Anakku adalah keajaibanku (bagian 2)

Nelia  Hamid
Karya Nelia  Hamid Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Januari 2017
Anakku adalah keajaibanku (bagian 2)

Assalamualaikum Bunda...

#bagian 2

Detik itu juga, kami langsung bergegas menuju RS terdekat untuk melakukan second opinion (pendapat kedua). Setelah beberapa jam saya menunggu giliran dengan perasaan cemas dan beban sakit yang kurasakan, kulangkahkan kakiku menuju ruang periksa. Kulihat sekeliling, ternyata dr.I yang kumaksud tidak ada. Disana hanya ada dr. asisten pengganti dr.I karena dr.I masih berada di klinik tempatnya buka praktek. Saya pun diperiksa dengan menggunakan metode colok vaginal, lalu beliau menjelaskan bahwa keadaan rahim saya baik-baik saja dan tidak perlu melakukan kuret karena mulut rahim belum terjadi pembukaan sehingga bakteri ataupun penjelasan dr.W dan asistennya terbantahkan. Beliau hanya menyarankan saya untuk menunggu sampai usia kandungan 8 minggu. Sayangnya, saya tidak bisa melakukan pemeriksaan USG karena kebetulan alat USG nya rusak jadi saya disarankan melakukan pemeriksaan radiologi di RS setempat. 

Setelah mendapat persetujuan suami, akhirnya saya menyetujuinya karena saya ingin memastikan keadaan janin saya ada dan baik-baik saja. Tetapi, untuk kedua kalinya pemeriksaan pun berakhir tragis (itu yang saya rasakan) karena pemeriksaan radiologi tidak semudah pemeriksaan biasa. Harus mendapatkan persetujuan dari beberapa pihak, terlebih jadwal pemeriksaan sudah penuh. Saya pun diharuskan untuk membuat jadwal terlebih dahulu untuk melakukannya. 

Akhirnya, keputusan terakhir pun diambil setelah berbincang dengan suami saya. Kami pun bergegas menuju klinik pribadi dr.I dan melakukan pendaftaran untuk pemeriksaan di sore hari. Berjam-jam menunggu saatnya tiba, sampai akhirnya saya tiba di ruangan periksa. Saya pun menceritakan dan memberikan bukti keadaan janin saya, lalu dengan perlahan beliau memeriksa melalui alat USG. jantungku berdegup kencang, perasaan bercampur aduk seperti gado-gado. Beliau memutar-mutar alat USG, kulihat keadaan rahimku melalui layar monitor. Memang sedikit agak lama, lalu beberapa menit kemudian beliau meletakkan alat USG tepat di rahim sebelah kanan bawah. Disanalah janin saya berada walaupun saya sendiri tidak bisa melihat kehadirannya di layar monitor.

Untuk lebih memastikan keadaan janinnya, dr.I menyarankan melakukan USG transvaginal  atau biasa disebut USG trans-v  (metode USG melalui mulut vagina). perasaan saya tambah nano-nano tidak karuan. Perasaan takut kerap menghampiri, takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Tidak lama kemudian, gambar seperti kedelai ahhh mungkin lebih kecil dari itu tergambar di layar monitor. Ia... Itulah janinnya, dr.I pun menjelaskan bahwa keadaan janin saya sedang kritis karena pendarahan, tetapi janinnya masih ada.

Untuk lebih dan lebih meyakinkan apakah janinku bisa dipertahankan, dr.I melakukan pemeriksaan detak jantung janin. Detak jantung nya normal walaupun keadaan nya sangat kritis. dr.I memberikan obat oral, obat yang harus dimasukan melalui miss v, dan mengharuskan saya untuk bedrest total sampai pendarahan ataupun flek nya berhenti. Selama 7 hari, saya bedrest total tanpa melakukan kegiatan apapun bahkan untuk ke toilet pun saya harus berjalan sangat pelan dan makan pun saya lakukan di tempat tidur.

***

Sekarang, usia kandungan saya menginjak usia 38 minggu. Saat-saat menegangkan menjelang persalinan. Perlengkapan melahirkan dan baju bayi pun sudah dipersiapkan. Mulas-mulas dan kontraksi sudah mulai terasa. Saya pun memeriksakan kembali untuk kesekian kalinya setelah pendarahan yang mengharuskan untuk bedrest total dan sakit asma yang tiba-tiba muncul setelah saya mengalaminya pada tahun 2008. Kali ini saya mencoba memeriksakan kandungan ke klinik terdekat dari rumah baru saya, sebut saja dr.M. Alhamdulilah letak janin normal, kepala sudah masuk panggul dan berat badan nya sudah ada di kisaran lebih dari 3000gr, dan sudah mulai pembukaan walaupun masih pembukaan 1.

1hari, 2 hari, 3 hari telah saya lewati sampai berulang kali bolak balik bidan untuk mengetahui perkembangan pembukaan persalinan. Saya mencoba untuk melahirkan di rumah, dikarenakan klinik dan RS lumayan jauh dari rumah baru saya dan saya mau mencoba merasakan bagaimana melahirkan tanpa induksi infus oksitosin yang pernah dirasakan ketika persalinan anak pertama. Kali ini, saya harus merasakan persalinan normal tanpa induksi seperti kebanyakan wanita lain. 

***

Pada tanggal 18 maret, saya kembali memeriksakan kehamilan ke klinik dr.I. Setelah pemeriksaan tetap saja kehamilanku masih ada di level pembukaan 1. Beliau menganjurkan untuk proses induksi karena usia kehamilan saya sudah masuk usia matang. Tetapi, saya menolak karena masih bisa diusahakan dengan induksi alami. 

Selama beberapa hari saya berupaya melakukan induksi alami dengan berjalan kaki sambil jalan-jalan main dengan anak pertama, senam ibu hamil sampai gaya jongkok pun saya lakukan. His (mulas-mulas) sudah mulai sering terasa, hampir setiap 4 jam sekali sudah mulai merasakan kontraksi tetapi untuk kesekian kalinya bidan mengatakan masih pembukaan 1 atau kontraksi palsu. Sampai pada akhirnya, hari senin malam tanggal 21 maret mulai jam 6 sore. His pun mulai sering terasa, kontraksi dan perasaan was-was menghampiri silih berganti.

Tepat pukul 2 dini hari, kontraksi pun menghebat dan his tak henti-hentinya. Saya mengejang hebat karena kesakitan, suami pun mengelus-elus pinggul saya yang mulai memanas. Sekarang kah waktu nya, itu lah yang terbersit dalam pikiran saya. Tetapi, bagaimana jika masih pembukaan 1 atau kontraksi palsu dan mengharuskan untuk pulang kembali. Ahhh lelah rasanya... Saya pun menguatkan kembali dan menghitung waktu kontraksi. Tidak lama kemudian, kontraksi menggila dan saya pun mengejang seketika menahan sakit, blessss seperti balon meletus. Keluarlah air merembes dari miss v. Ya Allah inikah air ketuban? Sambil menenangkan diri, saya cium bau air yang merembes di baju. Bau hambar hampir bau amis terasa di hidung. Sontak seketika saya menjerit lalu membangunkan suami dan seisi rumah.

Tidak banyak pikir, kami langsung menuju bidan yang dipercaya selama kandungan kedua ini. Sesampainya disana, perlengkapan persalinan mulai dipersiapkan. Bu bidan pun mulai memeriksa pembukaan persalinan. Tetapi, apalah daya pembukaan masih ada di tahap pembukaan 2 lebih hampir mau pembukaan 3. Saya diharuskan menunggu pembukaan sampai pembukaan lengkap (10) sampai jam 5 pagi. Tetapi, perasaan saya sudah mulai dihinggapi berbagai perasaan dan was-was yang teramat dalam. Bagaimana tidak, air ketuban saya sudah pecah bagaimana jika sampai jam 5 tetap pembukaan 2, atau bayi saya keracunan seperti banyak pengalaman-pengalaman teman yang mengalami pecah ketuban. Saya langsung menolak permintaan bu bidan, dan saya merekomendasikan untuk diantar ke klinik tempat dr.I membuka praktek.

Setelah kurang lebih 45 menit di perjalanan, akhirnya kami sampai di klinik dr.I. Sesampainya disana, saya langsung disambut suster yang menangani persalinan. Saya memasuki ruangan bersalin untuk kedua kalinya. Disebelah kanan sudah ada ibu-ibu yang sedang di induksi menunggu pembukaan lengkap. Perasaan tambah tegang, takut, dan was-was. Bagaimana tidak saya hanya ditemani suster, dan bidan saja. Suami saya tidak diperkenankan masuk dan disarankan untuk shalat subuh dan membeli perlengkapan pasca persalinan. Apapun yang kami beli untuk persiapan pasca persalinan, semuanya tertinggal dirumah karena terburu-buru.

Saya pun dibaringkan, lalu suster memeriksa pembukaan nya. Tidak disangka-sangka, suster mengatakan bahwa bayi yang saya kandung letaknya sungsang atau lebih dikenal nomblo (kata orang sunda) karena pantat terletak di bawah  dan pembukaannya pun masih pembukaan 3. induksi lagi pikir saya? Ahhh... Ternyata benar saja suster sudah membawa infusan untuk membantu pembukaan persalinan saya. Yang saya pikirkan tatkala itu adalah bagaimana caranya agar bayi lahir normal. Dengan sekuat tenaga, saya mengejan sesuai arahan suster dan bidan yang mengantar saya. 

Tidak sampai 1 jam, pembukaa sudah meningkat jadi pembukaan 5. Sampai akhirnya jam 5.25 pagi, anak kedua saya lahir dengan selamat secara normal. Bayi berjenis kelamin laki-laki, dengan berat 3100gr dan panjang 48cm.

Inilah perasaan dan pengalaman saya ketika mengandung anak ke dua. Perasaan yang mungkin dirasakan hampir sebagian besar wanita yang mengalami hal seperti saya. Ikhtiar, do'a dan keyakinan kuatlah yang menjadikan kami bisa melewatinya sampai akhir. Alhamdulilah syukur saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Atas segala kuasaNya, saya dan anak saya bisa sampai tahap ini. Setelah mengalami kejadian-kejadian selama kehamilan dan persalinan anak kedua, saya meyakini bahwa keajaiban itu ada, apapun tidak ada yang mustahil bagi Nya.

  • view 110