PUISI 100 JUTA

Nunu Azizah
Karya Nunu Azizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Desember 2016
PUISI 100 JUTA

Ada seorang yang sedang belajar menulis. Menuliskan tentang hati dan pemikirannya, yang berarti juga tak langsung sedang belajar membaca dan mendengarkan keadaan. Dia masih muda. Belum dewasa dan bukan lagi anak-anak. Ia menulis puisi. Ia senang mengumpulkan kata-kata, yang dirangkainya sederhana dan bisa memberikan arti. Menghasilkan nyawa-nyawa baru untuknya. Anak muda ini sudah beberapa kali mati, jiwanya lebih tepatnya. Dimatikan oleh kehidupannya yang masih berjalan. Dimatikan keadaan-keadaan yang memaksanya menyerah. Puisi yang selalu berperan menghidupkannya kembali.

            Anak muda ini beruntung masih memiliki hati. Hatinya beruntung masih memiliki nurani. Hati dan nurani selalu memberinya cahaya lembut yang membelai. Anak muda, hati dan nurani, dan puisi menjadi belahan jiwa satu sama lain. Hati dan nurani terus membisikkan anak muda kata-kata yang menjadikan puisi. Tak terasa ada seratus buah puisi yang dihasilkan si anak muda. Sudah ada seratus nyawa baru setiap kali kematiannya merenggut hidup jiwanya.

            Suatu kali si anak muda merasa sia-sia tiba-tiba. Ia merasa puisi-puisinya, pahlawannya, disia-siakan mereka. Mereka tidak membaca puisinya. Tidak ada pujian untuk puisinya. Ia hanya ingin dihargai, puisi-puisinya diapreasiasi. Diberikan satu komentar saja atau satu senyum saja. Tapi tidak terjadi. Di dunianya, anak-anak dan dewasa juga yang seusianya tidak membutuhkan puisi. Si anak muda sedih memikirkan ini sepanjang detik, menit, jam, dan hari yang berlalu terus. Sampai pada satu ketika, anak muda dan keluarganya membutuhkan uang sangat banyak untuk membayar sebuah kelalaian yang terjadi atas nama keluarganya, yang dilakukan orang licik yang membodohi keluarganya. Ia tidak bisa membantu apa pun. Marah dan terus mengumpat serta bersumpah tidak akan tumbuh menjadi orang licik yang membodohi keluarganya.

            Puisi menolongnya. Puisi-puisinya bahkan tidak cuma menolong si anak muda sendiri, tapi juga keluarganya. Ia bertemu entah di mana, ia ditemukan entah oleh siapa, seseorang itu. Seseorang itu sedang mencari puisi-puisi, ingin membelinya. Ia sangat butuh sebanyak mungkin puisi. Entah untuk apa. Si anak muda menceritakan tentang puisi-puisinya. Seseorang itu bersedia membeli puisi-puisinya. Si anak muda punya seratus buah puisi, dan si seseorang itu ingin membeli semuanya, satu juta rupiah per puisi. Berarti 100 juta akan dimiliki anak muda itu. Ia senang sekaligus sedih. Ia akan senang karena akan bisa membantu keluarganya dengan uang sebanyak itu. Tapi ia juga sedih karena takut menganggap seseorang itu akan menganggapnya penjual puisi, mengharapkan uang dari puisi. Padahal si anak muda murni menulis dan mencintai puisi-puisinya. Ia hanya bukan orang kaya yang kebetulan memang sedang sangat membutuhkan uang. Si anak muda tidak tahu kalau si seseorang itu sangat memahaminya. Si anak muda berterima kasih pada seseorang itu, yang entah apa benar manusia, atau malaikat, atau orang gila, yang dengan mudahnya mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mau membeli puisi-puisinya.

           

 

 

  • view 408