Media Sosial Membentuk Guru Kekinian Refleksi Hari Guru 25 November 2017

Brita  Akurat
Karya Brita  Akurat Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 November 2017
Media Sosial Membentuk Guru Kekinian Refleksi Hari Guru 25 November 2017

Media Sosial Membentuk Guru Kekinian
Refleksi Hari Guru 25 November 2017

KEBERADAAN guru belakangan ini, jujur atau tidak, selalu menimbulkan pro dan kontra. Pro karena profesi guru saat ini lebih menjanjikan. Ada peningkatan kesejahteraan bila dibandingkan dengan era dulu. Kontra karena ada kecenderungan yang terjadi. Mayoritas guru telanjur menikmati profesi sehingga lupa berkreasi dan berinovasi. Mereka hanya melakukan rutinitas mengajar, kemudian pulang ketika jam kerja sudah berakhir.



Tentu ada pertanyaan susulan yang menjadi permasalahan mendasar. Bagaimana peran guru di era teknologi informasi, khususnya di tengah maraknya media sosial (medsos)?
Medsos dalam Pembelajaran

Tanggal 25 November selalu diperingati sebagai Hari Guru secara nasional. Namun, problematika pendidikan pada umumnya dan guru pada khususnya selalu berkembang, bahkan menjadi bahan obrolan yang tak habis-habis. Baik yang menyangkut tata kelola pendidikan, kurikulum, anggaran, sumber daya manusia, peserta didik, maupun guru selaku pendidik.

Khusus terkait dengan guru, dalam sambutan peringatan Hari Guru tahun lalu Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa guru harus selalu bisa maju dengan cara memberi inspirasi dan menginspirasi para siswa (peserta didik). Dengan cara itu, guru bisa menjadi garda depan dalam perubahan ke depan, khususnya mencerdaskan anak bangsa. Dengan kata lain, guru bukan hanya pekerjaan, akan tetapi pengerak perubahan masa depan. Dalam konteks yang demikian, guru sangat memengaruhi perilaku para siswanya.

Guru sampai saat ini tetap menjadi bahan perbincangan menarik. Baik menyangkut peran, tugas, maupun kesejahteraan. Karena itu, tidak mengherankan apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa guru harus dapat digugu dan ditiru. Hal tersebut mengandung makna bahwa guru adalah sosok orang yang selalu memberikan keteladanan dalam hal ucapan maupun perilaku sehari-hari.

Nah, bagaimana langkah yang sebenarnya harus dilakukan oleh guru, seperti apa yang disampaikan? Tentu saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Martha Kaufeldt (2008: 19–20) dalam bukunya yang berjudul Wahai Para Guru, Ubahlah Cara Mengajarmu. Risetnya telah memperlihatkan bahwa pengalaman belajar dengan metode yang jelas akan mempercepat pertumbuhan otak. Artinya, para siswa perlu diajari kaitan otak dan perkembangan mereka. Mengapa demikian? Sebab, dengan cara itu, tiap anak akan memiliki ruang dan waktu dalam memahami potensi diri dan pelajaran yang mereka peroleh. Dengan demikian, para siswa akan mendapatkan lebih banyak kesempatan dari pengalaman diri sendiri dan orang lain yang telah dialaminya secara langsung maupun tidak.

Tentu ada beberapa hal yang perlu dipahami bersama. Pertama, sudah saatnya guru selalu mengedepankan inovasi pembelajaran, khususnya dalam metode dan cara mengajar. Guru harus selalu mau mengubah dirinya dan gaya mengajarnya. Guru harus bisa merespons perkembangan dan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif. Dengan cara itu, pembelajar, dalam hal ini siswa, dapat memperoleh sesuatu dengan cermat dan tidak membosankan. Dengan demikian, guru senantiasa menjadi pengajar, pendidik, penginspirasi, dan penggerak bagi sebuah kemajuan dalam pembelajaran dan kemajuan bangsa.

Kedua, memanfaatkan media sosial sebagai media pembelajaran yang efektif. Misalnya Facebook, Line, Instagram, WA, dan sejenisnya. Dengan memanfaatkan apa yang ada, yang berkaitan dengan teknologi, sekaligus bisa diminimalkan dampak negatif keberadaan media sosial. Sebab, bagaimanapun keberadaan media sosial kalau tidak dibendung akan berdampak negatif bagi perkembangan psikologis anak. Hal itu menjadi upaya untuk mengedepankan layanan pembelajaran yang berkualitas. Sekolah sebagai satuan pendidikan akan terkonsentrasi dalam memberikan layanan yang lebih berkualitas dalam pembelajaran dan bimbingan berbasis teknologi informasi yang berkembang seperti saat ini.

Lantas, bagaimana agar pembelajaran atau proses mengajar seorang guru bisa menjadi sebuah praktik terbaik yang bisa menginspirasi sehingga siswa yang diajar dapat dengan mudah memahaminya? Paling tidak, pertama, guru mengajak siswa punya kreativitas dan berprestasi. Guru harus dapat mengembangkan metode, pendekatan, stategi pembelajaran di kelas. Dengan begitu, guru menjadi sosok yang cakap dalam kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional. Artinya, guru yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran harus mengemasnya secara berkelanjutan. Dengan demikian, guru mulia karena karya terbaiknya dalam mendidik, membimbing, dan memberikan motivasi bagi keberlangsungan hidupnya kelak.

Kedua, guru melatih siswa dalam pemecahan masalah. Mengapa itu juga penting untuk ditekankan dalam pembelajaran? Sebab, dengan metode atau strategi yang tepat, secara tidak langsung siswa juga dapat merasakan problematika yang ada pada mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. Pada tataran yang demikian, siswa akan terlatih dalam memahami sekaligus tahu bagaimana mencari pemecahan masalah.
Ketiga, guru selalu menanamkan etos kerja yang berdedikasi dan kesempatan belajar seumur hidup. Artinya, dalam melakukan pembelajaran, guru dapat meyakinkan pada diri siswa bahwa belajar tidak mengenal waktu, usia, juga tempat. Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Thomas L. Friedman, penulis The World is Flat. Mengacu pada dunia abad ke-21 yang akan sangat berbeda dari masa ketika kita dididik. Artinya, memberikan pembelajaran kepada siswa pada hari ini tentu akan bermanfaat pada kehidupannya kelak. Kehadiran guru yang inovatif dalam pembelajaran tentu akan mencetak generasi emas yang berkarakter kuat serta tidak menjadi beban politik dan sejarah peradaban bangsa. Ke depan, bangsa ini menjadi bangsa pemenang berjiwa positif, kreatif, berani bersaing, serta tetap berbudi pekerti luhur.

Para guru yang terlibat dalam dunia pendidikan harus memiliki inovasi dan prestasi yang berkelanjutan. Guru mulia, berdedikasi, dan berprestasi karena manfaat karyanya bisa dirasakan oleh siswanya. Pengarusutamaan pendidikan karakter harus dapat menangkal arus informasi yang negatif. Apalagi, sekarang lagi marak hoax dalam medsos. Tuntutan agar guru tetap dominan dalam menjalankan peran sebagai pembimbing dan motivator di tengah ”pintarnya” Google serta medsos adalah sebuah kebutuhan mendesak. Guru yang ”kekinian” sangat relevan sebagai pionir dalam berkarya, khususnya mengawal peradaban bangsa di tengah teknologi informasi yang dinamis. (*)

Oleh : Oktavianus Seldy Ulu Bere, S.Pd
Sabtu, 25 November 2017 05:53
Refleksi Hari Guru Nasional 2017

  • view 123