Pengakuan

Neodimium Al Badri
Karya Neodimium Al Badri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 September 2017
Pengakuan

Ini adalah sebuah cerita yang berisi pengakuan.

 

 

Cerita ini berawal dari seseorang.

Seseorang yang pernah mengenalkan saya pada tulisan-tulisan penulis bernama Fahd Pahdepie. Tanpa disadari tulisan-tulisan Mas Fahd membuat saya tersihir, termasuk tulisan-tulisan terkait keluarga kecilnya. Ia memiliki seorang istri bernama Mbak Rizqa dan dua anak laki-laki bernama Kalky dan Kemi. Keluarga kecil mereka terlihat sempurna dan bahagia.

 

Dia, orang yang mengenalkan saya pada tulisan Mas Fahd maksud saya, hanya seorang manusia dengan berbagai kekurangan, sama halnya dengan diri saya. Ada  banyak sifat dan sikap yang tidak saya suka darinya. Jujur saja, saya tak punya perasaan berbeda terhadap lelaki ini. Bagi saya dia tak lebih dari seorang sahabat, ya, sahabat baik. Sampai hari itu, saya tidak siap untuk memiliki perasaan-perasaan aneh. Tidak bisa. Tidak boleh. Begitu pikir saya. Akhirnya terlupakanlah perasaan itu, tenggelam diantara kesibukan mengejar gelar sarjana di bidang *****.

 

Hingga…

Suatu ketika saya mendapati diri saya berangan bahwa lelaki itu akan menjadi seperti Mas Fahd, dan saya ingin menjadi Rizqa-nya. Kami bisa hidup bahagia dengan memiliki anak-anak seperti Kalky dan Kemi, ditambah dua anak perempuan hingga anak kami genap menjadi empat. Cita-cita saya adalah menjadi seorang ibu dari empat anak. Ya, tidak sama seperti keluarga Mas Fahd-pun tak apa, biar saya membantunya mengukir kisah yang berbeda dan tak kalah indahnya.

 

Tapi, harus saya akui saya masih belum siap untuk percaya pada lelaki, siapapun dia. Dan lagi, Tuhan saya melarang hambanya menggantungkan harapan kepada selain Dia. Maka, biarlah. Biar saja harapan ini tenggelam hingga saya dan dia siap dengan segalanya. Jika suatu hari dia datang, maka saya mungkin tak kan menolaknya.

 

Sayang..

Pada suatu hari yang cerah, saya diberitahu olehnya bahwa ia telah memiliki pujaan hati, dan tentu saja, bukan saya orangnya. Kalau boleh jujur, saya sungguh tak apa-apa. Hanya saja hati saya tiba-tiba berada di luar kendali otak. Ya, hati memang tak bisa berdusta  dan air mata berbanding lurus dengannya. Maka, saya izinkan diri saya untuk menikmati rasa sakit yang entah datang dari mana, hanya untuk hari itu saja.

 

Dan, benar! Mudah bagi saya untuk melupakan perasaan itu. Perasaan yang tidak ingin dan tidak bisa saya akui. Terlebih ada Allah, Sang Pemerhati. Dia tidak akan mengkhianati janji kepada hamba-Nya yang taat, bukan?

 

Baiklah, saya akan menganggap ini sebagai kisah yang telah berakhir meski sebenarnya -bahkan- belum pernah dimulai.

 

Saat ini, hanya untuk saat ini, saya izinkan harapa-harapan saya menghinggapi lelaki ini. Di usia saya kini, saya yakin bahwa saya sudah siap dan mampu menyikapi perasaan ini dengan baik.

 

Kalau dipikir-pikir, bukankah harus ada seseorang yang menarik garis agar jelas batas yang ada? Jika lelaki ini tak bisa, maka biarlah saya yang melakukannya.

 

Detik ini,

 

Saya akui,

 

Saya pernah berharap dia datang ke sisi,

 

Saya pernah berharap kami bisa membuat bersama kisah kami,

 

Saya pernah berharap dia mampu menjadi lelaki yang saya bisa percayai,

 

[Bahkan] Saya pernah merasa sakit saat ia memiliki pujaan hatinya sendiri.

 

Benar. Sekarang saya telah memulainya.

 

Dan,

 

 

Disaat yang sama,

 

 

 

 

 

izinkan saya untuk mengakhirinya.

 

Saya memang pernah menyimpan perasaan. Kini, saat ia kembali datang [mungkin] dengan penyesalan, saya sudah menjatuhkan pilihan. Pilihan untuk  tetap sendiri hingga seseorang dikirim Tuhan untuk melindungi jalan saya dan merangkai kisah yang indah, Sehidup Sesurga. Tentu saja, saya harap itu bukan dia.

 

 

 

Dari:

Yang pernah tak ingin mengaku patah hati,

-Neodimium

  • view 34