REVOLUSI PERTANIAN MALAKA: JALAN MENUJU PERUBAHAN

REVOLUSI PERTANIAN MALAKA: JALAN MENUJU PERUBAHAN

Brita  Akurat
Karya Brita  Akurat Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Desember 2017
REVOLUSI PERTANIAN MALAKA:  JALAN MENUJU PERUBAHAN

;REVOLUSI PERTANIAN MALAKA:  JALAN MENUJU PERUBAHAN

Pada postingan media online penulis membaca banyak  diskusi dan polimik tentang revolusi pertanian Malaka. Polimik ini muncul dari postingan tentang kutipan pandangang umum Fraksi Gerindra point ke 7 atas Raperda Kabupaten Malaka tahun 2018.  Penggalan pemahaman atas istilah "revolusi pertanian" mengundang diskusi panjang. Penulis tidak bermasksud memihak atau memposisikan diri pada salah satu pendapat dalam polimik tersebut. Ini insiprasi bagi penulisis untuk mencoba menulis secara gamblang istilah revolusi dalam konteks pertanian Malaka.

Satu dari beberapa program unggulan paket SBS-DA yang menjadi �jurus jitu� bagi kemanangan paket ini dalam perhelatan politik Kepala Daerah Kabupaten Malaka tahun 2015 silam adalah REVOLUSI PERTANIAN MALAKA (RPM). Program ini kemudian terealisasi menjadi progarm prioritas dalam program kerja lima tahunan dari roda pemerintahan Kabupaten Malaka dibawah kendali SBS-DA.

Pemahaman atas program Revolusi Pertanian seharusnya berangkat dari pemaknaan atas istilah "Revolusi". Ketika kita bicara revolusi tujuannya mengarah pada perubahan; dikeranakan kata revolusi dibentuk dari kata perubahan, namun perubahan apa yang dimaksudkan disini?

Dalam masyarakat, dunia pendidikan, astronomi, pemerintahan, bahkan sampai pada dunia perindustrian dan pertanian ternyata istilah ini sering kali digunakan, contohnya adalah Penamaan perputaran bumi yang mengelilingi matahari disebut Revolusi Bumi. Lebih jauh lagi, istilah ini digunakan juga pada bidang pertanian, yaitu Revolusi Hijau dan lain sebagainya.

Istilah Revolusi Dalam Konteks Pertanian Malaka
Revolusi adalah sebuah perubahan yang terjadi secara cepat atau dalam kurun waktu yang tidak lama pada bidang tertentu, terjadi bisa dikarenakan faktor kesengajaan (dalam program perencanaan yang matang) ataupun tidak disengaja sama sekali. Pada intinya adalah adanya perubahan yang terjadi secara cepat. Revolusi bisa terjadi pada banyak hal seperti pada kehidupan, budaya, maupun ekonomi dan tentunya dalam setiap bidang memiliki makna berbeda.
Contohnya Revolusi Bumi yang berarti perputaran bumi mengelilingi matahari selama satu tahun dan Revolusi Hijau yang berarti perubahan pada bidang teknologi budidaya tanaman. Ada juga Revolusi Mental, Revolusi Prancis,  Revolusi Industri dan masih banyak lagi.
Intisari dari istilah revolusi adalah perubahan. Ada dua model perubahan yang harus dipahami secara baik dari istilah revolusi. Perubahan yang terjadi dengan cepat (tiba-tiba) dan perubahan yang terjadi bertahap (seseuai perencanaan). 

Pemerintah meminjam istilah revolusi untuk perubahan pertanian Malaka dalam kurun waktu 5 (lima) tahun. Perubahan pertanian tentu berhubungan dengan aspek-aspek pertanian seperti pola bertani atau bercocok tanam, model penggunaan teknolgi pertanian, model pemelihan jenis komuditi, model pengelolaan lahan dan lain-lain.

Perubahan yang dimksud haruslah mengena pada aspek-aspek ensensial dari pertanian. Tujuan akhir dari penggunaan istilah revolusi dalam konteks pertanian Malaka mengarah pada pengelolaan lahan yang lebih intensif agar mencapai hasil yang efektif dan berkelimpahan. Tujuan ini tentu tidak akan tercapai dalam waktu yang tidak singkat. Revolusi terjadi secara bertahap dan terencana. Dimulai studi kelayakan lahan oleh para tenaga ahli, penyedian sarana prasaran atau teknologi pertanian sampai pada model pengelolaan dan pemilihan komuditi pertanian dan varietas unggul.

Revolusi Pertanian: Belajar dari Sejarah Bertani di Malaka
Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan demikian mendorong kemunculan peradaban. Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian.

Setiap bagian di dunia memiliki perkembangan penguasaan teknologi pertanian yang berbeda-beda, sehingga garis waktu perkembangan pertanian bervariasi di setiap tempat. Di beberapa bagian di Afrika dan Asia Tengah masih dijumpai masyarakat yang semi-nomaden (setengah pengembara), yang telah mampu melakukan kegiatan peternakan atau bercocok tanam, namun tetap berpindah-pindah demi menjaga pasokan pangan. Sementara itu, di Amerika Utara dan Eropa traktor-traktor besar yang ditangani oleh satu orang telah mampu mendukung penyediaan pangan ratusan orang.

Masyarakat Malaka memiliki peradaban teknologi pertanian yang berkembang menurut gerak zaman. Dimulai dari parang, tajak, suak, besi ta/pacul, luku dan lain-lain. Keberadaan teknologi pertanian tersebut menjadi patokan untuk mengukur keberhasilan revolusi pertanian. Pengadaan tenklogi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan pertanian modern menggantikan suak dan pacul atau besi ta seharusnya dicatat sebagai sebuah langka menuju perubahan.

Secara matematis dapat dibuktikan dengan lamanya persiapan lahan (cetak lahan) dengan teknologi suak dan pacul/besi ta dengan teknologi taktor. Teknologi suak, pacul yang digunakan untuk mencetak lahan 1 HA dapat diselesaikan dalam waktu 2 atau 3 hari. Sedang ketika menggunakan teknologi traktor yang disediakan pemerintah dapat menghabiskan lahan seluas 3000-an hA dalam kurun waktu 2/3 bulan. Ini semestinya dicatat sebagai sebuah langka maju dalam menunjung para petani menyiapkan lahan pertanian.

Data mencatat bahwa permerintah dalam belanja pengadaan teknologi pertanian telah mengahadirkan 20 unit tractor untuk kebutuhan pertanian masyarakat. 20 unit traktor tersebut dalam pemanfaatannya untuk persiapan lahan secara bertahap; tahun 2016 seluas 634,12 HA dan tahun 2017 seluas 2,307 HA. Ini tahapan dari revolusi pengeloloaan lahan pertanian secara cepat dan efektif bila dibandingkan dengan pemenfaatan teknologi tradisional.

Keberadaan teknologi pertanian seperti ini yang didukung oleh beberapa peralatan lain seperti alat tanam padi dan peralatan lain merubah arah pertanian malaka secara bertahap kepada model pertanian yang lebih modern dan kontekstual. Ini bisa dibaca sebagai bagian dari tahapan positif �revolusi pertanian�. Pertanian malaka sedang bergerak ke arah yang lebih modern.

Ketersedian alat penunjang dari teknologi pertanian memaksa unit teknis dalam hal ini Dinas Pertanian dan Perkebunan untuk mengoptimalisasi ketersediaan sarana teknologi pertanian yang ada. Optimalisasi dimaksud dimulai dari persiapan lahan sampai pada tahapan:  tanam, pemeliharaan dan panen. Optimalisasi teknis harus bermain dalam konteks totalitas Artinya bahwa Dinas teknis mendampingi para pemanfaat lahan pertanian (para petani) mulai dari persiapan, pengelolaan lahan sampai pada pemeliharaan.

Tahapan penting yang harus diwaspadai oleh dinas teknis adalah penentuan awal musim tanam dan pemetaan daerah rawan bencana seperti banjir, tanah longsor. Penentuan musim tanam yang tepat sesuai dengan keadaan curah hujan mendukung para petani lahan kering dan lahan basa untuk memperoleh hasil yang maksimal. Keuntung dari penentuan musim tanam yang tepat dapat menjauhkan para petani dari musibah gagal penen.

Selain penentuan musim tanam yang tepat, pemetaan daerah rawan bencana menjadi sangat relevan untuk kodisi alam beberapa daerah dataran rendah, seperti, Fafoe, Sikun, Motaain, Lawalu, Fahiluka dan yang lain. Pemetaan ini dimaksud untuk pemelihan jenis komuditi pertanian yang sesuai dengan kondisi atau jenis komuditi yang tahan banjir. Hal teknis ini penting untuk mendukung �revolusi pertanian� agar  lahan yang telah tersedia tidak mubasir.

Adapun hal-hal teknis seperti disebutkan di atas menjadi tanggungjawab dinas teknis untuk bekerja secara total �memaksa� masyarakat menganggapi secara serius apa yang telah dimulai dalam konsep dan gerakan �revolusi pertanian Malaka� dan terus mensosialisasikan  hal-hal teknis berkaitan dengan keberhasilan pertanian. Keberhasilan dari beberapa tahapan yang digambarkan di atas akan dapat diukur dengan hasil panen yang melimpah.
Penilaian atas keberhasilan revolusi pertanian Malaka harus dilihat secara kompleks sesuai tahapannya. Indikasi keberhaslian dapat dinilai dari persiapan lahan dan tahapan-tahapan yang menunjang sampai pada pembuktian hasil panenan.

Melianus Servinus Leki
Bolan, 04/12/2017

  • view 245