudah ia ikut berperan dalam kebahagiaan orang-orang tersayangnya. Pertama, surprise buat gurunya tercinta, yang kedua sobatnya, Ryan, yang akhirnya hubungannya membaik dengan mantan kekasihnya. Dan, kedua hal tersebut Arya sadari berkat bunga bunga itu, berkat sang gadis   Florista Flowers itu tepatnya. Ia bulatkan tekad mengucapkan terima kasih besok.

 

Florista Flowers.

Florist yang sudah memberinya bunga untuk kebahagiaan guru dan sahabatnya. Ia akan mampir ke tempat itu hari ini. Ingin berterima kasih kepada si gadis manis penjaja bunga.

”Eh, kamu ! Mau beli bunga buat siapa lagi nih?" sang gadis bunga bertanya.

”Enggak! Kebetulan lewat aja, jadi mampir  deh. Mau bilang terima kasih karena kakak udah milihin bunga yang tepat kemaren kemaren itu,” jawab Arya seadanya. Ia kikuk memanggil kakak pada gadis itu. Ia rasa pantas memanggilnya begitu, sepertinya gadis itu memang lebih tua dari Arya.

”Sama – sama,” balasnya singkat. Sepertinya ia tidak keberatan dipanggil kakak oleh Arya, ia sedikit tersenyum karenanya.

”Boleh saya di sini dulu? Janji enggak akan ganggu, kalau perlu saya bantuin,” pinta Arya.

 Hari itu untuk pertama kalinya Arya merasa nyaman dengan orang lain, dengan orang yang baru dikenalnya, yang sebenarnya sangat asing dalam hidupnya, namanya Jelita.

Arya jadi sering mampir ke florist itu. Florista Flowers. Dia betah disini, begitu pun Jelita yang semula heran kini malah merasa terbiasa. Arya betah karena bunga bungaan itu, juga Jelita yang bisa membuatnya begitu nyaman.

 

             Sampai kemudian pada satu hari itu yang tiba-tiba jadi berbeda. Arya mampir ke florist, tapi ternyata tutup. Dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari. Seminggu sudah. Ia menyesal tak sempat bertukar nomor handphone hari hari kemarin. Ia rindu. Rindu pada bunga warna warni itu. Rindu pada senyum puas pelanggan yang membeli bunga di florist itu. Dan yang paling dirindukannya adalah Jelita.

Jelita. Boleh jadi nama itu hanya nama seorang gadis. Tapi kini nama  itu  membuat Arya berbunga – bunga. Bagaimana tidak? Jelita memperhatikannya. Hal yang tidak ia dapatkan bahkan di rumahnya sendiri. Ketulusan yang tidak ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya, yang kadang hanya bersedia ada di saat senangnya dan enggan ada menemani sedihnya. Jelita mungkin adalah sosok yang dirindukannya. Sosok dewasa yang kemudian mulai dicintainya.

 

            Sore itu Arya kembali lagi ke tokok bunga itu. Setiap hari ia ke sana. Setelah tak bosan bertanya ke sana kemari pada toko- toko lain di kanan kiri, hari itu  Florista Flowers  dibuka. Ia melihat Jelita. Ia melihat bebungaan itu. Warna-warni yang dirindukannya, indah yang dirindukannya, wangi yang menentramkan hatinya, penjaganya yang mencuri hatinya.

”Arya apa kabar? Gimana ujiannya, lulus kan?,” tanya Jelita lembut.

”Udah lulus, nilainya juga bagus – bagus. Berkat kakak juga yang udah kasih semangat. Makasih,” jawab Arya seadanya.

”Kemarin cariin aku ya ? Eeh, maksudnya pasti penasaran kenapa toko ini tutup terus, aku sibuk urus pertunanganku, nih udah pake cincin,” ucap Jelita jujur.

Di jalan pulang Arya melamun, padahal ia mengendarai sepeda motor. Ia kecewa, kenapa tak sejak dulu bertemu Jelita, kenapa usianya lebih muda. Pertama kali ia mencoba mencintai seseorang, tetapi sayangnya ia harus terluka.           

 

             Lama waktu berlalu. Setelah hari itu,  Arya tak lagi kembali ke florist itu. Kini sudah hampir satu semester Arya kuliah. Konsentrasi di bidang fotografi. Tapi di hatinya, masih selalu ada nama Jelita.

Hari itu ia lewat jalan itu, lokasi Florista Flowers berada. Florist itu sudah lama tak ia kunjungi semenjak ia tahu Jelita telah bertunangan. Ia mendekat, tapi urung masuk. Kemudian ia sedikit menjauh, memotret florist itu. Memotret bunga bunga itu. Memotret cinta pertamanya, ia lihat Jelita. Enam bulan tak bertemu, ia semakin cantik, rambutnya yang panjang terurai. Ia terlihat semakin dewasa. Arya tersenyum, kemudian memilih pulang daripada menemuinya.

 Beberapa hari setelah hari itu Arya datang ke florist lagi. Kali ini ia masuk ke dalam.

Florista Flowers masih menyambutnya ramah dengan warna warni bunganya. Jelita melihat Arya, Arya melihat Jelita, mata keduanya sendu. Mereka pun saling bicara bertukar kabar, dan hari itu Arya akan membeli seikat bunga.

”Kali ini buat siapa, Ya?” Jelita coba bertanya.

”Buat seseorang yang berarti banget. Yang udah kasih warna warni di hidupku. Khusus buat dia, aku mau kasih Mawar Putih, tanda bahwa cinta aku ini putih dan suci. Dia cinta pertamaku, tapi ternyata cintanya bukan buat aku,” jawab Arya sendu.

Seikat bunga mawar putih lalu diberikan Jelita kepada Arya, tanpa tahu bahwa sebenarnya ialah tujuan bunga itu. Arya meraihnya, menatap sendu pada Jelita, dan menyerahkannya lagi pada Jelita. Keduanya lama terdiam, sampai akhirnya Jelita yang menyerah dan berani buka suara.

”Terima kasih ya, Arya. Beruntung banget aku udah kamu jadiin cinta pertamamu. Pilihan bunga yang tepat. Aku suka banget,” ujar Jelita.

Arya masih saja tetap diam, meski Jelita terus bicara. Jelita tampak sedih melihat Arya hanya diam. Kemudian ia memberanikan diri, sepenuh hatinya, mencium bunga yang baru saja diterimanya dari Arya sepenuh perasaan.

Malam harinya, di kamarnya yang sunyi, Jelita tersenyum kecut pada hidupnya. Ternyata Arya pun adalah cinta pertamanya, tetapi baktinya kepada orang tua lebih ia utamakan. Lagipula Arya lebih muda empat tahun darinya, semua takkan merestui. Jelita terpaksa bertunangan dengan orang yang telah dipilihkan oleh orangtuanya sejak kecil, orang yang baru sekali ditemuinya pada saat pertunangan kemarin. Ini dilema baginya, tak bisa memilih pilihan hatinya sendiri. Malam itu ia menangis sampai pagi.

Arya memang lebih muda darinya, tapi Jelita selalu dibuatnya merasa terlindungi. Arya lebih dewasa dibanding usianya, boleh jadi dikarenakan perceraian orang tuanya saat ia masih kecil. Ia bentuk  pribadinya sendiri yang merasa terluka dan terbuang. Yang membuat Jelita sangat kagum,  Arya tak melarikan diri dari kenyataan itu, ia bisa tetap menjadi pribadi yang baik dengan luka yang begitu dalam di hatinya. Pada Jelita, Arya menemukan kelembutan yang begitu dirindukannya. Pada Arya, Jelita menemukan ketegaran yang luar biasa. Tapi keduanya tak bisa melawan takdir Tuhan.

 

             Hari itu Sabtu. Arya biasa melepas penatnya dengan berkeliling kota dengan sepeda motornya, dengan kamera kesayangannya. Ia berhenti di sebuah taman dan mulai memotret. Ia memotret para pengunjungnya, lampu taman, kolam air mancur. Ketika memotret seseorang di bangku taman, ia baru sadar mengenali orang itu. Arya menghampirinya.

             Di bangku taman itu ia duduk. Diam. Menunggu seseorang yang duduk di ujung bangku yang juga didudukinya berhenti menangis. Jelita, Arya tahu itu dia. Arya setia menemani tanpa bicara, dan akhirnya Jelita sadar ada orang di dekatnya, yang duduk dan diam, tak beranjak dari awal ia menangis. Ia tahu itu Arya.

”Terima kasih. Aku kehilangan kamu yang enggak datang – datang lagi ke Florista Flowers. Padahal besok enggak akan ada lagi nama itu, florist itu. Aku akan pergi ke Palembang secepatnya,” Jelita berkata sambil menahan pilu. Berat baginya harus meninggalkan Arya sendirian tanpa mengizinkan Florista Flowers menemaninya di Jakarta. Jika ia biarkan Florista Flowers tetap ada tanpanya, ia takut Arya jadi lebih terluka.

 Jelita tersenyum. Dan Arya masih tetap diam. Keduanya diam, kemudian menoleh. Dan mata keduanya bertemu. Kikuk. Keduanya berpaling, keduanya berdiri, berusaha tersenyum pada hati mereka masing – masing. Keduanya pergi berlawanan arah, dan mata keduanya berair, menangisi sesuatu. Hati mereka menyimpan sesuatu. Cerita yang harus berakhir bahkan sebelum cerita itu dimulai.

Mulai besok tidak akan ada lagi ”Florista Flowers”..........................

 

 “ Cintaku ku lihat

  Warnanya masih putih

  Tak ada warna warni indah bunga-bunga itu.....

                         

  ( Arya ).

 

(Cerpen pertama yang dibuat lima tahunan lalu)

 Gambar

 

Dilihat 58